Opini
Politik, Janji dan Pencintraan
BAGAIMANA kita harus bersikap ketika dihadapkan pada persoalan politik, janji dan pencitraan?
Oleh Ikhsan Hasbi
BAGAIMANA kita harus bersikap ketika dihadapkan pada persoalan politik, janji dan pencitraan? Adakah kaitan antara ketiganya? Apakah ketiga hal ini diperlukan untuk menunjang karier politik? Orang pesimis akan menilai bahwa ketiga hal ini hanyalah siasat rekayasa. Semuanya berkaitan tentang cara memperoleh tempat di hati masyarakat.
Siapa pun akan dengan mudah mengakui ketiga hal ini memang sangat diperlukan untuk menunjang karier politik. Namun sesuatu yang paling mendasar dan sangat substansial dari itu semua adalah politik, janji dan pencitraan tak lebih dari alat untuk mencapai kepentingan.
Penokohan karakter pesimis di sini ialah ekpresi yang diperlihatkan oleh sejumlah masyarakat ketika mendapati alat peraga politik seperti spanduk, baliho, kartu nama dan sebagainya, yang sebagian olehnya dipenuhi wajah-wajah baru yang bahkan tak pernah terlihat sebelumnya. Orang-orang akan bertanya, apakah mereka punya pengalaman yang cukup, cerdas dan bijak untuk mengelola aspirasi masyarakat ketika terpilih?
Jika kita semua punya peluang untuk mewawancarai setiap caleg dengan pertanyaan seperti itu, pastinya mereka akan membawa alasan yang membuat tiap dari mereka itu patut dipilih. Berbagai statemen di antaranya dengan pembawaan kerendahan diri bahwa ia hanyalah orang yang ingin menyejahterakan masyarakat dengan pengalaman seadanya. Artinya ia akan terus belajar untuk memimpin dengan bijak sambil memimpin.
Statemen lain yang mungkin mereka berikan ialah mereka patut dipilih karena mereka merasa yakin bisa menunjukkan dirinya sebagai pilihan yang ideal. Ia tumpahkan semua pengalamannya di hadapan masyarakat atas kiprahnya selama ini yang telah berjasa terhadap masyarakat. Yang kadang dengan membandingkannya dengan pihak lain harus menampakkan kekurangan mereka. Sikap arogan seperti ini sah-sah saja dalam politik. Namun ke depan, ketika terpilih hati seseorang siapa yang tahu.
Wajah-wajah baru
Wajah-wajah baru yang mencalonkan diri untuk menjadi legislator di masa yang akan datang sering menyiratkan tanda tanya mendalam. Apakah mereka memang mampu menjadi orang yang bisa dipercaya mewakili hati rakyat atau hanya sekumpulan orang dengan ambisi untuk menaikkan namanya dan menokohkan diri.
Wajah-wajah baru tersebut bukan hanya karena baru muncul ketika masa pencalonan bila dilihat dari segi umur sebagiannya memang ‘baru’. Namun logikanya, umur muda cenderung sedikit pengalaman. Bukan berarti pula menghilangkan peluang kaum muda untuk mengekspresikan diri menunjukkan eksistensi di dunia politik, tapi keluasan langkah dan pandangan harus menjadi fokus utama sebelum ia menginjakkan kaki di dunia yang amat menguji iman dan nyawa.
Mendekati masa pencalonan dan pemilihan, banyak calon legislatif dan calon pemimpin yang memasang muka segar dan murah senyum. Bantuan dan rentetan pencitraan mulai membubuhi kalender, iklan-iklan, postingan di jejaring sosial dan medium lainnya. Rahasia umum akan membenarkan itu semua.
Semestinya jauh hari sebelumnya, tanpa kaitan sekalipun dengan manusia, bantuan sebesar apapun juga harus diupayakan. Seikhlas apa pun dan ketidakikhlasan bagaimanapun akan selalu disertai oleh pencitraan. Selayak surga dan neraka, pencitraan pun bisa berkonotasi baik dan juga buruk, tergantung caranya.
Jika menjelang masa pemilihan banyak caleg yang berkunjung ke tiap-tiap daerah dan memberikan bantuan, itu menunjukkan bahwa begitulah prasayarat dalam pencitraan agar dipilih. Kebanyakan orang akan menilai mereka yang naik sebagai caleg adalah orang-orang yang berambisi, karena sebelumnya, ketika mereka menjadi ‘orang biasa’ tidak ada bantuan yang mereka berikan kepada masyarakat. Dan orang yang berambisi biasanya terlalu menuntut. Jika bentuk kesalahan oknum pejabat selama ini adalah korupsi, kolusi dan nepotisme, itu tak lebih dari keinginan berdasarkan tuntutan nafsu yang lahir dari ambisi terhadap tahta yang dimiliki untuk mendapatkan kepuasan diri, meski mengabaikan kewajiban dan hak orang lain.
Demikian juga dengan janji. Janji cenderung dipergunakan sebagai iming-iming, bentuk pengharapan dan bukti yang katanya akan diberikan jika mereka terpilih. Jika yang kita pilih adalah seorang pengandai, pembuai dan pembual, maka yang kita dapatkan adalah janji-janji khayalan. Dan jika yang berjanji adalah orang yang bisa menepati, maka segala aspirasi akan dapat direalisasi. Nah, apakah kita bisa menerka jika orang yang kita pilih akan mampu merealisasikan janjinya? Maka dari itu, pilihan ideal adalah orang yang telah kita kenal jujur, tepat janji dan bijak. Adakah orang yang sesempurna itu? carilah yang paling mendekati jika memang tidak ada yang sempurna.
Politik, janji dan pencitraan sering disanding dalam padanan kata “janji politik” dan “politik pencitraan”. Sebenarnya semua itu sama saja dibawah naungan kepentingan. Hanya sudut pandang atas realisasinya yang berbeda. Jika cara memahaminya bijak, maka akan menghasilkan nilai kebijakan pula.
Butuh proses untuk menjaring orang yang berkompeten dalam dunia politik. Akan tetapi kesulitannya terletak pada peran kita jikalau tidak bisa meredam dan mengontrol sifat egois. Jadinya perlu dengan jeli memperhatikan sudut ruang pergerakan politik dan manusia yang berada di dalamnya.
Kriteria calon
Sebuah anekdot yang pernah saya baca pada salah satu situs jejaring sosial, menarik untuk disimak, ketika seseorang bertanya pada lawan bicaranya tentang kriteria calon yang akan dipilihnya nanti. Ia menjawab bahwa kriteria yang dipilihnya adalah orang yang telah berjasa dan telah menunjukkan kiprahnya jauh hari sebelum masa pemilihan.