Cerpen
Sebuah Danau di Tengah Hutan, Suatu Ketika
ILALANG meliuk-liuk mengikuti arah angin yang meniupnya
“Dasar gila, aku tidak percaya padamu! Sekarang aku akan membunuhmu,” maki Edi.“Kapaleh, jangan kamu bunuh saya! Saya sudah menyerah tadi,” teriak Samsul mengiba sambil merintih kesakitan. “Pokoknya aku tidak mau dengar apa pun alasanmu. Kamu itu musuhku...” “Kalau mau prang lagi, kamu lempar kembali senjata saya ke sini! Biar kita menembak lagi,” pinta Samsul setengah mengiba.
Setelah beberapa lama menunggu, Edi memberanikan diri untuk mendatangi Samsul. Edi berjalan tergopohgopoh ke tempat persembunyian Samsul dengan jantung yang berdebar. Pikirannya kalut ketika melihat Samsul bersandar pada batu sambil memegangi bahu yang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tidak terlihat senyuman di wajah Samsul. Tangannya memegang bahu ang terluka. Wajah tirusnya berkumisdan ditumbuhi cambang tebal. Rambutnya panjang tidak teratur, dan tubuhnya sangat kurus.
Edi membatin, aku benar-benar gugup. Haruskah aku membunuh pemberontak ini? Pikiranku benarbenar kacau sekarang ini!“Kalau mau bunuh saya, silahkan! Kalau tidak, tolonglah saya! Saya sakit sekalilah...” ratap Samsul mengiba dan putus asa.
***
Sore tiba, matahari sudah hilang di balik pepohonan lebat. Dingin mulai terasa. Beberapa burung bangau terbang melintasi kesunyian danau. Edi bersandar pada batang pohon yang tumbang ke danau. Sesekali dia memandang ke hutan untuk berjagajaga. Waspada adalah keharusan agar bisa bertahan dari kekacauan perang.
emua yang buruk bisa terjadi tanpa disadari. Sedikit lengah, timah panas kan menembus tempurung kepala. Dua arti dalam sebuah kata perang;
embunuh atau dibunuh. Sungguh menyedihkan! Samsul terdiam kaku. Edi menyesal karena telah melakukan kebodohan—tidak membunuh Samsul. Namun, hati kecilnya bahagia.
Kebodohan ini membuatnya merasa mendapatkan kemenangan—tidak embunuh musuh yang tidak berdaya. Ya, kemenangan yang sulit di dapatdalam sebuah perang. Aku menyelamatkan musuh yang menembak phaku. Bukankah itu konyol? Ketika bertemu dengannya aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa menunjukkanku jalan pulang, tapi ternyata dia juga tidak engetahui jalan keluar dari rimba ini.
Dia telah tersesat sebulan lebih. Sungguh membingungkan, aku dan pemberontak duduk bersama memikirkan jalan pulang setelah kami berperang untuk membunuh satu sama lain. Seakan kami sahabat yang telah lama berpisah dan waktu mempertemukan ami di belantara rimba ini. Sungguh menggelikan...Edi membatin. “Kamu itu berasal dari mana, sih?” tanya Samsul untuk basa-basi. “Aku dari Semarang,” jawab Edi. Lalu terdiam sesaat. “Aku jadi rindu keluarga...Kamu sudah kawin?” lanjutnya. “Sudahlah. Saya kawin dua buah istri,” cetus Samsul penuh semangat.
“Kamu tahu kenapa saya kawin dua?” lanjutnya. Edi menggeleng kepala. “Karena istri pertama saya tidak beranak dia... Terpaksalah saya kawin satu buah lagi, biar saya bisa punya anak,” ujar Samsul dengan mimik wajah serius. “Apa sama istrimu yang kedua amu punya anak?” tanya Edi “Dia belum beranak juga...” Mereka kembali terdiam. Aku sangat rindu sama anakku Raisa. Tiba-tiba Aku sangat ingin mendengar suara merduna, Edi membatin. “Kamu ada telepon genggam?” tanya Edi. “Telepon?” jawab Samsul penasaran.
Edi mengangguk. Sepertinya Samsul lagi memikirkan sesuatu, tangannya menggaruk-garuk kepala. “Kamu mau telpun teman tentra kamu?” hardik Samsul. “Bukan, aku mau menelepon anakku,” Edi mencoba menyakinkan pemberontak. Samsul terdiam sejenak. “Saya tidak punya telepon! Tapi saya ada telepon satelit....,tidak tahulah apakah elepon ini bisa telpun?” cetusnya.
“Boleh aku pinjam?” pinta Edi. “Aku cuma ingin menelepon anakku. Tolonglah! Tolonglah aku, seperti aku enolongmu,” Edi mengiba. “Ya, tapi hanya untuk telpun anakmu sajalah!” Samsul mengingatkan. Tangan Samsul meraba-raba dalam tas ransel miliknya. Edi menghubungi telepon genggam istrinya.
Namun, istrinya belum menjawab panggilan teleponnya yang sudah beberapa kali. Akhirnya telepon satelit kehabisan baterai dan dengan cemberut ia mengembalikan telepon itu ada Samsul. “Kenapa aku tidak bisa keluar dari rimba ini?” teriak Edi lantang. Edi mengambil senjata dan ditembakkan ke danau hingga pelurunya habis. Dengan sekuat tenaga ia melempar M-16 ke danau. “Aku ingin pulang untuk memeluk anakku!” hardik Edi lalu terisak.
Beberapa pemberontak muncul dari balik hutan setelah mendengarkan suara tembakan. Mereka menodongkan senjata pada Edi dan Samsul. eorang pemberontak langsung memukul tubuh Edi dan menghantam wajahnya dengan gagang senjata AK-47. Edi terkapar di tanah dan tak berdaya.
Salah satu dari mereka—pemberontak— bertubuh gempal, sedang berdebat dengan Samsul. Lelaki gempal itu memperlihatkan telepon satelit dan bertanya lantang, memukul wajah tirus Samsul berkali-kali. Pemberontak itu terus memaki-maki Samsul, “Cuwak, publo bangsa, lamit gop, goen tentra.” Tangan kiri Edi diborgol, disatukan dengan borgol tangan kanan Samsul. Kaki Edi dan Samsul juga diikat menyatu. Mereka didudukkan enghadap danau.
Wajah mereka berlumuran darah. Beberapa gigi Edi tanggal oleh hantaman gagang AK-47, mata besar Samsul kini telah menyipit oleh hantaman telepon satelit. “Siapa namamu, Tentra?” bisik Samsul. “Edi Purnomo...” Keduanya terdiam sesaat. “Siapa namamu, Pemberontaklah?” esah Edi dengan memakai kebiasaan ucap Samsul. “Samsul Bahrilah...”
Rentetan letusan senjata para pemberontak memecahkan kesunyian. peluru-peluru dari senjata pemberontak enerjang tubuh Edi dan Samsul, lalu keduanya rubuh tersungkur di pinggir danau. Darah mereka mengubah air danau yang jernih menjadi merah.
* Anjas Parsi, anggota Komunitas Sastra Lhokseumawe (KSL) di Dewan Kesenian Aceh Lhokseumawe.