Cerpen

Lapar

AIR bah kuning kental itu berasal dari puncak Gunung Damaran

Banam memperhatikan polah Rapiah dengan hati terluka. Ia merasa terperosok ke lembah yang paling dalam. Banam tertunduk pilu, ia belum bisa bangkit untuk berbenah, tumpukan material berupa pasir dan tanah liat yang dibawa oleh air bah itu telah menghancurkan semua lahan perkebunannya. Tak ada sebatang tanaman pun yang tersisa. Hendak menanami tanaman barupun sangat mustahil, karena pada tanah yang berpasir tak ada pohon kopi yang mau tumbuh. Sedari siang tadi ia telah berusaha mencari pinjaman kemana-mana. Tapi tak ada seorangpun yang hirau.

Di sisi kanan gubuk, Rapiah tengah sibuk menyusun ranting-ranting kayu bakar yang ia dapatkan siang tadi.

“Bang, tak ada lagi yang bisa kutanak malam ini untuk mengganjal perut, mungkin bang Rusli masih mau meminjamkan uang?”

“Untuk meminjam uang lagi pada bang Rusli, aku benar-benar malu. Hutang kita yang sebelumnya saja belum dapat dilunasi sampai sekarang,” Banam menjawab dengan berat.

“Tapi Bang, bagaimana mungkin kita diam membiarkan perut anak-anak kecil itu kosong.”

“Aku akan mencoba menemui bang Bakar, mudah-mudahan ia bisa menolong.”

Rapiah memandangi punggung Banam yang menjauh, ia memindahkan periuk besi yang menghitam pada tungku tanah. Telah berminggu-minggu tungku hitam itu membeku. Bantuan masa gawat darurat bencana dari pemerintah berupa beberapa sak beras, mie instan, sarden dan air mineral telah lama habis.

Malam kian larut, anak-anak kelaparan itu akhirnya tanpa sadar telah tertidur karena terlalu lama menunggu. Rapiah mematikan perapian pada tungku tanah yang menghitam. Gemeretak batu pada periuk tembaga itupun berhenti dan hanya menyisakan aroma asap. Ia mengelus rambut Amin dan Resti dengan hati-hati. Kini tubuh anak itu begitu kurus, serupa kulit pembungkus tulang.

***

Menjelang fajar, Rapiah terbangun. Dalam remang, tangannya meraba-raba satu persatu anaknya. Kecemasan luar biasa mencekam hatinya saat ia merasai tubuh Amin. Tubuhnya begitu dingin. Berulang kali Rapiah menggoyang tubuh anak lelakinya itu. Tapi lelaki kecil itu hanya diam tak bergerak.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved