Cerpen

Pos Tentara

Pada dinding tembok bekas pos tentara yang ada di desa saya, kini telah menjadi tempat curahan tulisan

“Saya perhatikan abi seperti tidak senang melihat saya pulang. Ada apa Abi?” Tanya saya saat Abi memotong-motong daging rusa hingga membentuk sebesar ibu jari.

“Apa aku tak kesal Mae, itu apa kau tidak melihat si Mudin kini sudah gila. Kerjanya kini tiduran di bekas pos tentara itu. Sudah beberapa kali kusuruh dia pulang, tapi dia tak mau hiraukan aku. Kau tahu, aku tak suka ada orang di pos itu.”

“Memangnya kenapa Teungku Mudin tidur di pos itu Abi,” kuharap pertanyaanku itu bisa menjawab kenapa Teungku Mudin tadi kulihat sangat bersedih.

“Dia tertusuk dengan anak panahnya sendiri.”

“Maksud Abi,” tanyaku penuh heran.

“Dia dipermalukan oleh anak murid-muridnya sendiri. Salah Mudin juga, meremehkan orang dan menganggap diri lebih hebat.”

“Tadi aku juga melihat Teungku Mudin di pos itu Abi, wajahnya sedih sekali. Teungku Mudin tadi juga kulihat habis menangis. Kenapa Teungku Mudin sampai seperti ituAbi.”

“Ha ha ha ha, aku takut Mudin benar-benar menjadi gila. Kalau sampai demikian bagaimana nasib dayahnya itu.”

“Sebenarnya apa yang membuat Teungku Mudin begitu bersedih?”

“Ulah si guru Bahar. Dia benar-benar menumpahkan sakit hatinya pada si Mudin.”

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved