Cerpen

Pos Tentara

Pada dinding tembok bekas pos tentara yang ada di desa saya, kini telah menjadi tempat curahan tulisan

“Ada apa Teungku?” sapa saya lagi.

“Tidak apa-apa,” jawab Teungku pelan dan mulutnya seperti tertahan.

“Tapi saya lihat Teungku menangis. Ada apa Tengku.”

Kali ini Teungku tidak langsung menjawab tanya saya. Beliau malah mendudukkan tubuhnya di balai bekas pos tentara yang terbuat dari anyaman bambu itu.

“Kamu tidak akan mengerti apa yang saya rasakan. Pergilah, saya ingin tidur di sini, saya ingin sendiri.”

“Tapi Teungku, untuk apa Teungku tidur di sini. Di sini banyak nyamuk dan pacat yang bisa menggigit Teungku.”

“Pergilah Gam, kau masih muda, kau tak akan mengerti apa yang aku rasakan,” katanya lagi. Perkataan Teungku membuat saya terdiam. Ya, saya memang masih muda. Tak pantas menanyai segala urusan orang tua. Saya memang salah. Saya merasa lancang bertanya pada Teungku Mudin yang tak lain adalah bekas guru mengaji saya.

Saya lihat kemudian Teungku Mudin membaringkan tubuhnya di atas balai bekas pos tentara itu. Beliau masih terlihat sedih. Perasaan iba semakin berputar-putar di hati saya. Tapi saya harus segera meninggalkan beliau seperti pintanya. Saya pun memalingkan tubuh meninggalkannya.

***

Di rumah, Abi menyambut kepulangan saya dengan wajah tidak seperti biasanya. Abi biasanya langsung tersenyum begitu melihat saya muncul di hadapannya. Tapi kali ini tidak. Abi terlihat kesal, atau habis marah pada seseorang. Apa yang membuat Abi bersikap demikian. Apakah Abi marah? Pertanyaan itu beberapa saat terpendam di hati saya.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved