Kupi Beungoh
Jamaah Haji Bersiap Menuju Puncak: Menapaki Jalan Suci Menuju Haji Mabrur
Semangat beribadah tentu penting, tetapi kebijaksanaan dalam menjaga kesehatan dan kondisi fisik juga tak kalah penting, khususnya bagi jamaah lansia.
Oleh: Drs. H. Azhari, M. Si.
MULAI hari ini, 8 Dzulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan 25 Mei 2026, jamaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah untuk bersiap menapaki puncak ibadah haji pada 9 Dzulhijjah bersama jutaan umat Islam dari seluruh dunia yang akan berkumpul di sana.
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual menuju puncak penghambaan kepada Allah SWT. Di hadapan Ka’bah, jutaan manusia dari berbagai bangsa dan latar belakang melebur dalam satu identitas yang sama: hamba Allah.
Tidak ada perbedaan jabatan, status sosial, ataupun kekayaan. Semua hadir dengan pakaian ihram yang sederhana, membawa harapan yang sama yaitu meraih ampunan dan kemabruran.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang menunaikan haji dengan penuh keikhlasan dan menjauhi perbuatan tercela, maka ia akan kembali seperti bayi yang baru dilahirkan. Hadis ini menegaskan bahwa haji sejatinya adalah proses penyucian diri dan pembaruan spiritual.
Karena itu, menjadi bagian dari jamaah haji merupakan anugerah yang sangat besar. Mereka yang berangkat adalah tamu-tamu Allah yang memenuhi panggilan suci-Nya.
Menjelang fase puncak haji atau yang dikenal dengan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), jamaah diharapkan benar-benar mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, termasuk memperkuat bekal ilmu manasik dan menjaga kesehatan.
Kemabruran tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari niat yang tulus, kesabaran, serta kesungguhan dalam menjalani setiap rangkaian ibadah. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga latihan spiritual untuk membentuk pribadi yang lebih baik.
Apalagi dalam kondisi cuaca panas dan kepadatan jutaan manusia, jamaah akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kelelahan fisik hingga keterbatasan ruang gerak.
Dalam situasi seperti itu, kesabaran dan kemampuan menjaga sikap menjadi bagian penting dari ibadah. Haji mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan dalam hubungan kepada Allah, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia dengan saling membantu, menghormati, dan menjaga kebersamaan.
Menjaga fokus ibadah juga menjadi hal yang sangat penting. Jamaah perlu mengatur tenaga dan memprioritaskan amalan-amalan utama, terutama saat menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Semangat beribadah tentu penting, tetapi kebijaksanaan dalam menjaga kesehatan dan kondisi fisik juga tidak kalah penting, khususnya bagi jamaah lanjut usia.
Wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah merupakan rukun haji yang paling inti dan wajib diikuti seluruh jamaah. Pada 26 Mei 2026, jutaan jamaah berpakaian ihram putih akan berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Momen ini sering digambarkan sebagai miniatur Padang Mahsyar, ketika manusia hadir dalam kesederhanaan dan ketundukan penuh di hadapan Sang Pencipta. Wukuf di Arafah menjadi puncak sekaligus momen paling sakral dalam perjalanan haji.
Setiap ritual haji memiliki makna yang mendalam. Tawaf mengajarkan bahwa hidup harus berpusat kepada Allah SWT. Sa’i melambangkan ikhtiar dan harapan yang tidak pernah putus.
| TMMD Ke-128 Kodim Abdya, TNI Hadirkan Merah Putih di Gunong Cut |
|
|---|
| Sekali AI Datang Kampus Pun Berubah |
|
|---|
| Fenomena Remaja Nongkrong Hingga Larut Malam dan Pengaruhnya terhadap Citra Aceh |
|
|---|
| Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Ketika Mimpi Besar Tersandera Lemahnya Tata Kelola dan Krisis Prioritas Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tim-Koordinasi-Penyelenggaraan-Haji-Kakanwil-Kemenag-Aceh-Drs-H-Azhari-M-Si.jpg)