Opini
Politik, Janji dan Pencintraan
BAGAIMANA kita harus bersikap ketika dihadapkan pada persoalan politik, janji dan pencitraan?
Pertanyaan selanjutnya muncul dengan spekulasi, jika kemungkinan calon yang telah dipilihnya ternyata setelah terpilih mencari pelunasan atas jasa dan pelayanannya selama ini kepada masyarakat, tanggapan apa yang bisa diberikan, apakah tidak ada kekhawatiran yang muncul. Lawan bicaranya pun menjawab bahwa yang ia tahu selama ini mereka telah menunjukkan bukti kalau mereka itu pantas dipilih. Artinya, kita hanya berusaha memilih yang terbaik berdasarkan kenyataan yang telah mereka tunjukkan kepada masyarakat.
Tulisan ini bukan bermaksud menunjukkan kesan bahwa yang namanya politik, janji dan pencitraan selalu berpembawaan negatif, penuh intrik dan spekulasi. Atas dasar realita dan logika itu semua memang terjadi. Namun sebagaimana tadi disebutkan bahwa politik, janji dan pencitraan adalah alat, maka jika salah, yang sebenarnya salah adalah orang yang mempergunakannya untuk menunggangi kepentingannya di atas kepentingan masyarakat. Maka pilihlah dengan bijak orang yang bijak, bukan berdasarkan kepentingan karena kedekatan dengan calon pemimpin dan dewan hingga kita mengabaikan sifat fitrah manusia yang baik dan bijak.
*Ikhsan Hasbi, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: ixsanoanoe@gmail.com