Cerpen

Anak Batu

SEMALAM, mertuaku dijerat polisi. Dia dituduh menyodomi anak di bawah umur. Tadi pagi, sebelum sarapan, ibu mertua

Editor: bakri

Suara lebah berbunyi lagi di kepala. Seakan mendongkel isi otak, mengisap darah, mengerat batok kepala. Suara itu semakin terdengar keras.

***

“Bagaimana Razi, apa dia ditahan? Lalu bagaimana dengan ayahku. Apa bisa diringankan hukumannya?” Kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil ibu anak-anakku. Rambutnya terbuka. Kerudung putih digantungkan di leher. Rambut awut-awutan. Jika panik, dia selalu menggaruk kepala yang tak gatal.    “Razi tak bisa dibantu. Dia menyuap dan mengorupsi dana proyek. Ayah juga tak bisa kubantu. Biarlah mereka menjalani hukuman yang telah digariskan dalam hukum negara dan agama,” jawabku pelan. Kuajak istriku bersila di atas tikar biru muda. Dia meronta. Suaranya pecah. Air mata jernih menetes deras di pipinya.

Tiga buah hati kami terperanjat, berlari ke ruang tamu. Menyaksikan ibunya sesenggukan. Dia memelas, memintaku membantu keluarganya. Meringankan tuntutan di pengadilan. “Meski sejak pacaran hingga punya anak kita tak pernah disetujui orang tua. Tak pernah adik-adikku menghormatimu. Meski dunia runtuh, kali ini, langgarlah sumpah jabatanmu. Tolonglah mereka suamiku. Mereka ayah dan adikku,” pinta istriku setengah bersimpuh.

***

Rumah ini terasa sepi di minggu pagi. Tiga anakku telah kuantar ke rumah ibuku. Mereka akan menghabiskan hari libur panjang usai ujian di sana. Tubuhku menggeliat perlahan. Di luar terdengar ketukan pintu bertalu-talu. Susul menyusul. Seakan tamu di luar sedang melihat hantu dan ingin masuk ke dalam rumah secepatnya.

Kuseret kaki menuju pintu. Tulang-tulangku seakan tak berfungsi pagi ini. Lemah mengunci sekujur tubuh, seakan menghentikan aliran darah. Masih mengenakan piyama warna biru muda kesukaan istriku, kubuka pintu. Empat pria berpakaian kemeja coklat, rambut rapi, dan mobil bak terbuka bertuliskan “POLISI” di sisi kiri-kanan parkir di samping taman. “Silakan ikut kami. Ini surat perintahnya. Kami telah menemukan kantong plastik hitam berisi tubuh istri Anda,’ ujar seorang pria mengenakan jaket kulit hitam.

Dua polisi berbadan tegap mengapitku. Mereka menyampirkan senjata laras panjang di pundak. Ingatanku melayang. Semalam aku membuang sampah di selokan ujung jalan. Dalam plastik hitam. “Aku membuang sampah semalam,” kataku kepada polisi-polisi itu. “Bukan istriku. Jika dia istriku, dia tidak akan meminta aku melanggar sumpahku. Menegakkan keadilan di negeri ini, semua orang sama di mata hukum.”

* Masriadi Sambo, penulis novel Cinta Kala Perang (Quanta-Kompas Gramedia, 2014). Bermukim di  Lhokseumawe.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved