Rabu, 15 April 2026

Zaini Petani Sukses, Merawat Kopi Penuh Cinta

Kopi adalah tanaman keras yang sangat manja. Layaknya manusia, tanaman kopi harus dirawat dengan sepenuh jiwa,"

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Amirullah
SERAMBI/FIKAR W EDA
Zaini, petani kopi 

KEBUN kopi itu menghampar di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Luasnya enam hektare. Terletak di Desa Merah Mege, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah. Lebih kurang 30 Km dari Takengon, ibukota kabupaten.

Tampilan kebun itu, tampak berbeda dibanding kebun kopi lain di kawasan tersebut; berbanjar teratur, berpangkas rapi. Jarak tanam antarpohon 2,7 meter persegi. Lahan bersih, dan tentu saja asiri. Pemiliknya bernama Zaini.

"Kopi adalah tanaman keras yang sangat manja. Layaknya manusia, tanaman kopi harus dirawat dengan sepenuh jiwa," kata Zaini mengawali perbincangannya.

Merawat kopi adalah merawat kehidupan. Merawat dengan penuh kasih sayang. Zaini mengibaratkan kopi sebagai mahluk yang butuh sentuhan cinta.

"Dengan cara seperti itu, tanaman kopi akan memberikan hasil terbaik," katanya lagi.

Kopi dari kebun Zaini memang istimewa. Dalam Festival Kopi Arabica di Bali pada 2010, kopi Zaini juara pertama. Sejak itu para tamu asing mulai bertandang ke kebun Zaini.

Zaini memproduksi kopi specialty dan bubuk kopi merek "Wan Geldok Coffee" serta "Rasaco."

Kebun kopi milik Zaini juga meraih anugerah "perawatan kopi terbaik" se Aceh Tengah, penghargaan "petani prestasi" dari Kementerian Pertanian serta penghargaan petani pelopor dari Bappeda Aceh.

Kepala Bagian Produksi Kopi Dinas Perkebunan Aceh Tengah, Ir. Sulwan Amri menilai Zaini sebagai petani futuristik. Potret petani kopi Gayo masa depan yang sukses.

"Di Aceh Tengah hanya Pak Zaini yang menyediakan kebunnya sebagai pusat pelatihan budidaya kopi yang terbuka kepada publik," komentar Sulwan Amri, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala angkatan 1984.

Sebuah rumah berdinding kayu, beratap seng, dibangun di tengah kebun. Itu adalah rumah yang dihuni Zaini bersama kelurga.

Istrinya, Rauda, bekerja sebagai bidan desa setempat. Keluarga ini dikaruniai tiga anak yang beranjak dewasa.

Tak jauh dari rumah induk terdapat bangunan ukuran sedang, berisi beberapa peralatan prosesing kopi, dan sebuah balai pertemuan dengan dinding yang terbuka.

Sebuah kamar berada di pojok balai. Kamar ini sering digunakan sejumlah tamu asing yang bermalam di sana. Zaini menyediakan peralatan tidur sederhana.

Kalau tamu yang menginap ramai, Zaini mempersilakan memanfaatkan ruang balai pertemuan sebagai tempat bermalam.

Halaman 1/4
Tags
kopi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved