Cerpen

Pencincang Talas

SETELAH gagal membujuk Sihaimi mengambil anak beurijuek balee, karena kawannya itu lebih memilih memulai

Karya Nazar Djeumpa

SETELAH gagal membujuk Sihaimi mengambil anak beurijuek balee, karena kawannya itu lebih memilih memulai mengaji kitab Matan Takreb, dengan langkah pasti Manyak menuju dataran yang mengapung seumpama pulau dan dikelilingi persawahan. Di sebelah timur persawahan itu berhadapan dengan kaki perbukitan Batee Geulungku. Gundukan kecil di tengah sawah itu disebut Cot Batee Timoh. Sepantauan mata memandang, ke selatan, terdapat jalanan besar yang kerap digunakan para saudagar atau siapa saja yang bepergian jauh.

Cot Batee Timoh tak begitu luas - setakat satu berbagi empat dalam naleh tanah sawah. Tepat di tengah pulau sebuah balai kayu berdiri kokoh. Diapit oleh kerimbunan pohon dan belukar. Balai selalu saja ramai kala musim turun ke sawah. Semua melepas penat disitu, dengan sebuah sumur yang airnya sejuk. Usai musim panen pun selalu ramai saja. Malam juga, kerap ditunggui petani karena penuh tumpukan padi disana.

 Menurut cerita orang-orang tua, balai itu dibangun oleh seorang sayed dari negeri Hederabad. Dulu sekali sayed itu bermukim di sini dan mengajari warga ilmu agama. Entah berapa masa telah berlalu, pastinya kegiatan di balai itu sudah tidak ada semenjak generasi kakek Manyak belia. Kini dayah-dayah kecil tumbuh pada setiap meunasah, hingga kosonglah balai di tengah sawah itu, kecuali dipakai untuk beristirahat para petani.

Di sebelah barat Cot Batee Timoh terdapat sebuah pohon besar. Sangat besar sudah. Melebihi rangkulan dua orang dewasa dan sudah ratusan tahun usianya. Nah, pada salah satu dahan pohon besar itulah berijuk balee kali ini merajut sarang. Malam ini Manyak akan membawa pulang burung itu, setelah sekian pekan ditelisiknya. Menelisik burung tak mesti ke pangkal batang. Dari rumahnya sendiri Manyak dapat memperhatikan pohon itu. Julangan pohon itumasih tampak walau sedikit tertutup pucuk-pucuk cengkeh yang memenuhi pekarangan rumahnya. Kicau sepasang berijuk balee saban pagi dan petang sayup terdengar. Pasangan berijuek balee yang lain juga singgah di pekarangan rumahnya, menggelayut pada tangkai-tangkai lentur cabai rawit yang ditanami emaknya, mencari ulat-ulat kecil. Kadangkala dahan-dahan cabai rawit tak sanggup menanggung beban burung-burung itu sehingga patah.

Perkara membuat sarang, makhluk itu tak sembarangan. Beurijuek balee memang bermain di pemukiman penduduk, tapi urusan sarang burung jenis inisenantiasa memilih di hutan lebat Gunung Teuminee sana. Pengecualian untuk sepasang beurijuk balee itu, mereka merajut sarang di pohon angsana besar di Cot Batee Timoh. Manyak harus cekatan serta lekas mengambilnya, sebelum anak-anak yang lain mendahului. Juga sebelum induknya menerbangkan burung muda itu ke belantara.

Manyak terus berjalan melewati hamparan persawahan. Cahaya bulan purnama malam ini sudah cukup menuntunnya. Tanpa ragu Manyak terus memasuki belukar. Tiba-tiba ia tersentak bukan kepalang. Dari setakat sirantee jarak, lampu teplok meneguhkan bayang-bayang bahwa di sana, di atas balai-balai itu, ada manusia. Orang dewasa kiranya.

Jantung Manyak berdegup kencang menyisakan ngiang pada kedua telinga, bak suara rapai yang ditabuh pemain sandrong. Keras, cepat dan tanpa irama. Desir darah tajam menuju ke ubun-ubun, kemudian melompat sekejap ke ujung kaki, lantas naik lagi. Membuat kakinya dingin dan gemetaran.

Taklah mungkin orang-orang itu hendak mendahuluinya memanjat pohon angsana mengambil beurijuek balee. Bagi orang-orang dewasa itu, cukup membayar setengah gunca padi saja pada anak-anak sebagai upah memanjat, apabila mereka memang begitu ingin memiliki burung. Lagi pula tak mungkin dahan-dahan pohon mampu menopang berat mereka. Dan mereka harusnya sadar itu. Tubuh kerontang Manyak serta merta menikung mengikuti bunyi kreeekk…

Ini bukan perkara burung, batin Manyak. Pastilah ada ihwal penting lainnya, dia menduga-duga. Manyak tidak kuasa menerima kenyataan, orang-orang dewasa itu merampas anak burung yang telah diintainya selama berhari-hari. Pelan ia merapat. Lalu menyibak lembut belukar di sekitarnya, melesak dirinya mendekati balai.Ia ingin memastikan siapa gerangan mereka itu dan apa tujuan mereka.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved