Cerpen
Rumah Bambu
SEPERTI petir di siang bolong, wajah ibu pucat pasi. Mulut ibu bergetar
Karya Halim Mubary
SEPERTI petir di siang bolong, wajah ibu pucat pasi. Mulut ibu bergetar. Di sisi ibu aku terpacak kaku. Hanya mata ibu yang silih berganti menatap wajah ketiga tamu kami itu. Ibu yang baru saja pulang dari mengikuti majelis taklim di musala desa, harus menerima kenyataan segetir ini.
“Jadi,” suara ibu bergetar sayup. “Rumah kami akan digusur?”
“Benar, Bu!” sahut tamu lelaki berkumis tebal. “Sebelumnya Dalam waktu dekat, areal ini akan dibangun gedung perkantoran!” tamu yang mengenakan seragam coklat muda, seperti yang sering dikenakan ayah itu, mengeluarkan selembar surat dari dalam tas mungil yang tersandang di bahunya.
Dengan tangan bergetar, ibu menerima surat berwarna coklat muda. Di sampul surat ada logo dan kop sebuah instansi tempat ayah pernah mengabdi dulu. Ibu membuka tergesa amplopnya dan menarik kertas berwarna putih. Dari balik kacamatanya, ibu membaca isi surat dengan mata basah.
“Ibu, apa benar rumah kita ini akan digusur?”
Ibu mengangguk pelan seraya mengusap kepalaku. “Ssst, jangan cengeng Arnita, kamu sudah besar. Ingat, apa pesan ayahmu dulu?”
Aku hanya bisa sesenggukan.”Lalu kita akan tinggal di mana nanti, Bu?!”
“Sudah, sudah. Nanti kita bicarakan lagi di dalam. Kita masih punya waktu seminggu,” ibu mencoba meredam kegamanganku.
Ardi, adikku yang kelas enam SD, baru saja pulang sekolah, tertegun sesaat di halaman begitu melihat ada keramaian di teras rumah. Sebelum langkahnya tergesa memburu ibu. “Apa yang terjadi, Bu,” aku melihat kebingungan di wajah adikku. Ardi menatap silih berganti antara Ibu, aku dan ketiga tamu kami.
Setelah ketiga tamu kami berlalu dengan mobilnya, ibu mengajak kami masuk ke dalam rumah.”Sini, Ibu mau bicara sama kalian.” Ibu duduk di kursi ruang tengah. Aku dan Ardi duduk di kiri kanan ibu.
“Ibu ingin kalian semua bisa memamahi situasi sulit ini,” ibu menatap kami silih berganti. “Kalian juga harus mengerti, rumah yang kita tempati hampir 20 tahun ini, bukan rumah pribadi, tapi rumah negara yang dipinjamkan kepada kita karena almarhum ayah kalian dulunya seorang polisi. Maka, ketika rumah ini akan dibongkar karena akan dialihkan untuk bangunan lain, kita semua harus rela menerimanya.”
“Lalu kita akan tinggal di mana, Bu?” sela Ardi yang juga mulai terisak.
Ibu lama tertegun. “Kita akan gunakan tabungan kita. Walau tak seberapa, tapi Ibu rasa cukup untuk menyewa sebuah rumah yang sederhana.”
Kami hanya terdiam. “Untuk itu, kalian jangan merasa sedih ya. Nanti ayah kalian juga akan sedih di alam sana kalau kalian tidak bisa menjaga diri.”