Opini
Spirit Khandaq di Selat Hormuz
Salah satu contoh klasik yang kita baca dalam Tarikh Kenabian ialah strategi yang diperkenalkan Salman al-Farisi saat Perang Khandaq (Ahzab)
Arif Ramdan, Dosen Fakultas Dakwan dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
DALAM sejarah panjang peradaban manusia, kecerdasan tidak hanya tercermin dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam cara suatu bangsa mengelola ancaman. Salah satu contoh klasik yang kita baca dalam Tarikh Kenabian ialah strategi yang diperkenalkan Salman al-Farisi saat Perang Khandaq (Ahzab), sebuah inovasi militer yang menjadi titik balik dalam sejarah awal Islam.Pada saat itu, tahun ke-5 Hijriah Madinah berada dalam ancaman besar dari koalisi pasukan kafir Quraisy dan sekutunya yang dipimpin Abu Sufyan bin Harb. Dalam kondisi genting tersebut, Salman al-Farisi mengusulkan strategi yang tidak lazim bagi masyarakat Arab saat itu, yakni menggali parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan kaum muslimin Madinah.
Strategi ini bukan sekadar taktik militer, melainkan bentuk kecerdasan adaptif, mengambil pengalaman dari tradisi Persia (Iran) dan menerapkannya dalam konteks baru dalam risalah kenabian. Hasilnya signifikan. Parit tersebut berhasil menghambat laju pasukan lawan, kafir Quraisy, dan mengubah potensi kekalahan menjadi keberhasilan bertahan hingga musuh frustasi dan lari kembali ke Makkah. Dalam literatur sejarah militer, ini sering dibaca sebagai bentuk awal dari defensive asymmetric strategy, yakni cara cerdas pihak yang lebih lemah untuk menahan kekuatan yang lebih besar.
Khalid bin al-Walid, saat itu masih berada di pihak kafir Quraisy berperan sebagai komandan kavaleri dan sempat mencoba mencari celah untuk menembus pertahanan parit yang dibuat kaum Muslimin. Hasilnya gagal, ia tak mampu menembusnya, dan inilah contoh bagaimana kecerdasan al-Farisi berinovasi strategis mengimbangi keterbatasan kekuatan militer.
Strategi yang asing ini membuat pasukan Quraisy kehilangan ritme tempur. Kavaleri mereka, yang selama ini menjadi kekuatan utama, tidak bisa bergerak leluasa. Upaya menyeberangi parit selalu gagal, kecuali segelintir orang seperti Amr bin Abd Wudd yang berhasil melompati, namun justru berakhir dengan kematian dalam duel.
Hari-hari pun berlalu tanpa pertempuran terbuka. Tidak ada kemenangan, tidak ada terobosan. Yang ada hanyalah penantian panjang di bawah cuaca dingin, angin gurun yang menusuk, dan logistik yang kian menipis. Pasukan yang awalnya datang dengan semangat ofensif perlahan berubah menjadi pasukan yang bertahan dalam ketidakpastian.
Setiap percobaan menemui jalan buntu. Mereka menghadapi musuh yang tidak mereka lihat secara langsung, tetapi merasakan dampaknya melalui kebuntuan total. Ketegangan internal pun meningkat. Koalisi besar yang terdiri dari berbagai kabilah mulai kehilangan kesabaran. Rasa saling percaya melemah, koordinasi tidak lagi solid, dan tujuan bersama mulai dipertanyakan. Dalam situasi seperti itu, kekuatan besar justru berubah menjadi beban, karena semakin lama mereka bertahan, semakin besar tekanan logistik dan psikologis yang harus ditanggung.
Puncaknya terjadi ketika badai besar datang menerjang perkemahan mereka. Angin kencang merobohkan tenda, memadamkan api, dan menambah kekacauan yang sudah ada. Dalam kondisi dingin, lapar, dan kehilangan arah, keputusan pun diambil, mundur. Apa yang awalnya dirancang sebagai operasi penghancuran cepat berubah menjadi kegagalan total tanpa pertempuran besar. Pasukan Quraisy pulang bukan karena kalah di medan laga, tetapi karena dikalahkan oleh strategi, waktu, dan tekanan psikologis yang tak mampu mereka atasi.
