Cerpen
Penari Saman Merindu Laut
MIMPI Win terhenti bersamaan dengan runtuhnya dinding gunung berbatu pada pendakian menuju
Win ragu, melanjutkan ucapannya, dia merasa konyol sekali saat itu jika harus menyampaikan keinginannya pada Ama. “Mmmmh. Ah sudah lah Ama lupakan saja”
“Katakanlah Win, Jangan Buat Ama penasaran,” paksa Ama.”Aku ingin melihat laut, Ama. Benarkah air laut itu asin, Ama? dan sepertinya menari saman di tepi laut asik sekali.”
“Hahahaha…Win, Win,” ama mencoba mentertawai Win, yang sebenarnya tawa itu kecut.
“Kenapa Ama tertawa, Ama sudah janji tidak tertawa tadi. Apa aku salah Ama? seumur hidup kita belum pernah melihat laut, bukan hanya aku tapi Ama juga, ine juga, nenek, kakek dan seluruh orang di Gayo mungkin belum pernah melihat laut, kita hanya tahu gunung-gunung-gunung, begitu kan Ama.”
“Ko harus bangga Win Gunung Louser itu milik kita, Win. Coba ko pergi ke gunung itu Win, puluhan dan ratusan bunga tumbuh liar di sana, indah sekali, ko bisa rayu seberu sedang dengan bunga itu. Untuk apa melihat laut..hahah..”
“Ama berhentilah menertawaiku, kalau Ama anggap ini konyol, baiklah Aku tidak akan pergi untuk itu. Aku ingin kuliah Ama, supaya bisa mengajarkan tari saman. Dimana-mana telah di buka kampus kesenian Ama, termasuk di Banda akan di buka kampus seni tapi guru-guru dan dosen-dosen kesenian itu tidak bisa menari saman. Apa Ama pikir cita-citaku ini konyol lagi.”
“Sekarang pun ko bisa mengajar tari saman jika ko mau, Win,” jawab Ama singkat.
“Tapi tidak diakui oleh siapapun, tidak ada gelar, S.Sn., S.Pd. M.Sn. M.Pd. Kalau hanya di elu-elukan seberu desa apalah gunanya Ama.”
“Tapi Ama tidak mau ko pergi, Ko tega melihat Ama sendirian di rumah ini?” Suara ama meninggi mengharap anaknya patuh. “Jangan Ama ulang cerita Ama padaku. Jika sampai saat ini pun Ama tidak bisa membawa ine pulang ke rumah ini,” lawan Win. Sepertinya Win betul marah, menyebut-nyebut ine itu cukup memukul ama. Sedangkan ama tidak ingin menyakiti Win lagi sehingga tanpa jawaban ama meninggalkan Win begitu saja. Sebenarnya bukan hanya terpaut oleh biaya, tapi sejak kepergian ine, ama hanya punya Win satu-satunya. Ama tidak akan pernah ikhlas jika Win harus pergi tapi ama tidak pernah mengungkapkan itu pada Win.
Akhir-akhir ini Win banyak mendapat panggilan menari saman dengan timnya. Win penuhi semua undangan itu. Kemahirannya pun semakin bertambah-tambah begitu pun kepopulerannya. Setiap orang yang melihatnya menari saman akan mengelu-elukannya mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, sampai menjadi ujung lidah di kalangan gadis-gadis remaja. sampai-sampai tidak ada orang yang tidak mengenalnya.
Win berjalan gontai, di antara bunga yang berwarna orange dan merah muda, sekawanan kupu-kupu kuning bercumbu memeriahkan dahaga di kiri-kana jalan yang lembab oleh embun pagi, inilah keadaan kampung kami, kampung di bawah kaki Louser. Win menatap jauh hingga ke pucuk gunung-gunung yang memutih. Inilah pertanda kemiri sedang musim bunga, artinya butuh waktu lama untuk menunggu musim panen hingga Win punya cukup biaya.
Win termenung sesaat menyadari indahnya desanya meski tak seperti negeri sakura yang bersalju dan tak seindah negara Inggris tapi ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi Win. Saat ini Win hanya ingin melihat laut meskipun di kampung ini punya hujan batu dengan kristal-kristal es dan bunga edelweis sebagai pelengkap keindahan. Tapi cita-cita Win terbelenggu di sini. Dalam negeri yang bulat di kelilingi bukit tusam serupa kuali. mungkin bukan hanya Win tapi puluhan dan ratusan remaja Gayo lainnya.
Orang-orang menyebut kampung kami dengan sebutan negeri Seribu Bukit, negeri di atas angin, di bawah kaki Louser. Win hanya meneriakkan kegelisahannya dalam bait-bait syair samannya memecah kesunyian hingga ke pucuk-pucuk tusam. Ama boleh saja membelenggu cita-citanya tapi tidak akan ada satu orang pun yang bisa membelenggu tubuh Win dan mulut Win berhenti menari saman. Yang Win sadari bahwa dia tidak boleh berhenti sampai di sini.
Dikala musim panen kemiri itu tiba, Win mengutip buah-buah kemiri tua yang telah rontok. Dia hendak mengumpulkan sebanyak-banyaknya supaya cukup uang untuk berangkat ke Banda. Win tidak lagi memintai ijin ayahnya, karena saat ini dia berpikir Amanya adalah manusia paling egois yang membelenggu cita-citanya.
Di bawah sinar matahari senja kala itu, udara mulai berhembus dingin. Win berkemas-kemas, hanya tas ransel dan ijazah SMA yang ia siapkan. Win hendak pergi. Ama hanya menatapnya dari balik jendela rumah. Ama tidak ingin menghalangi Win, walaupun sadar dia merasa berat melepaskan Win. Win pun tidak ingin mengingat-ingat banyak hal, dia tidak ingin mengingat keegoisan amanya yang membuat ine pergi dari rumah, dan kini membelenggu cita-citanya. Win tidak ingin pula mengingat inenya yang egois yang rela meninggalkannya. Di antara kegelisahannya, Win hanya ingin bersuka cita menyambut cita-citanya yang sesaat lagi akan dia tempuh dan dijalaninya sendiri, kuliah di jurusan seni dan nantinya akan mengajarkan tarian saman pada semua orang.