Cerpen
Lelaki Penipu
KALAU harus menyalahkan seseorang maka aku pasti menuding lelaki itu
“Sudah hampir dua puluh tahun”
“Berarti segitulah lamanya kita tak bertemu. Tapi aku tak mungkin lupa kepada Abang.”
Dalam hati aku masih terus mengumpat, benar-benar penipu manusia busuk ini. Begitu pun, aku memutuskan untuk terus memberinya angin. Bukankah aku tahu apa yang diinginkannya di akhir pertemuan?
“Bagaimana karir Abang?” Tangannya digenggamkan ke lenganku. “Kalau melihat Abang sesegar ini, susah untuk berkata Abang tidak sukses. Aku bersyukur bertemu Abang saat aku sedang kesusahan begini,” katanya. Ia menarik kursi didepanku dan menghempaskan dirinya disitu.
Aku tidak menyahuti perkataannya. Wajahku saja yang menyiratkan ketertarikan dengan perbincangan itu agar ia melanjutkan rayuan mautnya kepadaku. Aku yakin ia merasa dirinya adalah sang pemangsa, padahal aku pun telah bersiap untuk memangsa dirinya.
“Hidupku miskin sekali, Bang,” lanjutnya.
“Miskin bagaimana, kampung kita kan banyak ladang dan kebunnya.” Suaraku terdengar penuh kemarahan meskipun tidak sampai membentak. Orang-orang di kedai kopi pun serempak memandangiku. Wajah mereka menampilkan sorot kebingungan.
“Sudah tak ada yang bisa digarap. Hampir semua kawan sebaya kita keluar kampung, merantau. Begitu pula aku. Seminggu yang lalu sudah tiada sebulir beras pun untuk dimakan keluargaku. Kupinjam uang Si Adi lalu aku berangkat ke sini.”
“Kau sedang membohongiku, kan?” selidikku. Itu jurus pertama yang kusiapkan.
“Jangan menuduhku. Aku yakin Allah yang mempertemukan kita. Bantulah aku, Bang. Berilah aku sedekah sekadar saja. Zakat dari harta Abang pun akan kuterima. Biarlah aku hina asal keluargaku dapat makan. Kan udah lama Abang tak bayar zakat.”
Meskipun benar aku tak pernah lagi berzakat, tetapi lelaki ini kuanggap benar-benar menghina. Kemmarahanku makin gila. “Dasar penipu! Dulu kau rampas uangku sekarang kau rendahkan aku. Apa urusanmu aku membayar zakat atau tidak. Sepeser pun tak akan kuberikan untukmu! Hartaku kucari sendiri.Jadi cari sendiri untukmu. Bekerja! Jangan hanya bisa mengemis dan menipu.”
Aku tak peduli begitu banyak orang yang memperhatikan. Aku merasa senang dapat mempermalukannya di depan semua orang, menelanjangi kedoknya sebagaipenipu. Aku merasa menang.Wajahnya tertunduk seperti layaknya orang kalah. Ia bangkit lalu pergi meninggalkanku sambil mengucap salam. Aku merasa tidak perlu menjawab salamnya.
Aku yakin ia baru berjalan beberapa langkah saat sosoknya hilang bagai ditelan bumi tepat di depan mataku. Aku tidak tahu kemana perginya. Aku yakin tidak berpaling sedikitpun dari sosoknya. Tidak mungkin pula ia bersembunyi sebab tiada tempat sembunyi di sekitar kedai ini. Seketika jantungku terasa sakit. Aku lemas, jatuh berguling dan orang-orang memburu ke arahku.
“Kemana perginya lelaki tadi? Kemana?” sambil tersengal-sengal aku memandangi semua orang dan terus mengulangi pertanyaan yang sama. Wajah mereka semua tampak kebingungan.
Seorang remaja memutuskan menjawab pertanyaanku, “Pak, dari tadi saya tidak melihat seorang pun duduk bersama Bapak. Yang saya tahu, Bapak berteriak-teriak sendiri dan memaki-maki, kemudian diam dan terguling.” Orang ramai mengiyakan pernyataannya. Semua mendadak gelap. Suara terakhir yang kudengar hari itu adalah dari orang-orang yang menyeru untuk segera membawaku ke Rumah Sakit.
* Efrizal, peminat sastra, tinggal di Banda Aceh