Minggu, 3 Mei 2026

Kisah ‘Napoleon’ Menentang Wali Negara

NAPOLEON dari Tanah Rencong, memberi lukisan hidup tentang sosok Hasan Saleh, salah seorang figur sentral

Tayang:
Editor: hasyim

NAPOLEON dari Tanah Rencong, memberi lukisan hidup tentang sosok Hasan Saleh, salah seorang figur sentral dalam peristiwa pergolakan DI/TII Aceh.

Dituturkan dalam bentuk karya novel, membuat kisah ‘Sang Napoleon’ jauh dari kesan menggurui atau ingin mendominiasi peristiwa sejarah. Novel ini memang bukan novel sejarah, melainkan novel dengan latar sejarah yang mengalir cair pada tiap halaman dan bab.

Novel ini ditulis Akmal Nasery Basral, yang pernah bekerja sebagai wartawan sejumlah majalah berita terkemuka di Indonesia. Tangan dingin Akmal telah melahirkan sederet novel seperti; Naga Bonar Jadi 2 (2007), Sang Pencerah (2010), Batas (2011), Presiden Prawiranegara (2011), Anak Sejuta Bintang (2012).

‘Napoleon dari Tanah Rencong’ diterbitkan PT Gramedia Jakarta, 2013, merupakan hasil riset mendalam tentang kehidupan Hasan Saleh dan sepak terjangnya dalam panggung sejarah Aceh. Akmal menghabiskan waktu tiga tahun untuk kerja riset tersebut. Istilah ‘Napoleon’, menurut catatan Iqbal Hasan, putra Hasan Saleh, bersumber dari Hasan Saleh sendiri yang membandingkannya dengan Napoleon Bonaparte di Prancis. “Iqbal, lihat peta Prancis itu. Kan tidak besar-besar sekali juga Prancis itu? Kalau di sana ada Napoleon sebagai panglima perang yang jago, lalu apa bedanya dengan bapak di Aceh,” kenang Iqbal tentang percakapan dirinya dengan sang ayah. Alasan itulah yang kemudian dipilih jadi judul novel dengan gambar sampul depan sebilah rencong milik Hasan Saleh.

Dibuka dengan peristiwa masa kecil ‘Sang Napoleon’ di Desa Pulo Kameng, Metareum, Pidie, kita—pembaca—mula-mula diperkenalkan dengan tingkah bocah ‘Napoleon’ dalam keluarga single parent Cut Manyak. Tingkah Hasan Saleh kecil dilukiskan begitu hidup dan interaksinya dengan ketiga saudaranya yang lain memperlihatkan keluarga itu rukun-harmonis, walau pun mereka empat bersaudara dari tiga ayah yang berbeda. Paling sulung Ismail Syekh, berasal dari ayah Muhammad Syeh, yang kemudian meninggal dunia. Cut Manyak menikah dengan Muhammad Saleh, yaitu abang dari Muhammad Syekh. Dari perkawinan dengan Muhammad Saleh, lahir Ibrahim Saleh dan Hasan Saleh.  

Tapi pernikahan kandas di tengah jalan. Perjalanan waktu mempertemukan dengan Tgk Muhammad Aly, yang kelak menjadi suami ketiganya. Perkawinan itu melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yacob Aly, yang berbeda umur 5 tahun dengan Hasan Saleh.

‘Napoleon’ tumbuh sebagai anak cerdas, lincah, dan panjang akal pada situasi sulit. Hasan Saleh menjalani masa kecil di zaman Belanda, dilajutkan zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan ketika memasuki usia  dewasa. Ia juga menjalani konflik sosial peristiwa Cumbok.

Hasan Saleh sejak kecil mengikuti pendidikan agama dan menguasai bahasa Arab sangat baik. Sedangkan bahasa latin, sama sekali tidak ia kuasai, bahkan menulis nama sendiripun sulitnya minta ampun.

Belakangan, Hasan Saleh lebih dikenal sebagai sosok militer. Itu diawali dari pendidikan militer di sekolah militer Jepang di Lhokseumawe, Kembu Yoin. Di sana pula ia berkenalan dengan Teuku Syamun Gaharu, Teuku Abdullah Titeu, Teuku Abdurrahman Keumangan, dan lain-lain.

Karir militer Hasan Saleh terbilang cemerlang. Ketika berpangkat Kapten  TNI, Hasan Saleh yang memimpin batalion “Seulawah Jantan” ditugaskan memadamkan pemberontaakan Kahar Muzakar di Sulawesi dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Seluruh misi itu berhasil dijalankannya dengan hasil sangat baik. Ketika berhadapan dengan Kahar Muzakar, Hasan Saleh bahkan tidak perlu memuntahkan satu pelurupun di medan perang, karena langsung dicapai kesepakatan damai dan pasukan Kahar Muzakar turun gunung.

Pada bagian lain, novel ini juga memperlihatkan keteguhan hati Hasan Saleh terhadap prinsip, meski harus berhadapan dengan atasannya. Ia pernah menolak perintah KASAD Kolonel A Haris Nasution untuk mengembalikan senjata ketika pasukan Batalion 110 Seulawah Jantan yang dipimpinnya bertugas di Sulawesi.

Keteguhan sikap itu juga tercermin pada perundingan ‘Misi Hardi’, di mana Hasan Saleh sama sekali tidak beranjak dari sikapnya untuk meminta keistimewaan Aceh.

Ia juga berkali-kali bersitegang dengan Wali Negara Daud Beureueh, pemimpin tertinggi DI/TII. Puncak ketegangan terjadi saat Hasan Saleh selaku Penguasa Perang memutuskan mengambil alih seluruh kekuasaan sipil dan militer dari tangan Wali Negara Abu Daud Beureueh. Drama pertentangan tersebut diceritakan dalam Bab 24; ‘Kembali ke Pangkuan Republik.’

Peristiwa tersebut terjadi pada 15 Maret 1959. Hasan Saleh tak punya pilihan lain  setelah pertentangan dengan Wali Negara Daud Beureuh pada Rapat Cubo yang memecat Hasan Saleh dan Ayah Gani selaku Wakil Perdana Menteri DI dengan tidak hormat karena dianggap mengkhianati perjuangan.  

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved