Opini
Mencari Aceh
MENCARI “di mana” Aceh tentu saja mudah. Setelah Smong 2004, bukan hanya orang Indonesia, warga dari
Aceh adalah gotong royong, waqaf harta dan tenaga untuk membangun Darussalam di mana dua bilik jantong hate Aceh, Uiniversitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, didirikan. Dan jika harta dan tenaga pun tak punya, Aceh relakan nyawa walaupun kemudian disebut gila sebagai Atjeh moorden. Aceh adalah memberi, bukan mengambil. Aceh is giving, not taking.
Jadi dari mana Aceh yang suka “mengambil” dan “meminta”? Sedemikian parahnya sehingga ditengarai Aceh mempunyai “mentalitas keberhakan”, entitlement mentality, oleh Muslahuddin Daud yang walaupun bekerja di beng donya (World Bank) hampir kehabisan akal untuk terus memberi sementara orang di negerinya terus meminta?
Mungkin Aceh yang sibuk “mengambil” dan “meminta” adalah Aceh yang telah lupa dengan “tali Tuhan”, The Rope of God yang dimaksud Daud Beureueh dan dikronikkan secara melangit oleh James “Sigli” Siegel (1969).
Saleh Sjafei dalam Pidato Kebudayaan ICAIOS-Aceh Institute pada 31 Desember 2010 menyatakan orang Aceh “sedang mengalami kegelisahan akan kehilangan identitas dan martabat yang ideologis. Kegundahan itu membawa-serta konsekuensi daya pikir mereka mengalami kemandegan dan tidak lagi berorientasi pada pencerahan akal-budi yang terorganisasi secara sadar penuh makna dan didukung oleh semangat asketis yang mendunia.”
Kegundahan itu mungkin kini telah menjadi kenyataan pahit. Dan semuanya, menurut Sjafei, berpunca pada “ketiadaan pencerahan yang tuntas dari perjalanan masyarakat Aceh masa lalu ke masa sekarang”. Dari bansa yang rajin memberi menjadi bangsa yang sibuk meminta. Dengan kata lain, orang Aceh makin tidak “meu-Aceh”?
* Saiful Mahdi, S.Si., M.Sc., Ph.D., Fulbright Scholar, peneliti senior di ICAIOS dan salah satu pendiri Aceh Institute. Email: saiful.mahdi@acehresearch.org
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/peta-aceh_20160104_213706.jpg)