Opini
Wali Nanggroe ‘Unfinished Story’
PADUKA Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haytar telah dikukuhkan dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRA,
Integritas moral
Akhirnya, integritas moral berbasis keacehan pascakonflik menjadi hal penting, bukan saja bagi politisi mantan kombatan, masyarakat juga dituntut untuk lebih cerdas dalam merespons janji dan cerita dari para politisi. Hasan Tiro dalam kata pengantar bukunya Demokrasi Untuk Indonesia (1958), menulis bahwa “akhir-akhir ini masyarakat kita sudah terlalu banyak dijadikan sasaran propaganda menyesatkan, dengan memakai alat-alat penerangan negara, yang mencoba memindahkan masalah-masalah negara kita yang maha penting dari alam pikiran ke alam perasaan.”
Semoga saja, Malik Mahmud yang telah dikukuhkan sebagai Wali Nanggroe itu, tidak mencoba memindahkan alam pikiran rakyat Aceh untuk memilih golongan tertentu dengan alat negara yang melekat padanya. Kita percaya bahwa pengukuhan itu bukan cerita tentang sejarah Aceh, perlawanan, keadilan, keyakinan, perjuangan dan kemerdekaan. Akan tetapi, ini adalah cerita yang belum usai tentang kekuasaan dan pendapatan. Wassalam.
* Mukhlisuddin Ilyas, Mahasiswa Program Doktor di Universitas Negeri Medan (Unimed), dan Penulis Buku “Aceh dan Romantisme Politik”. Email: mukhlisuddin_ilyas@yahoo.com