Cerpen

Rumah Bambu

SEPERTI petir di siang bolong, wajah ibu pucat pasi. Mulut ibu bergetar

Editor: bakri

***

Terlalu banyak kenangan di rumah dinas ayah ini. Rasanya tak mudah untuk melupakannya begitu saja. Terlebih kenangan bersama ayah. Mengingat sosok itu, aku seperti menyimpan sekerat memori indah yang tak pernah terlupakan. Walaupun aku hanya sempat mengecap kebersamaan dengan ayah selama 10 tahun, sebelum akhirnya beliau dipanggil Tuhan karena kecelakaan lalu lintas lima tahun lalu. Namun seluruh kenangan tentang ayah, rasanya tak secuil pun yang menyisakan kekecewaanku pada ayah.Ayah jarang sekali marah padaku, apalagi memukuliku. Walaupun terkadang aku suka berbuat jail terhadap Ardi, atau ada sikapku yang menjengkelkan ayah, namun ayah selalu berhasil mengatasinya dengan kelembutan dan kesabaran yang berlimpah.

Seingatku, ayah hanya sekali pernah marah padaku, karena aku mengambil uang dalam dompet ayah tanpa sepengetahuan dan seijinnya. Setelah itu aku tak pernah lagi melihat ayah memarahiku. Banyak cerita temanku yang mengeluhkan ayah mereka yang sering memarahi dan memukuli mereka, hanya lantaran persoalan sepele. Bahkan ada di antara temanku yang dihukum berat oleh ayahnya, karena suatu kesalahan.

Aku bahkan tak pernah melihat ayah murkapadakami, bahkan dengan ibu pun juga tidak. Ibu pernah bercerita padaku, suatu hari dia dengan sengaja tidak memenuhi permintaan ayah memasak gulee pliek ukesukaan ayah. Padahal ayah sudah berbelanja. Ibu berpikir, dengan berbuat kesalahan seperti itu, maka ibu akan dimarahi ayah.

“Kamu tahu apa yang dilakukan ayahmu saat ibu sengaja mogok masak yang tanpa alasan itu?”

Aku menggeleng. “Ayahmu sendiri yang memasak gulee pliek, yang ternyata setelah ibu cicipi, tak kalah enaknya dengan hasil masakan ibu,” lanjut Ibu.

Ibu selalu mengatakan, ayah adalah manusia langka yang diturunkan Tuhan khusus untuk kami. “O, bukan! Bukan untuk kita saja, tapi untuk semua orang,” ralat ibu dengan tergesa.

Ya, ibu benar. Segala kenangan tentang ayah bukan hanya milik kami. Namun untuk siapa saja. Baik saat ayah sedang mengabdi sebagai polisi, maupun ketika ayah dibutuhkan orang di luar jam dinasnya. Pernah ada seorang ibu datangke rumah kami sambil berurai air mata, karena anaknya hilang di sebuah pusat perbelanjaan, maka tanpa diminta untuk kedua kalinya, ayah berangkat sendiri dengan motornya, mencari anak si ibu yang hilang itu. Setelah berputar-putar di pusat perbelanjaan hampir dua jam, akhirnya ayah menemukan anak yang hilang itu disebuah gudangdi pusat perbelanjaan itu.

Tetapi ayah menolak uang terima kasih yang berjumlah jutaanyang disodorkan kedua orangtua si anak yang kebetulan dari keluarga berada itu. “Ini sudah tugas saya sebagai abdi Negara, Bu,” kilah ayahtanpa beban. Ibu hanya melihat sikap ayah yang bijak itu, tanpa harus merecokinya dengan pendapat sendiri. Meskipun esoknya, tiba-tiba datang orang suruhan orang berada itu mengantarkan sepeda gunung ke rumah kami. Namun tetap saja ayah ingin memulangkan kembali pemberian itu. Kali ini ibu yang meneguhkan hati ayah untuk bisa menerimanya.

“Kita bukan malaikat, Ayah. Ada kalanya kita harus bersikap lain untuk sebuah pemberian yang tidak mengikat seperti ini,” seru ibu yang akhirnya membuat ayah mengalah.Keinginan Ardi ke sekolah menggunakan sepeda akhirnya terpenuhi.

Pun ketika ada anak dari sebuah keluarga pejabat terpandangyang terjaring operasi narkoba, ayah menolak untuk melepaskan anak pejabat terpandang itu. Saat itu ayah yang menjabat sebagai Kapolsek, ditawari sebuah mobil sebagai imbalannya.Namun hanya satu bulan setelah peristiwa itu, ayah dimutasikansebagai pejabat yang lebih rendah.

“Inilah yang mampu ayah berikan untuk kalian, anakku. Sebuah kekayaan batin yang tiada nilai harganya. Betapapun keinginan untuk hidup dalam gelimang kilauan itu ada. Tapi ayah tak sanggup melakukannnya!” ucap ayah suatu kali saat beliau mengajakku dan Ardi jalan-jalan sore dengan sepeda motor tuanya, satu-satunya kendaraan pribadi ayah. Kami bahagia, meski saat itu ibu tak bisa ikut serta jajan di warung pinggir jalan. Bukan apa-apa, karena sadel motor ayah tak menyisakan lagi tempat untuk ibu. Tetapi ayah tak melupakan ibu begitu saja. Jika ibu tak ikut bersama kami, ayah kerap membawa pulang gado-gado kesukaan ibu.

Ayah membesarkan anak-anaknya hanya dengan uang gajinya yang tak seberapa.Ayah pula yang selalu mengatakan pada kami, agar jangan hidup dengan kemanjaan dan kemudahan saja. “Ayah kalian ini bukan orang kaya, uang ayah tak sanggup untuk beli mobil. Jadi jangan minta yang diluar kemampuan ayah,”kata ayah mengingatkan kami.

Aku harus meredam keinginan untuk bisa naik mobil seperti teman-temanku yang lain. Aku hanya bisa mendengar cerita teman-temanku yang setiap liburan sekolah selalu diajak orangtuanyaberlibur ke Medan, Jakarta, Bandung, bahkan ada yang ke luar negeri. Sedangkan kami, hanya diajak ayah berlibur ke kampung nenek dengan menumpangi bus, agar ibu juga bisa ikut serta. Kami tak pernah masuk ke mal dan swalayan di kota. Kami tak pernah menginap di hotel mewah, selain di kamar nenek yang berlantaikan semen, berdindingkan tepas, dan beratap rumbia. Jamaknya rumah-rumah warga kampung lainnya. Di rumah nenek juga tanpa televisi. Sebagai gantinya, kami dihibur oleh suara jangkrik dan cicak di dinding.

Dibandingkan dengan keluarga teman-temanku, kami sangat tertinggal dalam segala hal. Mereka rata-rata punya mobil dan rumah bagus, meskipun pangkat ayah mereka lebih rendah dari pangkat ayahku. Sementara kami, hingga ayah berpulang, jangankan punya mobil, rumah pun kami tak punya.Ayah hanya mewarisi kami sebuah motor bebek. Dengan sepeda motor itu pula, setelah ayah tiada, ibu mengantarjemput aku dan Ardi ke sekolah. Dengan motor itu pula, ibumenjajakan kuenya ke warung-warung.Ketika aku kuliah sekarang, aku masih menggunakan satu-satunya hasil keringat ayah itu ke kampus.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved