Cerpen

Merindukan Purnama

PADA sore berkabut, dia menuruni Sungai Kuranji dengan terbungkuk

PERSIS pada lengkingan anjing hitam keempat dia menyelesaikan salat Magrib di atas rumah kayu miliknya. Dia mengucapkan salam. Ketika matanya mengarah ke sebelah kanan, dia melihat, si lelaki berkepala botak yang sore tadi menyoraknya dari atas tebing tidur  tengkurap. Dia tidak langsung membuka mukenanya. Dia berdoa sejenak kepada Tuhan.

Nampak si lelaki sangat nyenyak  tidurnya. Sesekali mulutnya berdesis. Seperti ular lapar. Dia pun menyelesaikan doanya. Dia kemudian melemparkan sebelah sandal yang mengenai kepala si lelaki. Si lelaki tersentak. Ia mendongak. Siapa yang melempar? Diantara keremangan cahaya ia melihat seorang perempuan berdiri dan menantangnya.

“Kau memang tak punya otak, mungkin memang tak punya benak. Dari tadi kulihat kau tidur saja. Angkatlah kakimu dari rumahku ini! Aku muak! Dasar botak,” bentaknya.

Ia megusap-usap dua matanya sejenak, “Jangan mengusirku Mak, aku menantu Amak.”

“Menantu? Kau tahu, aku merasa kau bukan menantu, tapi hantu. Botak!”

“Amak! Jaga mulut Amak!” Ia mulai berdiri.

“Kenapa!? Kalau tidak aku jaga kenapa!”

Ia merasa sangat tersingung. Baru kali ini ia dicaci.

“Kalau Amak marah padaku biarlah aku pergi.”

“Pergilah! Dan jangan pernah kembali!”.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved