Minggu, 3 Mei 2026

Kisah ‘Napoleon’ Menentang Wali Negara

NAPOLEON dari Tanah Rencong, memberi lukisan hidup tentang sosok Hasan Saleh, salah seorang figur sentral

Tayang:
Editor: hasyim

Alasan pemecatan Hasan Saleh dan Ayah Gani, karena Wali Negara Daud Beureueh mengetahui kedua tokoh tersebut bertemu dan berunding dengan Jenderal AH Nasution di Kutaradja. Dalam pertemuan itu Jenderal Nasution melobi Hasan Saleh agar memilih jalan damai, bukan jalan perang seperti yang dipidatokan Wali Negara Daud Beureueh dalam satu kesempatan di Lhokseumawe. Ketika itu Wali Negara bersikukuh ingin tetap melanjutkan perang. “Saya tahu Teungku Daud Beureueh tak mau berdamai. Dia bilang akan bergerak 1 Januari 1959, sepuluh hari lagi. Itu sebabnya saya memilih berbicara dengan saudara lebih dulu, sebagai Menteri Urusan Perang. Jika ingin berdamai saya tidak akan berbuat apa-apa. Tapi kalau mau berperang, kami akan lebih dulu bergerak,” kata Jenderal Nasution.

Dialog ‘negosiasi’ dilukiskan berlangsung alot hingga sampai kepada kuputusan bahwa Hasan Saleh menjamin keamanan Aceh dan akan menggagalkan usaha untuk berperang kembali seperti yang sebelumnya diumumkan Wali Negara Daud Beureueh. Hasan Saleh menyampaikan tuntutan diberikannya peningkatan status Aceh sebagai ‘negara bagian.’

Hasil pertemuan dengan Jenderal Nasution disampaikan Hasan Saleh kepada Ketua Majelis Syura Amir Husin Al Mujahid, dan menyatakan sependapat dengan Hasan Saleh untuk menyudahi perang. “Sekarang setelah jalan ke luar dari masalah ini ditemukan, kita wajib menentang kemauan Wali Negara karena kepentingan rakyat jauh lebih penting dibanding kepentingan seseorang,” kata Amir Husin.

Wali Negara Daud Beureueh merespons pertemuan Hasan Saleh dengan Amir Husin Al Mujahid dengan menggelar pertemuan di Cubo dengan mengundang seluruh komandan resimen dan pemuka masyarakat sipil, termasuk menteri dalam negeri dan menteri kehakiman. Amir Husein tak diundang, tapi berinisiatif datang sendiri ke rapat tersebut. Peserta rapat menjadi terbelah dua, mendukung Wali Negara dan menolaknya. Belakangan suara mayoritas mendukung Wali Negara untuk memecat Hasan Saleh dan Ayah Gani dari jabatannya dengan tidak hormat. Ketika peristiwa itu berlangsung, Perdana Menteri DI, Hasan Aly sedang berada di Amerika. Tiba di Aceh, Hasan Aly mencoba melobi Wali Negara untuk membatalkan keputusannya.

Sampai 14 Maret 1959, tenggat waktu yang diberikan, tak ada jawaban dari perdana menteri. Esoknya, 15 Maret 1959, mengumumkan pengambilalihan seluruh kekuasaan dari Wali Negara Daud Beureueh olehnya selaku Penguasa Perang NBA-NII. “Kemudian kekuasaan saya limpahkan kembali kepada Dewan Revolusi dengan tugas pokok untuk menyelesaikan pemberontakan di Aceh,” ujar Hasan Aly ketika di Metareum.

Dewan Revolusi diketuai Ayah Gani, Wakil Ketua dan Panglima Militer Hasan Saleh, Sekjend A Gani Mutiara, Penasihat Militer Husin Yusuf, Penasihat Sipil T Amin, Penata Keuangan TA Hasan dan Penghubung Dewan Revolusi dengan Pemerintah RI Ishak Amin.

Sidang pertama Dewan revolusi dilakukan dengan mengangkat Teungku Amir Husin Al Mujahid sebagai Wali Negara yang baru (halaman: 486).

 Peristiwa lucu
Selain menyimpan unsur-unsur ketegangan, novel ini juga memuat berbagai peristiwa lucu. Hasan Saleh dengan gampang menjuluki pelatih militer Jepang yang kejam sebagai ‘Si Parot’ karena kejengkelannya terhadap perilaku kejam si Jepang yang menjadi pelatih di sekolah militer.

Peristiwa lucu lainnya adalah ketika Hasan Saleh berada di Malaysia. Secara kebetulan ia bertemu dengan sejumlah prajurit TNI yang transit dan prajurit itu berbincang mengenai ‘sosok’ Hasan Saleh yang misterius, bergerilya di hutan Aceh. Dengan fasih, prajurit tersebut menyebut Hasan Saleh sebagai orang yang ditakuti dan kepalanya dihargai jutaan rupiah.

Prajurit tersebut baru saja kembali dari dinas di Aceh menumpas pemberontakan DI/TII. Sama sekali tidak diketahui bahwa orang yang sedang dibincangkan itu ada di hadapan mereka.

Hasan Saleh juga sosok romantis. Ini diperlihatkan bagaimana dia ‘jatuh hati’ kepada Cut Asiah, muridnya yang cantik, dan kelak menjadi pendamping hidupnya. Ia benar-benar takluk kepada gadis itu.

Novel ini, menurut saya, telah memperkaya pengetahuan mengenai berbagai peristiwa bersejarah di Aceh. Gaya penulisan seperti ini merupakan pilihan yang tepat, imajinasi pembaca dengan mudah terbenam dalam setiap peristiwa yang ditampilkan. Pembaca bisa merasakan efek-efek dramatik dari setiap kejadian.

Ke depan, kita tentu mengharapkan lahirnya novel-novel lain tentang Aceh. Ibarat buku, Aceh tidak akan habis dibaca dalam satu malam. Aceh harus terus dibaca sepanjang masa dengan beragam peristiwa dan aktor-aktornya. Inilah, salah satu bentuk kekayaan lain dari negeri yang bernama Aceh.(fikar w.eda)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved