Cerpen
Rumah Bambu
SEPERTI petir di siang bolong, wajah ibu pucat pasi. Mulut ibu bergetar
***
Seminggu setelah surat penggusuran itu, akhirnya kami berhasil menemukan sebuah rumah di pinggiran kota.Kecuali berlantai semen dan beratap rumbia, rumah itu hampir seluruhnyaterbuat dari bambu. Aku jadi ingat rumah-rumah orang Eskimo yang terkesan alami.
Awalnya Ardi menolak rumah bambu itu. Katanya dia malu kepada teman-temannya. Tapi setelah ibu menjelaskan panjang lebar, dan rumah itu awalnya dihuni oleh seorang pelukis, Ardi yang memang juga punya bakat melukis bisa menerima tinggal di rumah bambu itu.Anehnya, selama kami menempati rumah bambu, Ardi semakin rajin melukis. Lukisan Ardi pun semakin “hidup” dan menemui bentuknya. Orang tak akan menduga jika semua lukisan adikku itu, dihasilkan oleh bocah kelas enam SD. Namun anehnya lagi, hampir semua lukisan Ardi, bertemakan polisi. Wajah ayah nampak hampir di semua karya Ardi.
Suatu hari, rumah bambu kami kedatangan seorang kurator lukisan. Setelah melihat-lihat hasil lukisan Ardi yang berjumlah belasan itu, sang kurator ternama itu mengatakan, “Saya akan pamerkan semua lukisan Ardi ini di pameran Galeri Nasional awal bulan depan. Saya tertarik dengan lukisan-lukisan ini.”
Mendengar komentar kurator itu, Ardi bersorak kegirangan sambil melompat ke pelukan ibu. Mata ibu berkaca-kaca. Aku melihat wajah ayah tersenyum dalam lukisan Ardi.
* Halim Mubary, dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga, bergiat di komunitas Rumah Inspirasi Bireuen