Cerpen

Lelaki Penipu

KALAU harus menyalahkan seseorang maka aku pasti menuding lelaki itu

Editor: bakri

“Rezeki bagaimana?”

“Sudah dua hari aku di kota ini, Bang. Jangankan untuk pulang ke kampung, untuk sekedar beli segelas kopi pun tak ada uangku. Perih perutku menahan lapar. Abang bantulah aku. Dulu, di kampung, kan abang ingat aku sering menjamu abang di rumahku,” terangnya dengan air mata berlinang.

Bisa saja aku menampik permintaannya tetapi itu akan mempertaruhkan reputasiku di kampungnya kelak. Tanpa bertanya alasan ia berada di kota ini, aku segera mengeluarkan dompet dari saku belakanglantas membukanya di depan hidungnya.

Ia merampas dompet itu dari tanganku, melongok ke dalamnya dan berkata, “Benar-benar orang kaya Abang sekarang.”

Tanpa segan ia mengambil enam lembar yang berwarna merah dari dalamnya dan menyisakan dua lembar untukku.Kemudian ia mengembalikan dompet itu kepadaku. “Dengan ini cukuplah ongkosku ke kampung serta lunaslah makan siangku. Terima kasih, Bang. Sampai jumpa lagi!”

Senyum lebar menghiasi wajahnya yang menjauhiku. Aku masih terpana. Betapa tidak, ada lelaki yang sedemikian berani mengambil uang langsung dari dompetku di tempat umum seperti ini. Keberanian itu pula yang menyebabkan aku tidak akan pernah melupakan wajahnya.

Sebulan kemudian aku berkesempatan mengunjungi kampung yang kusebutkan kepada lelaki itu. Di rumah yang pernah menjamuku siang malam dengan makanan lezat, disanalah aku merasakan sakit hati yang berubah menjadi dendam. Sakitnya seperti ditusuk belati. Dari perbincangan dengan warga kampung, kutahu lelaki itu sama sekali tidak pernah ada di rumah itu, bahkan tidak ada seorangpun yang mirip lelaki itu yang pernah tinggal di kampung itu! Aku telah tertipu.

Sejak saat itu, aku terus menerus berdoa agar diberikan kesempatan untuk melampiaskan kesumat yang membara. Tiada seharipun aku lalai dari berdoa. Lalu kesempatan itu datang setelah sewindu penuh menunggu. Dari jauh aku melihatnya tersenyum genit kepadaku. Aku membalas senyumnya sebagai undangan agar ia mendekat. Di dalam hati aku membayangkan diriku bak laba-laba menunggu mangsa.

Langkahnya pasti dan wajahnya ceria. Perlahan ia mendekati meja tempatku menikmati kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Kue-kue pun baru selesai disuguhkan oleh pelayan. Aku duduk sendiri. Saat itu matahari sudah hampir tiba di puncak langit. Sebentar lagi azan Jumat akan berkumandang.

Aku cukup terkejut ketika ia menyapaku, “Kebetulan sekali bertemu dengan Abang, apa kabar? Kok gak pernahbalik lagi ke kampung? Udah gemukan ya sekarang. Pasti udah jadi orang sukses.”

Dalam hati aku mengumpat, “Kau pikir diriku keledai, kah? Yang bisa tercebur lagi di lubang yang sama.” Kuputuskan untuk mengikuti permainannya. Aku ingin membuatnya sama sakitnya dengan diriku bahkan, kalau perlu, dua kali lebih sakit.

“Eh, dimana ya kita pernah ketemu?” Aku bertanya sambil mengerutkan kening. Aku cukup yakin kalau lelaki itu telah melupakanku.

Sama sekali tak terlihat tanda terkejut di wajahnya. Ia menjawab dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya, “Ah, masa lupa. Di kampung dulu, kita kan sering sekelompok waktu main patok lele. Belajar berenang pun kita bersama.”

“Serius. Aku tidak ingat hal itu.”

“Abang sudah pelupa sekarang. Kawan seiring pun bisa lupa. Pasti karena sibuk jadi orang kota. Kapan terakhir Abang pulang kampung?”

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved