KAI

Keluarga Bahagia Menurut Syariat

saya seorang isteri yang telah berumah tangga lebih dari 10 tahun, punya rumah, dan juga beberapa orang anak

Editor: bakri

Diasuh Oleh Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA

Pertanyaan
Bapak Pengasuh yang terhormat,
Assalamualaikum wr wb.
Ustaz, saya seorang isteri yang telah berumah tangga lebih dari 10 tahun, punya rumah, dan juga beberapa orang anak. Saya ingin sekali mengetahui ciri-ciri keluarga bahagia tersebut. Mohon ustaz jelaskan dan untuk itu saya ucapkan terima kasih.

Isnaini Musa
Aceh Utara

Jawaban
Yth Ibu Isnaini Musa, 

Waalaikumussalam wr wb.

Menurut hemat pengasuh, apabila kita menelusuri Alquran, hadis riwayat shahabat dan ulama, kita menemukan beberapa syarat yang sekaligus menjadi ciri dari keluarga bahagia tersebut antara lain:

Pertama, kasih sayang antara suami dan istri. Syariat Islam melarang dengan tegas pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Karena pergaulan yang demikian lebih banyak membawa mudharat. Melalui pergaulan bebas yang tidak diikat oleh ijab kabul (pernikahan) sudah tentu akan melahirkan bentuk kasih sayang yang hanya bersandar kepada pengaruh hawa nafsu semata. Hasil dari keadaan itulah yang akan menjerumuskan ke arah perzinahan, hamil di luar nikah, pengguguran kandungan serta pembuangan anak seperti yang kita dengar banyak terjadi dalam masyarakat.

Islam menggariskan ketetapan bahwa unsur kekeluargaan yang murni sewajarnya bertolak dari pernikahan yang sah. Agar supaya jalinan kasih sayang antara suami dan istri dapat dilakukan dengan bersih dan berakhlak, sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Ruum: 21).

Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalehah.” Dalam sebuah hadis lain: “Orang mulia antara kamu adalah mereka yang berlaku baik kepada keluarganya, sebab aku sendiri pun berlaku paling baik terhadap keluargaku sendiri.”

Kedua, kasih sayang antara ibu bapak dan anak-anak. Dari pernikahan antara suami/istri alamiyahnya akan lahir keturunan, yang mana anak adalah amanah dari Allah yang perlu dididik dengan sempurna seperti yang diterangkan dalam dua hadist. Sabda Nabi saw: “Wajib atas kamu memberi nafkah kepada mereka dan pakaian mereka yang munasabah dan berlaku adil kepada mereka” dan seseorang itu akan berdosa dengan sebab dia menyia-nyiakan mereka yang menjadi tanggungannya.”

Maka kepada kedua ayah dan ibu diletakkan tanggung jawab memberikan pendidikan, asuhan, kasih sayang sempurna, sebagaimana aabda Nabi saw: “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapanya yang bertanggungjawab menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.” Berkaitan dengan hadis ini, Allah berfirman: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ketiga, kasih sayang antara anak dengan ibu bapak. Sebagaimana ibu dan bapak memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak, demikianlah juga Islam menganjurkan supaya anak-anak ikut memberikan kasih sayang mereka terhadap kedua ibu bapak mereka. Dari apa yang selalu kita dengar, “sesungguhnya syurga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”.

Dengan menyayangi dan mengasihi ibu bapak, di samping mematuhi segala perintah dan nasihat keduanya, berkata-kata dengan mereka pun perlu menggunakan bahasa yang lemah lembut serta beradab, tidak menyinggung perasaan mereka dengan perkataan bernada kebencian, kasar dan menyakitkan.

Sebaiknya seorang anak menunjukkan bukti kesyukuran dan rasa terima kasih terhadap jasa kedua orang tuanya yang sudah bersusah payah mendidik dan membesarkannya. Islam menegaskan, satu dosa besar ialah durhaka kepada kedua ibu bapa. Allah berfirman: “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya serta kepada kedua ibu bapak hendaklah kamu berbuat baik.” (QS. An-Nisa: 36

Dalam hal ini, Nabi saw bersabda: “Keridhaan Allah bergantung kepada keridhaan ibu bapak, maka kemurkaan Allah juga bergantung kepada kemurkaan ibu bapak. Barang siapa yang setiap hari berbuat baik terhadap ibu bapak tetapi mengingkari Aku, maka Aku masih ridha kepadanya, namun siapa yang setiap hari meridhai Aku tetapi sebaliknya mendurhakai kedua ibu bapaknya, maka niscaya Aku murka kepadanya.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved