Breaking News:

Opini

Snouck Hurgronje, Islam, dan Aceh

SNOUCK Hurgronje (1857-1936) adalah seorang ilmuan Belanda yang hingga kini masih menimbulkan kontroversial

Sebab, bagi Snouck, Islam adalah suatu kekuatan yang harus dipelajari secara sungguh-sungguh, dan harus diperlakukan dengan bijaksana oleh pihak Kolonial Belanda. Makanya tak heran, kalau selama di Arab Snouck bekerja keras menuntut ilmu pengetahuan agama Islam. Hampir semua kitab tafsir seperti Tafsir al-Baidhawi, Tafsir al-Bajuri, Al-Ikna’ dan kitab Tuhfah dipelajari sungguh-sungguh dan mendalam oleh Snouck, terutama setelah Snouck pindah ke Mekkah dari Jeddah pada enam bulan kedua ke datangannya ke Arab.

Selama tinggal di Mekkah, Snouck bergaul dengan ulama-ulama besar setempat, sampai kemudian ia kembali ke Belanda pada 1885. Tiga tahun setelah Snouck kembali ke negerinya itu, ia berhasil menerbitkan dua jilid buku dengan judul Mekkah. Ketika buku itu diedarkan, maka nama Snouck Hurgronje pun tersohor ke seluruh dunia. Buku itu dianggap sangat penting bagi tujuan politik kolonial di dunia.

Bertugas di Aceh
Mekkah memang tidak hanya telah memberikan inspirasi bagi lahirnya dua buku itu yang ditulis Snouck, tapi Mekkah juga telah membuat Snouck Hurgronje menjadi awal pemahamannya terhadap Aceh. Selama di Mekkah, Snouck menjalin hubungan akrab dengan seorang ulama asal Aceh bernama Habib Abdurrahman Az-Zahir. Ulama ini adalah bekas penasehat utama Sultan Aceh, yaitu Sultan Alaiddin Mahmudsyah (1870-1874 M). Namun karena diragukan integritasnya sebagai perantara dalam hubungan antara Sultan Aceh dengan pihak Belanda, maka Habib Abdulrahman dipecat oleh Sultan Aceh. Tetapi pemerintah Belanda memberikan pensiun kepada Habib Abdurrahman untuk hidup dan tinggal di Mekkah.

Dari dasar pemahamannya terhadap Aceh di Mekkah, maka ketika Snouck mengetahui berkecamuknya perang Aceh melawan Belanda, Snouck menawarkan diri pada Kementerian Urusan Jajahan Negeri Belanda agar ia dapat ditugaskan ke Aceh. Maka pada 1889, Snouck mendapat kesempatan pertama bertugas di Batavia (Jakarta sekarang). Gubernur Jenderal C Picnaeker Hordijk di Batavia waktu itu nnengangkat Snouck menjadi Penasehat Resmi Bahasa Timur dan Hukum Islam bagi Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara.

Tahun 1893 Snouck ditugaskan ke Aceh dengan tugas utamanya untuk menyusun saran-sarannya terhadap penyelesaian perang Aceh dengan Belanda. Pertama sekali Snouck tinggal di Aceh adalah di Ulee Lheue sebagai tempat yang menjadi markas utama militer Belanda. Di Ulee Lheue inilah Snouck berhasif menyususun sebuah laporan pertamanya tentang Aceh, yaitu Atjeh Verslag sebagal laporan yang menjadi dasar kebijakan polilik dan militer Belanda dalam menghadapi Aceh.

Menurut van Koningsveld, bagian pertama laporan Snouck tentang Aceh berupa uraian antropologi masyarakat Aceh, pengaruh Islam sebagai dasar keyakinan orang Aceh, serta peranan ulama dan Uleebalang dalam masyarakat Aceh. Dalam laporan itu Snouck juga menguraikan bahwa perang Aceh dikobarkan oleh para ulama, Sedangkan Uleebalang menurut Snouck bisa diajak menjadi calon sekutu Belanda, karena kepentingannya adalah berniaga.

Snouck juga menulis bahwa Islam bagi masyarakat Aceh juga harus dinilai negatif, karena Islam bisa membangkitkan fanatisme anti Belanda di kalangan rakyat Aceh. Karenanya, para pemuka agama dalam masyarakat Aceh hendaknya dapat ditumpas agar pengaruh Islam menjadi tipis di Aceh. Dengan demikian para Uleebalang menurut Snouck akan mudah diajak bersekutu dengan Belanda.

Satu kegagalan pemerintah Belanda di Aceh, menurut Snouck adalah akibat tidak adanya pengetahuan Belanda terhadap Aceh sebagai wilayah Islam. Itu sebabnya, ketika Snouck bertugas di Aceh, di samping mempelajari karakter masyarakatnya secara antropologis (adat dan budaya Aceh), ia juga mengkaji kitab-kitab para ulama Aceh. Di antaranya kitab Umdatu al-Muhtajin karangan Syekh Abdul Rauf Syiah Kuala, sebagai kitab yang dianggap Snouck sangat berpengaruh bagi pengembangan Tarekat Syatariyah di Aceh.

Buku De Atjehers (dua jilid: 1893-1894) yang ditulis Snouck tentang Aceh, secara ilmu pengetahuan mungkin orang Aceh harus berterima kasih kepada Snouck. Namun di sisi lain, apakah Snouck Hurgronje benar-benar masuk Islam, atau sekadar berpura-pura ketika ia berada di Mekkah. Wallahu a’lam bissawab.

* Nab Bahany As, Pegiat Budaya, tinggal di Banda Aceh. Email: nabbahanyas@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved