Cerpen
Asmara Bunga Ganja
Hujan deras baru saja berhenti. Matahari sudah bersiap-siap menuju peraduan
“Ah, yang benar Bang? Adik tidak percaya.”
“Sumpah ayang. Abang sebentar lagi gajian.”
“Emang Abang kerja apa sekarang?”
“Tenang. Pastinya, Abang akan melamarmu.”
“Janji ya gak bohong?”
“Iya. Abang janji.”
***
Badrun menelpon Leman. Dia mengabarkan bila kebun ganja siap dipanen.
“Oke. Besok aku datang. Kau jangan ke mana-mana. Sebaiknya kau panen saja duluan. Biar kau merasakan bagaimana bahagianya memanen harapan. Aku datang agak siang dengan rombongan dari kota,” kata Leman.
Badrun percaya apa yang dikatakan Leman. Pagi-pagi sekali dia langsung memanen ganja. Sambil menyanyikan lagu cinta Rhoma Irama, dia memotong satu persatu tumbuhan terlarang itu.
Benar, siang rombongan dari kota datang. Badrun kecut. Ternyata rombongan itu berseragam coklat. Tidak terlihat Leman di antara mereka.
Badrun ditangkap. Wartawan memotretnya. Badrun tersudut. Besoknya beberapa media menayangkan headline tentang pemuda yang ditangkap sedang memanen ganja di lahan seluas satu hektar.
* Muhajir Juli, adalah seorang pecinta dunia literasi. Kelahiran Gampong Teupin mane, Juli, Bireuen.