Cerpen

Lelaki Penipu

KALAU harus menyalahkan seseorang maka aku pasti menuding lelaki itu

Editor: bakri

Karya Efrizal

KALAU harus menyalahkan seseorang maka aku pasti menuding lelaki itu. Semua bencana ini adalah buah pertemuanku dengan lelaki itu - kalau ia pantas kusebut lelaki. Aku harus percaya kalau ia lelaki, tetapi tidak jantan. Fisiknya nyata lelaki. Suaranya berat tak berwibawa dan rambut di wajahnya dibiarkan menyemak. Tetapi, pertemuanku yang terakhir kali dengan dirinya meyakinkanku tidak ada kejantanan di dalam dirinya, meskipun tak pernah kubuktikan. Aku bahkan seratus persen percaya kalau dirinya tak pernah menyukai perempuan.

Aku hanya bertemu dengannya dua kali. Pertemuan pertama terjadi delapan tahun lalu, saat aku hendak pulang dari sebuah swalayan. Meskipun barang yang kuperlukan tersedia di toko lain, tapi aku tetap belanja di sana. Ada kebanggaan saat orang-orang tahu aku belanja di tempat paling mahal di kotaku itu. Tempat yang kupandang sepadan dengan jabatanku.

Saat itu masih waktu dhuha. Aku melihatnya tersenyum kepadaku dari jauh. Ia mengangkat tangannya seolah mengucapkan salam sambil berjalan cepat ke arahku. Pakaiannya kumal. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya. Sandal jepit karet di kakinya menambah kesan “kampungan”. Lebih parah lagi, celananya tergulung tinggi sebelah.

Aku harus meletakkan dua kantong belanjaan besarmilikku sebelum mengangsurkan tangan untuk menerima jabat tangannya. Tentu saja ia yang lebih dahulu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sambutanku bahkan kurang hangat dari biasanya. Aku mengutuki diriku yang lupa membawa cairan pembersih tangan.

“Kebetulan sekali bertemu dengan Abang, apa kabar?” sapanya. “Kok gak pernah balik lagi ke sana? Udah gemukan ya sekarang. Pasti udah jadi orang sukses.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku merasa tak pernah mengenalnya dalam hidupku. Bagaimanapun, aku tahu bahwa ingatanku tidak boleh diandalkan saat ini. Lelaki ini bersikap sangat akrab dan ia juga tahu kalau berat badanku bertambah. Analisaku langsung mengaitkannya dengan kampung-kampung yang kukunjungi saat kampanye legislatif beberapa tahun lalu.

Menyadari aku tak mengenali dirinya, ia pun menambahkan, “Gak kenal lagi? Masa iya sih abang sudah lupa kepadaku.” Kalimatnya menggantung di udara. Wajahnya terlihat muram.

Aku merasa canggung dengan situasi itu. Kupaksakan ingatanku bekerja namun tetap saja tidak ada informasi yang bisa kudapat. Aku memutuskan untuk berpura-pura mengenalnya dan menyebut nama salah satu kampung yang pernah kukunjungi sebagai kampung asal lelaki itu.

“Bagaimana keadaan masyarakat di sana? Aku cukup sibuk dengan agenda partai dan menjadi anggota dewan, jadi belum sempat kembali kesana. Mudah-mudahan gak ada warga yang mengatai diriku sombong.”

“Keadaan kami belum banyak berubah. Umumnya warga berharap Abang datang lagi dan memberi bantuan. Jangan cuma saat kampanye bantuan diberikan. Setelah terpilih, lupa deh dengan kami.”

Kata-katanya terasa bak tombak menghunjam ke dada. Aku tak dapat mengelak. Harus kuakui bahwa aku tidak pernah berniat mengunjungi mereka lagi kecuali saat kampanye berikutnya. “Bukan begitu. Aku akan cari waktu untuk berkunjung,” bantahku.

Wajahnya terlihat gembira. “Eh, banyak kali belanjaan abang. Akan ada pesta kah di rumah?” tanyanya. “Makin makmur saja Abang sekarang,” imbuhnya sambil tersenyum lebar.

“Bukan. Selalu seperti ini kalau aku berbelanja disini.”

“Abang memang udah kaya. Itulah mengapa kukatakan rezeki betul aku bertemu Abang pagi ini.”

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved