KAI

Hukum Kawin Kontrak

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar di Indonesia ada daerah yang terjadi kawin kontrak

Hukum Kawin Kontrak
Muslim Ibrahim

Diasuh oleh Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA.

Pertanyaan:
Yth Pengasuh Ruangan KAI Serambi Indonesia,
Assalamu’alaikum wr wb.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar di Indonesia ada daerah yang terjadi kawin kontrak. Itu pertama kali saya dengar istilah itu. Saya sangat berkeinginan untuk mengetahui apa itu kawin kotrak dan apa pula hukumnya menurut Islam. Atas kesediaan Ustaz memberikan jawaban saya ucapkan banyak terima kasih.

Anas S.
Banda Aceh

Jawaban:
Ananda Anas, yth.

Wa’alaikumussalam wr wb.
Pertanyaan ananda bagus sekali. Bagus karena ananda ingin mengetahui masalah agama kita yang memang mesti harus kita pelajari.

Kawin kontrak yang dalam bahasa Arab disebut zuwaaj muaqqad atau kawin sebentar. Waktunya terserah perjanjian kontrak yang disetujui oleh kedua belah pihak. Boleh satu tahun, boleh satu bulan, boleh satu hari dst. Mirip sekali dengan nikah mut’ah, bedanya hanya pada batas lama waktunya. Batasan pada mut’ah terserah si laki-laki, boleh berapa saja, terserah kekuatan dan minat si laki-laki.

Dalam ke dua jenis perkawinan ini, mereka tidak saling mewarisi bila salah satu pelakunya mati, meskipun masih dalam waktu yang disepakati. Juga tidak wajib memberi nafkah (belanja) dan tidak wajib memberi tempat tinggal. Dilakukan tanpa wali dan tanpa saksi, begitu pula tanpa talak, tetapi habis begitu saja pada akhir waktu yang disepakati. Pelakunya boleh perjaka atau duda, bahkan yang sudah punya istri. Sedang si wanita boleh masih perawan atau sudah janda.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga pernah menyatakan, nikah mut’ah adalah nikah kontrak dalam jangka waktu tertentu, sehingga bila waktunya telah habis, maka dengan sendirinya nikah tersebut bubar tanpa adanya talak. Dalam nikah mut’ah, wanita yang menjadi istri juga tidak mempunyai hak waris jika si suami meninggal dunia. Dengan begitu, tujuan nikah mut’ah ini tidak sesuai dengan tujuan nikah menurut ajaran Islam, sebagaimana disebutkan di atas, dan dalam nikah mut’ah ini pihak wanita teramat sangat dirugikan. Oleh karenanya, nikah mut’ah ini dilarang oleh Islam.

Dari definisi dan penjelasan ini saja, kita telah dapat mengetahui hukum keabsahannya. Nikah seperti ini bertentangan dengan tujuan nikah yang sangat mulia dalam Islam. Sebagaimana dikemukakan para ulama, berdasarkan Al-Quran dan hadits, dalam ajaran Islam, maksud utama pernikahan itu selain sebagai ibadah adalah untuk membangun ikatan keluarga yang langgeng (mitsaqan ghalidzha) yang dipenuhi dengan sinar kedamaian (sakinah), saling cinta (mawaddah), dan saling kasih-sayang (rahmah). Dengan begitu, ikatan pernikahan yang tidak ditujukan untuk membangun rumah tangga secara langgeng, tidaklah sesuai dengan tujuan ajaran Islam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved