KUPI BEUNGOH
Menangkap Buaya Woyla
Ini namanya cara kreatif mengubah ancaman jadi rahmat. Potensi ada. tinggal mencari cara mensiasati agar berbuah jadi rahmat.
Penulis: Muslim Arsani | Editor: Amirullah
TERINSPIRASI dari tulisan lomba tangkap buaya di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) di mana Pemerintah setempat menyediakan hadiah Rp 5 juta bagi warga yang berhasil menangkap buaya.
Saya ingin berbagi ide yang sama dengan lomba di NTT.
Lomba ini digelar karena banyak buaya berkeliaran di sekitar lokasi obyek wisata pantai di Kota Kupang. Keberadaan satwa buas tersebut membuat resah wisatawan maupun nelayan setempat.
Reptil itu telah mengganggu anak-anak saat mandi. Wisatawan pantai juga waswas dan hati-hati karena pantai tidak aman.
Berita ini mengingatkan saya sebagai warga Woyla, Aceh Barat.
Saya juga berharap Pemerintah Aceh Barat atau dinas terkait membuat lomba tangkap buaya tentunya dengan maksud dan tujuan yang berbeda.
Jika Dinas Parawisata dan Kebudayaan Nusa Tenggara (NTT) Barat membuat Lomba Tangkap Buaya untuk Promosi Wisata.
Di Aceh Barat wabil khusus di Woyla setelah berhasil ditangkap Pemkab Aceh Barat bersedia membangun kebun binatang mini untuk menempatkan buaya hasil tangkapan dari lomba unik ini. (BACA: Mau Ikut Lomba Tangkap Buaya? Ayo Daftar Segera, Berhadiah 5 Juta)
Menurut saya "ini sipat tak-lhee pat lut" masyarakat aman dari ancaman buaya dan daerahpun ada penambahan sedikit Pendapatan Asli Daerah(PAD) plus masyarkat Woyla masuk katagori masyarakat yang menjaga satwa yang dilindungi dari tangan pawang liar yang membunuh buaya untuk dijual kulitnya.
Ini namanya cara kreatif mengubah ancaman jadi rahmat. Potensi ada. tinggal mencari cara mensiasati agar berbuah jadi rahmat.
Tahun 2008, menurut Haba dari berita media cetak nomor wahid di Aceh (Serambi Indonesia), Bapak Ya'kub warga Woyla mengutip peryataan Pawang buaya dari kebun binatang Brisbane, Queensland, Australia. Rian Coulter, Kate Coulter dan Toby Milliyard, masih ada sekitar 70 ekor lebih buaya yang mendiami sungai Woyla dari muara sampai ke Teunom Aceh Jaya, baik yang berukuran besar maupun kecil.
Dari keterangan pakar buaya air (bukan pakar buaya darat) sudah ratusan buaya sekarang yang menghuni Krueng Woyla dengan rentang waktu 2008-2016.
Mungkin ide ini terlihat konyol atau ulok-ulok apalagi jika diplintir dengan "Lomba Tangkap Buaya Darat". (BACA: Rambu Lalu Lintas Buaya)
Namun tidak bagi saya yang kebetulan pecinta satwa yang satu ini bahkan nama domain website pribadi juga saya ambil kata Buya (baca; buaya)
Pada tahun 2008 saya sempat berkunjung ke Penangkaran Asam Kumbang. Jl. Bunga Raya II No. 59 Sunggal , Kecamatan Medan Selayang Kota Medan, Sumatera Utara. Itu salah satu objek Wisata Menarik Medan “Aman, Nyaman, dan Bersih” telah berdiri sejak tahun 1959.
Untuk terwujudnya kebun binatang mini ini mungkin bisa dibangun komunikasi dengan Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia (PKBI) atau Dinas Parawisata dan Kebudayaan. [MUSTAFA HUSEN WOYLA, warga Woyla yang peduli buaya. Email: surat@buyawoyla.com dan risalahbuyawoyla@gmail.com]
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mustafa-husen-woyla_20160923_234940.jpg)