Cerpen

Asmara Bunga Ganja

Hujan deras baru saja berhenti. Matahari sudah bersiap-siap menuju peraduan

Editor: bakri

Karya Muhajir Juli

Hujan deras baru saja berhenti. Matahari sudah bersiap-siap menuju peraduan. Bayu berhembus dingin. Membekukan apa saja di sore nan sejuk itu. Suara burung hantu, monyet dan jangkrik saling beradu cepat. Lambaian daun-daun menyiratkan bahwa sebentar lagi malam akan menjemput.

Badrun, lelaki 30 tahun, tampak duduk termenung di atas dangau kecil yang dibangun di tengah-tengah ladang ganja. Sesekali dia menatap langit yang menuju gelap. Sebentar lagi ganja yang ditanam ditengah rimba Juli akan segera dipanen. Kuntum-kuntum bunga pada pepohonan pemberi rasa tenang itu terlihat ranum.

Pikiran Badrun menerawang. Zalihka sudah beberapa kali meminta agar Badrun segera meminangnya. Ayah dan ibu gadis berkulit hitam dan berhidung mancung itu sudah kehilangan kesabaran. Maklum saja, usia gadis bermata bulat itu sudah beranjak 25 tahun. Tentu sudah berada pada usia matang untuk menikah.

Alasan mereka seperti orangtua pada umumnya, ingin segera menimang cucu. Bagi mereka, Zalikha adalah harapan satu-satunya yang tersisa. Empat saudaranya yang lain sudah dilumat konflik Aceh.

Ti Maryam, kakak Zalikha yang paling bungsu, tewas ditembak, setelah diperkosa di tengah malam buta oleh para bajingan bersenjata. Sampai sekarang tidak terkuak siapa pelakunya.

Kedua abangnya, Ridwan dan Muslim, sudah sejak lama tak pernah pulang. Kabar terakhir dia ditangkap oleh serdadu saat hendak melarikan diri ke Malaysia.

Ti Hawa, seuleumung Zalikha, diculik dan sampai sekarang tidak jelas rimbanya. Sambil membulatkan asap rokok dengan mulutnya, Badrun menatap hamparan haparan ladang ganja. Dia tersenyum kecil.

“Sebentar lagi engkau akan kulamar Dik,” katanya pada angin.

***

“Bang, orangtuaku hanya memberi tempo lima bulan lagi buat Abang. Kalau tidak mereka akan menerima pinangan Haji Bakri,” kata Zalikha pada suatu sore.

“Iya, Abang paham kegundahan mereka Dik. Tapi adik tahu sendiri kan, Abang sudah lama tak punya kerja,” jawab Badrun dengan nada putus asa.

“Adik paham Bang. Sangat paham malah. Tapi soalnya apakah usia adik juga akan berhenti menunggu Abang dapat pekerjaan?” timpal Zalikha.

“Bahkan karena sangat paham pula, sehingga adik sudah mendapat gelar perawan tua di kampung ini. Apakah Abang tega menyiksa adik dan Mak serta Abah?” lanjut Zalikha.

Badrun diam. Dia tidak lagi mau melanjutkan debat dengan gadis yang sangat dia cintai itu. Sebagai lelaki dia sudah berusaha. Namun apa mau dikata, nasib baik belum berpihak dirinya. Dua kali berlayar gelap ke Malaya, dua kali pula dia tertangkap dan dideportasi ke Indonesia.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved