Cerpen

Pasukan Cap Sauh

PERNAHKAH kau mendengar tentang Pasukan Cap Sauh? Tidak banyak lembaran sejarah

“Ayahmu itu yang berdosa. Sampai mati tidak akan pernah merestuiku. Apa dia tidak tahu agama?”

Siti marah karena ayahnya dihujat. Panggilanku berkali-kali tak dihiraukan. Sejak itu Siti tidak ingin bertemu lagi denganku. Sejak itu Siti telah meracuni jiwaku. Sejak itu aku menjadi gila. Sejak itu pula aku tidak lagi takut akan mati. Lalu datang tawaran dari T. Leman, anak seorang bangsawan Lam Meulo untuk mengajakku bergabung bersama gerakan mereka. T. Leman lihai membujuk. Buktinya dia berhasil memasukkan namaku sebagai anggota Pasukan Cap Sauh tanpa meminta persutujuan atau anggukan kepala. “Nanti malam datanglah ke rumahku. Kita akan merencanakan tugas pertama kita.”

Sikap diamku bukan dianggapnya sebagai sebuah penolakan. Kala itu aku berada di ambang keraguan. Banyak pertimbangan yang mesti kupikirkan. Tapi tidak pernah ada jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar bagiku adalah mengayunkan langkah kakiku ke rumah T. Leman nanti malam.

Di rumah T. Leman telah berkumpul pemuda-pemuda tanggung yang tak kukenal satu sama lainnya. Orang yang kukenal hanya T. Leman. Dia memperkenalkan kami satu per satu, namun nama-nama mereka cepat sekali terabaikan dalam ingatanku. Bukan karena aku tidak mampu menghafal nama-nama, tapi keraguan masih mengepung hatiku. Barulah ketika aku mendengar nama Teungku Pakeh disebut-sebutkan akan menjadi salah satu target kami, keraguan pada diriku sirna bersamaan kembalinya kesadaranku. Teungku Pakeh menjadi alasan paling besar yang akhirnya membuatku tidak lagi ragu bergabung bersama Pasukan Cap Sauh. Di penghujung malam, T. Leman membagi-bagikan sehelai kain hitam kepada kami untuk diikatkan di lengan kiri.

“Kain ini akan menjadi tanda agar kalian tahu mana lawan dan mana kawan!”

Target pertama kami sebagai anggota Pasukan Cap Sauh adalah kantor Pesindo. Misi kami merampas surat-surat berharga dan merampok segala harta benda yang ada di sana. Kau tahu, ternyata tugas itu tidaklah semudah yang kubayangkan semula dan tanpa perlawanan. Seperti mengetahui maksud kami, beberapa anggota Pesindo siaga di sana. Kami pun tak surut langkah. Dan bisa kau tebak selanjutnya. Kami menyerbu kantor Pesindo. Beruntung jumlah pasukan kami melebihi pemuda-pemuda Pesindo yang berusaha bertahan. Akhirnya kami berhasil melumpuhkan pertahanan pemuda-pemuda Pesindo. Beberapa pemuda Pesindo harus mati karena kesombongan mereka. Mereka salah menafsirkan arti kesetiaan.

Pasukan Cap Sauh bagai kerasukan setan. Setiap melihat orang-orang yang bukan bagian dari kami, dianiaya seperti binatang. Kemarahan mendarah daging dalam tubuh kami. Tahukah kau apa sebab kemarahan kami begitu memuncak? Bukan karena ambisi Cumbok yang keras kepala, bukan karena kaum bangsawan telah dipermalukan oleh kaum alim, bukan pula karena senjata-senjata Jepang urung kami peroleh. Semua kemarahan yang merasuk pasukan itu karena kami merindukan perang. Kendati pun musuh abadi kita, Belanda dan Jepang masih berada di tanah leluhur ini, jiwa perang tidak akan pernah lekang dalam tabiat kita.

Kami terus memburu simpatisan Pesindo. Yang tak kalah pentingnya dalam petualanganku adalah ketika kami berhasil menjarah rumah Zainal Abidin dan Hasan Moehammad. Mereka ini pengurus-pengurus Pesindo yang dibenci oleh kaum bangsawan. Tak puas menguras harta benda, kami juga membakar rumah-rumah mereka.

Kemenangan demi kemenangan berada di pihak kami. Harta benda pengurus Pesindo, kaum alim, dan rakyat jelata yang kami anggap mendukung mereka telah banyak kami rampok. Setiap kemenangan mesti dirayakan. Begitulah janji T. Leman. Pesta ie jok masam selalu mengiringi perayaan kemenangan. Kami menenggaknya sampai puas.

Perlu kau tahu juga, Pasukan Cap Sauh ternyata bukan saja merampok. Tapi siap membantai dan membunuh orang-orang yang menghalanginya. Padahal tugas bunuh-membunuh adalah tugasnya Pasukan Cap Tombak. Dengan keberhasilan-keberhasilan ini, Cumbok telah mengirimkan sinyal ancaman bagi kaum alim. Kami siap berperang melawan pasukan kaum alim yang mendapat dukungan dari rakyat.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved