Cerpen

Hijrah Ke Kuta Cot, 1898

SAAT Belanda membangun rel kereta api, sesungguhnya sudah amat mendidih hasrat orang-orang Gampong

Editor: bakri

“Subhanallah! Ya! Kebebasan dan kemerdekaan! Tidak ada yang lebih berharga dari itu bagi kita, orang Aceh ini. Tetapi tetap masih ada pertanyaan saya. Pergi sekaligus dalam jumlah yang cukup banyak ini, satu gampong, akan ke mana saja kalian menuju? Saya ingatkan, terlalu banyak berkumpul di suatu tempat, mungkin akan menyulitkan pihak yang didatangi, meski pun itu keluarga sendiri. Pasti ada cecunguk yang mendengar, tertarik, lalu datang mengendus-endus. Dan nama Keude Baroh pasti akan disebut-sebut. Jangan lupa, kepergian kita ini pasti akan dianggap kaphe sebagai semacam perlawanan terhadap mereka. Hal yang memang kita niatkan, bukan? Dan kaphe pasti tidak pernah suka kepada orang yang berani melawan mereka. Jadi, perhatikan juga nasib orang atau tempat yang akan kalian datangi itu. Tak baik jadinya, kalau mereka sampai terlibat urusan yang tak menyenangkan, karena datangnya kalian ke tempat mereka.”

“Itu jugalah yang telah kami pikirkan, Ampon,” sela Teungku Lambesoi.

Teuku Banta Rayeuk menatap imeum meunasah itu, sorot matanya menyiratkan tanda tanya, “Kami!? Siapakah `kami’ itu, Teungku Lambesoi?”

Sang imeum meunasah agak tersipu sejenak, lalu menjelaskan, “Kami itu maksudnya saya dan beberapa kawan lain, Ampon, termasuk Keucik Amin sendiri. Kegalauan kami sama seperti kegalauan droneu juga. Maka timbul pikiran pada kami, karena kita semua sudah sama-sama bertekad untuk pergi dari Keude Baroh ini, mengapa tidak sekalian kita pergi ke tempat yang sama pula?”

“Maksud droneu, Teungku Lambesoi, kita semua akan berkumpul di satu tempat lagi?! Di semacam Keude Baroh yang baru?”

“Betul, Ampon! Tepat seperti itu! Semacam Keude Baroh yang baru. Kita berkumpul dan menyatu kembali di sana. Sama-sama memulai kehidupan yang baru pula, Insya Allah!”

“Subhanallah! Alhamdulillah! Allahu Akbar! Gagasan yang sungguh cemerlang, Teungku Lambesoi! Gagasan yang sungguh menggairahkan! Tetapi, di mana tempatnya? Maksud saya, tempat yang sepenuhnya masih bebas dari jangkauan kaphe dan para cecunguknya itu. Apakah kini masih ada tempat seperti itu, ketika tangan-tangan kaphe itu semakin banyak dan panjang, bak tangan-tangan gurita yang merambah ke mana-mana?”

“Tentu saja masih ada, Ampon! Mengapa pula tidak?” sambut Keucik Amin.

“Masih ada!? Di mana itu, Keucik Amin?” uleebalang itu nampak penasaran.

“Ampon masih ingat Kuta Cot?”

“Kuta Cot!?”

Teuku Banta Rayeuk mengingat-ingat. Ya, itu masa sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Perlawanan terhadap Belanda tidak lagi dilakukan dengan menantang musuh bermuka-muka. Mereka sudah tidak punya cukup kekuatan untuk melakukan hal itu. Maka mereka melakukannya dengan penyelinapan-penyelinapan, menyergap musuh secara tiba-tiba, di tempat-tempat yang tidak terduga. Mereka hajar musuh secepat-cepatnya dan sekeras-kerasnya, sebelum musuh menyadari keadaan yang dihadapi. Setelah itu mereka segera menghilang, meninggalkan musuh yang centang perenang. Dan dalam salah satu usaha mengamankan diri itulah, mereka menemukan sebuah tempat, yang kemudian mereka namakan Kuta Cot, sebuah tempat persembunyian yang cukup sempurna, satu setengah hari perjalanan dari Keude Baroh.

Kuta Cot terletak di puncak jurang, dengan dinding-dinding yang terjal, setinggi tiga sampai empat kali batang kelapa. Di sisi timur, bagaikan sebuah latar belakang, berdiri kukuh gunung Seulawaih Agam. Lalu ada sebuah sungai cukup lebar, dengan air yang jernih dan deras mengalir, melewati Kuta Cot, membentang dari utara ke selatan, langsung menuju jurang, menciptakan air terjun dengan gemuruh yang membahana.

Hanya ada sebuah lebuh rintisan yang dapat dipergunakan untuk mencapai puncak jurang. Awal lebuh itu akan sukar sekali ditemukan oleh mereka yang tidak pernah tahu sebelumnya, karena terletak sangat tersamar di tengah rawa yang tertutup pohon-pohon rumbia. Tetapi lebuh itu sendiri sebetulnya tidak terlalu sukar didaki. Hanya pada bagian-bagian yang agak terjal, perlu dibuatkan semacam anak tangga, untuk memudahkan para pelintas. Satu hal yang menguntungkan, lebuh itu mudah diawasi. Siapa saja yang datang, akan segera terlihat dari atas. Kalau yang datang itu musuh, tentu akan segera dapat dipersiapkan “penyambutannya”.

Tanah Kuta Cot pun cukup subur. Selama masa-masa persembunyian di sana, seusai menyerang kaphe atau mempermainkan marsose, Teuku Banta Rayeuk bersama anggota laskarnya pun mengolah tanah, bertanam pisang, ubi kayu, keladi dan semacamnya, sehingga mereka tak perlu kuatir kekurangan bahan pangan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved