Breaking News:

Belanda, Kuburan, dan Aceh

Walau Belanda sudah angkat kaki lebih setengah abad lalu, tabiat itu masih diwarisi, mungkin dari “orang-orang yang tabek keu kafee Ulanda”

Editor: Amirullah

1. Aceh Masa Depan

Salah satu batu nisan di kompleks bekas Kerajaan Lamuri, di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Setiap jengkal di Aceh memiliki nilai budaya dan sejarah yang sangat berharga bagi masa depan, menata kembali untuk memberikan sebuah bukti peradaban kepada dunia, sebagaimana dilakukan oleh banyak negara di Eropa, seperti Jerman, Swedia, Belanda pasca perang dunia II, bahkan Turki dan Jepang sekalipun.

Walaupun Negara-negara tersebut dibilang maju dan modern, tetapi masih menjaga baik warisan peradabannya terdahulu sebagai cagar budaya dan menjadi aset pariwisata yang ekonomis dan religious.

Sebenarnya, satu dasawarsa Aceh pasca damai menjadi momen bagi pemerintah bersama masyarakat Aceh berbenah “rumah sendiri”. Rekonstruksi Aceh pasca bencana (alam, konflik/ perang) yang terbilang puluhan (ratusan) tahun harus berkelanjutan dan komprehensif.

Sungguh naif, pembangunan di era modern dibangun di atas kuburan, mengingatkan kita tabiat Wahabi di Arab Saudi dan perilaku penjajah Belanda di Aceh masa lampau.

Jika demikian, lebih baik membangun “rumah baru” di tempat lain untuk pemerataan kesejahteraan di Aceh daripada harus menghancurkan peradaban yang pernah membawa nama harum bangsa. Intinya, merehab “Aceh (rumah) lama” bukan berarti menghancurkan pondasi awal. Bisakah?

***

[PENULIS HERMANSYAH, MA.Hum, Adalah dosen Bidang Teks Klasik dan Kajian Naskah pada Prodi SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, dan Peneliti Manuskrip]

Halaman
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved