Sisi Gelap ABG Aceh
PERILAKU menyimpang di kalangan anak baru gede atau ABG dan mahasiswa kian mengkhawatirkan
Dunia gelap remaja dan mahasiswa di Aceh ibarat fenomena gunung es. Hanya sedikit kasus yang terungkap ke publik. Ketua lembaga Selamatkan Anak Emas Indonesia (SEMAI) Banda Aceh, Qudus Husein mengatakan remaja Aceh saat ini berada di pintu darurat pornografi dan dekadensi moral. Menjamurnya layanan internet tanpa kabel menggunakan teknologi wi-fi (hotspot) di tempat publik menjadi faktor paling dominan mengarahkan remaja berperilaku menyimpang.
Qudus menyebutkan banyak kasus ditemukan ABG terjerumus dalam perilaku seks bebas berawal dari mudahnya mereka mendapat akses internet berbau porno.
SEMAI menemukan satu kasus memiriskan. Seorang siswi SMA di Banda Aceh kedapatan berhubungan intim di rumahnya bersama seorang lelaki, saat orang tuanya pergi. Setelah ditelusuri, ternyata siswi tersebut sudah sering melakukannya dengan banyak lelaki sejak ia tidak perawan lagi pada usia 13 tahun.
“Kalau dia lagi kepingin tidak peduli lagi siapa yang menjadi teman kencannya. Artinya ia melakukannya sudah menjadi sebuah kebutuhan,” kata Qudus. Ironisnya, orang tua remaja itu, tidak pernah tahu kalau anaknya sudah tidak perawan lagi sejak usia kelas 1 SMP. Menurut pengakuan remaja tersebut, ia sudah begitu akrab dengan film porno sejak kelas V SD yang ia tonton bersama temannya.
“Ini baru satu kasus ditemukan sekitar dua bulan lalu. Kita mencoba melakukan pendekatan dan memberi penanganan secara psikologis kepada remaja itu,” kata lelaki yang beristrikan seorang psikolog ini.
Menurut Qudus, kasus pergaulan bebas di kalangan remaja tidak dapat dibendung di tengah era globalisasi dan teknologi jika semua pihak menutup mata dengan kondisi ini. Semakin maraknya kasus free sex dan pergaulan bebas di kalangan remaja harus menjadi perhatian serius orang tua dan pemerintah.
“Kalau ini tidak dilakukan, maka potensi kasus hamil pranikah bagi remaja usia sekolah di Aceh akan terus meningkat. Kerusakan otak karena kecanduan pornografi itu tiga kali lebih berbahaya dari narkoba,” ujarnya.
Data yang diperoleh Serambi dari BKKBN Provinsi Aceh menyebutkan 10 dari 39 Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja yang diteliti di sekolah tingkat SMA di Pidie menunjukkan angka di bawah 50 persen siswa mengetahui informasi tentang pendidikan seks, pergaulan bebas, bahaya narkoba dan penyakit menular seksual (PMS). Misalkan untuk kategori PIK tahap Tumbuh (baru berdiri) remaja yang mengerti berada di angka 40,7 persen, PIK Tegak (sudah berjalan) 14,1 persen dan PIK Tegar (sudah lama eksis) 29,3 persen.
“Sebanyak 48 persen siswa yang disurvei mereka sudah tahu bahaya dan risiko untuk menghindarinya,” kata Kasubbid Program Kerja Sama BKKBN Aceh Nurismi.(*)