Cerpen

Pencincang Talas

SETELAH gagal membujuk Sihaimi mengambil anak beurijuek balee, karena kawannya itu lebih memilih memulai

Editor: bakri

Di balai meunasah anak-anak riuh berbicara. Menceritakan teungku-teungku mereka mencincang pelepah-pelepah talas, dan seketika pula para serdadu kaphe bertumbangan. Teungku-teungku tak terlihat oleh kaphe saat itu.

“Kenapa pula para kaphe yang datang belakangan dapat melihat dan menembaki para teungku?” Tanya seorang anak.

“Oh itu karena seorang diantara teungku berbicara saat mengumpulkan bedil. Pantang berbicara, karena dengan berbicara, teungku dapat terlihat. Dan Kaphe-kaphe itu dengan mudah membidik teungku-teungku itu,” jawab si pencerita.

Manyak hanya diam mendengar pembicaraan kawan-kawannya. Teungku Dahri mendehem, ia telah di tangga balai. Memberi salam. Dan sejurus kemudian berkata,”Mari mulai kitab Matan Takreb.” Semua terdiam dan bergegas mengeluarkan kitab dari tas teranyam.

* Nazar Djeumpa, kelahiran 1981. Alumnus Ilmu Komunikasi Unida Banda Aceh.
Cerpen-cerpennya disiarkan media terbitan Aceh dan Sumatera Utara. Bermukim di Bireuen.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved