Cerpen

Penari Saman Merindu Laut

MIMPI Win terhenti bersamaan dengan runtuhnya dinding gunung berbatu pada pendakian menuju

Editor: bakri

L300 mengepulkan asap di halaman rumah dan melaju dengan perlahan. Satu persatu bukit-bukit dan likuan jalan di lewati. Sepanjang perjalanan satu-satu barisan tusam mulai mengecil dan hilang ditelan kabut. Win hanya memejamkan matanya, membayangkan hanya dalam hitungan jam dia telah sampai di Banda dan akan melihat laut. Win akan mencicipinya, benarkah asin seperti kata orang-orang. Sesekali Win meneguk teh botol yang dibelinya di terminal tadi. Win tertidur dalam bayang dan angan-angannya, dia seperti menyesalkan sikap amanya, sikap Inenya, dan saat ini sikapnya pula yang pergi tanpa berpamit pada ama dan ine. Di luar terlihat kabut semakin menebal. Gerimis mulai turun dan semakin lama semakin deras, membuat suasana semakin sejuk dan menghantarkan Win tertidur pulas.

Dtuarrrrdddrrr. semua orang yang ada dalam mobil itu dikejutkan dengan dentuman di atas mobil. Sopir sudah mengerem mobil tapi jalanan sangat licin, mobil bergerak terus dengan sendirinya. Ada arus air yang deras yang menuruni lereng gunung itu yang membuat mobil tergelincir. Dengan terpaksa perjalanan itu di hentikan dan butuh waktu lama untuk mengembalikan mobil pada keadaan semula dan berbalik lagi ke desa. Kayu-kayu tumbang menghalangi jalan dan mobil angkutan terhenti. Sejenak suasana sepi, semua penumpang ingin menyadari setiap apa pun yang terjadi begitu pula Win, namun belum pulih benar kesadaran Win yang terbangun dari tidurnya, Win merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari lengan sebelah kanannya yang sedari tadi berdempet dengan kaca. Tangan Win Patah.

* Rismawati, dosen di jurusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, Unsyiah

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved