Cerpen
Pencincang Talas
SETELAH gagal membujuk Sihaimi mengambil anak beurijuek balee, karena kawannya itu lebih memilih memulai
***
Matahari meninggi segalah. Bersegeralah Manyak menuntaskan tugasnya. Meratakan bunga-bunga cengkeh di sebentang tikar. Tikar itu dihamparkan atas bilahan bambu bertopangkan bulatan bambu pula. Dengan penopang tak terlalu tinggi, sebagai para-para menjemur bunga-bunga cengkeh yang telah dipetik oleh Abi kemarin sore. Cengkeh tak terlalu banyak karena pagi ini Abi tak memetik. Abi telah pergi selepas subuh tadi.
“Pastilah mereka yang semalam di balai-balai tengah pulau telah pulang. Aku harus segera kesana,” Manyak bergumam dan bergegas pergi. Dia setengah berlari di pematang sawah. Dia mulai memanjati pohon besar yang tumbuh di tanah berundak itu.
Anak berijuk balee sudah nyaris dipenuhi bulu. Sudah mulai berdiri dan akan belajar melompat. Untung ia segera datang pagi ini. Mungkin kalau sudah petang nanti, pastilah lompatannya telah ke dahan-dahan. Maka tidak ada harapan lagi untuk dapat memiliki burung itu.
Tiba-tiba Manyak tersentak oleh bunyi dar der dor...itu suara bedil! Bedil kaphe Belanda tentunya. Hanya kaphe-kaphe Belanda yang gemar menyalakkan bedil. Mereka kerap menembaki buah kelapa dan mencurinya. Dari dahan pohon besar itu Manyak memandang ke segenap arah. Dan dia mendapati muasal letupan bedil.
Di ketinggian, setakat tak lebih setengah batu, tepat pada jalan besar perlintasan, terlihat jelas beberapa laki-laki dewasa melompat dari semak-semak dengan parang panjang. Sementara beberapa yang lain mengayunkan parang panjang berhadapan dengan serdadu bersepatu. Manyak tahu, laki-laki berbaju, bertopi dan mengenakansiluar yang warnanya seragam itu adalah Marsose. Pria-pria berparang itu orang kita. Mereka bergumul. Mereka mencincang dan merubuhkan lawan mereka satu demi satu. Hanya beberapa kali saja bedil-bedil itu sempat menyalak, selebihnya orang-orang kita yang masih terlihat disana. Tak ada laki-laki bertopi dan menyandang bedil yang masih tetap berdiri. Semua mereka terkulai.
Ah, mereka berperang. Terlintas selipan wejangan Teungku beberapa malam terakhir. Perihal berperang melawan kaphe Belanda. Beragam cerita tentang keberanian kembali terngiang di telinga Manyak. Dan sekarang, dari atas pucuk pohon besar ini, Manyak menyaksikan:serdadu Marsose bergelimpangan diamuk tarian liar parang-parang. Tidak jauh, hanya setakat matanya memandang.
Bergegas Manyak turun. Sekarang pikiran Manyak hanya bagaimana harus segera sampai ke rumah, mengabari emak. Sepasang anak burung itu ia bungkus pada kain sarung yang tersampir di bahunya. Lalu ia berlari sekencang-kencangnya.
Di rumah, emak telah berdiri di pintu. Menanti. Belum hilang keterengahannya, Manyak kembali mendengar salakan bedil, sambung-menyambung bak lolongan panjang tanpa henti. Emak menarik tangan Manyak memasuki rumah dan menutup pintu. Mereka berdua bersimpuh diantara tumpukan padi dan karung cengkeh, dengan harap-harap cemas. Abi belum pulang.
***
Lepas Asar kala matahari sepenggalahan di barat, Abi pulang. Berbicara setengah berbisik pada Emak. Kaphe itu telah kembali ke tangsinya di Jeunieb. Menggotong satu jasad Marsose berkulit putih. Sementara jasad Marsose hitam dan cokelat ditinggalkan begitu saja. Ada delapan mayat dalam keadaanterpenggal-penggal. Dan Abi beserta yang lain telah bersegera menguburkan mereka, sebelum kaphe-kaphe itu kembali lagi.
Abi mendekat dan menusuk Manyak dengan tatapannya. Ketakutan Manyak memenuhi ubun-ubun. Abi menatap lekat bola mata dan membelai lembut rambut Manyak.
“Beri makan burungmu. Dan lekas kumpulkan cengkeh-cengkeh itu. Hari telah petang. Jika burung itu sudah bisa terbang, lepaskan dia,” kata Abi pelan.
Manyak hanya terdiam. Dari sangkar yang disangkutkan pada teratak bambu samping rumah, terdengar burung itu bercericit minta makan.
***