Hormuz mengguncang dunia
Berabad-abad kemudian, pola serupa dapat diamati dalam lanskap geopolitik modern, khususnya pada dinamika di Selat Hormuz. Jalur sempit ini merupakan salah satu titik paling vital dalam sistem energi global. Data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Artinya, gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat memicu efek domino terhadap harga energi global.
Jika strategi Khandaq bertujuan menyelamatkan Madinah dari kehancuran serangan kafir Quraisy, maka strategi Selat Hormuz memiliki dampak yang jauh lebih luas, mengguncang stabilitas energi global dan mempengaruhi banyak negara sekaligus. Dalam konteks dinamika global hari ini, gejolak di Selat Hormuz menunjukkan bagaimana satu titik geografis dapat menjadi pusat tekanan dunia. Amerika Serikat dan sekutunya tampak dipaksa menghadapi realitas baru, di mana ancaman terhadap jalur energi ini cukup untuk mengguncang stabilitas tanpa harus terjadi perang terbuka.
Ketegangan di Selat Hormuz kerap diikuti lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian merambat ke berbagai sektor ekonomi global. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi pihak yang ikut merasakan efeknya, baik dalam bentuk tekanan inflasi maupun peningkatan beban subsidi energi. Laporan Bank Dunia dan IMF berulang kali menegaskan bahwa volatilitas harga energi global memiliki korelasi langsung dengan stabilitas ekonomi negara-negara importir minyak.
Dalam alur ini, Hormuz tidak lagi sekadar jalur laut, melainkan menjadi simbol bagaimana penguasaan ruang strategis mampu menciptakan efek global, sebuah cerminan nyata dari kecerdasan siasat yang bekerja bukan dengan kekuatan langsung, tetapi dengan daya tekan yang meluas. Kedua momentum kasus Khandaq dan Hormuz, dengan pola yang hampir sama, yaitu memanfaatkan ruang, geografi, dan keterbatasan lawan untuk menciptakan keunggulan strategis bagi Iran saat ini.
Tentunya kesamaan ini bersifat konseptual, bukan garis warisan langsung. Yang tampak berulang bukanlah taktik spesifik, melainkan pola berpikir: kecerdasan dalam membaca situasi, kemampuan beradaptasi, dan pemanfaatan kondisi yang ada secara maksimal. Dengan demikian, narasi tentang “kecerdasan Persia” bukan sekadar romantisasi sejarah, tetapi refleksi tentang bagaimana tradisi intelektual dan strategi dapat terus hidup dalam berbagai bentuk.
Dari parit sederhana di Madinah hingga jalur laut paling strategis di dunia, satu benang merah tetap terlihat di mana kekuatan tidak selalu ditentukan oleh besarnya pasukan, tetapi oleh kecerdasan dalam menyusun siasat yang membuat Presiden Amerika Donald Trump, tram trum tidak karuan, hingga pada beberapa pekan terakhir ini statemennya di media sering tidak masuk di akal. Ia mengaku telah menang perang melawan Iran. Tentu aneh? Sebab kenyataan di lapangan sangat berbeda, karena Iran terus menguasai Selat Hormuz dan mewajibkan membayar 2 juta dollar AS bagi setiap kapal tanker yang melintas, tentu hal ini berdampak sangat besar terhadap perekonomian global.
Spirit Salman al-Farisi sebagai arsitek Perang Khandaq dapat dibaca sebagai cermin cara berpikir yang masih menemukan relevansinya pada Iran modern, yakni kecerdasan dalam menghadapi keterbatasan dengan strategi yang tidak langsung. Seperti Salman yang menghadirkan parit sebagai solusi kreatif dalam Perang Khandaq, Iran hari ini memanfaatkan Selat Hormuz sebagai ruang strategis untuk menekan lawan yang secara militer lebih kuat.
Dalam tekanan konflik global, pendekatan ini menunjukkan pola yang serupa. Bukan mengandalkan kekuatan frontal, melainkan kemampuan membaca situasi, memanfaatkan geografi, dan menciptakan dampak luas dengan biaya relatif kecil, sebuah bentuk kecerdasan adaptif yang menjadikan strategi sebagai alat bertahan sekaligus alat tawar dalam percaturan dunia modern.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Arif-Ramdan-OKE.jpg)