Senin, 13 April 2026

Opini

Waspadai Muntah Hijau pada Anak

MUNTAH hijau merupakan satu tanda dan gejala akibat adanya sumbatan (obstruksi) saluran cerna usus pada anak

Editor: hasyim

Oleh Teuku Yusriadi

MUNTAH hijau merupakan satu tanda dan gejala akibat adanya sumbatan (obstruksi) saluran cerna usus pada anak yang dapat menimbulkan komplikasi serius sampai kematian. Bayi muntah hijau harus dianggap terdapat obstruksi sampai bisa dibuktikan tidak ada obstruksi. Hal ini dianggap sebagai suatu kondisi emergency bidang bedah anak yang membutuhkan penatalaksanaan secara cepat, tepat, dan akurat.

Muntah merupakan suatu gejala, bukanlah penyakit. Secara definisi yaitu keluarnya isi lambung dan usus melalui mulut akibat volume lambung yang melebihi kapasitas. Muntahan berwarna hijau identik dengan sumbatan pada saluran pencernaan bayi/anak. Warna hijau merupakan produk cairan empedu yang keluar bersama sari makanan di usus.

Pada bayi baru lahir yang mengalami keluhan tersebut baik sebelum maupun sesudah diberikan air susu ibu (ASI), dicurigai adanya sumbatan usus bawaan (kongenital) yang berlokasi di suatu tempat mulai pertengahan usus dua belas jari (duodenum) sampai ke arah dubur (anus). Kelainannya antara lain atresia usus, kelainan letak yang disertai puntiran usus (volvulus), perlengketan (band), mekoneum ileus, infeksi usus (necrotican enterocolitis), mekoneum yang lengket dan kental (mekoneum plaque) dan gangguan saraf usus besar (hirschsprung). Pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun dapat disebabkan oleh terperangkapnya usus (invaginasi), infeksi dan kelainan dari fungsi usus.

Secara anatomi didapatkan dua macam sumbatan usus, yaitu total (atresia) dan parsial/sebagian (stenosis). Pada sumbatan total maka makanan yang masuk terhenti pada bagian usus yang buntu total, sehingga usus tampak melebar (dilatasi) dan akibat tahanan tersebut makanan di dalam lambung yang telah bercampur produk cairan empedu tersebut dimuntahkan keluar melalui mulut.

Sedangkan sumbatan yang terjadi pada sebagian lumen usus (stenosis) masih didapatkannya sedikit sisa metabolisme yang dapat masuk ke usus halus dan usus besar sampai pembuangan akhir menjadi feses. Kelainan anatomi saluran cerna usus tersebut dikoreksi secara pembedahan.

Sangat kompleks
Muntah terjadi melalui mekanisme yang sangat kompleks, dikontrol oleh pusat muntah yang ada di susunan saraf pusat otak. Muntah terjadi apabila terdapat kondisi tertentu yang merangsang pusat muntah. Kondisi ini sering menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Si bayi tampak sangat rewel, kesakitan, sulit bernapas sampai dengan perburukan kondisi.

Beberapa kondisi yang dapat merangsang pusat muntah di antaranya berbagai gangguan di saluran cerna baik infeksi (gastroenteritis karena rotavirus) dan noninfeksi seperti sumbatan (obstruksi) saluran cerna, racun (toksin) di saluran pencernaan, gangguan keseimbangan elektrolit, dan kelainan metabolik.

Muntah tidak hijau juga dapat terjadi pada penyakit di luar gangguan saluran cerna seperti meningitis, tonsilitis, otitis media, infeksi saluran kemih, pascatrauma kepala dan pneumonia aspirasi yang dapat membaik dengan pemberian terapi obat-obatan anti-muntah.

Bila mendapati pasien dengan riwayat muntah hijau di rumah sakit, klinik maupun di puskesmas, sebaiknya petugas kesehatan sesegera mungkin berkonsultasi kepada dokter anak dan ahli bedah anak, agar proses pelacakan penyebab kelainan dan penatalaksanaannya tidak terlambat.

Seorang ahli bedah anak akan mengevaluasi muntah tersebut secara kualitatif dan kuantitatif berupa sifat muntahan (bentuk, warna, bau dan disertai darah atau tidak), kekuatan muntah (proyektil atau tidak), hubungan dengan makanan yang dimakan, volume dan jumlah muntahan serta gejala penyerta sumbatan usus (ileus) lainnya seperti keluar-tidaknya feses, disertai kembung atau tidak, nyeri perut serta dinilai apakah telah terjadi komplikasi lanjut pada si anak.

Untuk mendeteksinya diperlukan beberapa pemeriksaan seperti pengujian sampel darah dan feses, melakukan rontgen X-Ray, serta bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi tambahan menggunakan bahan kontras untuk mengetahui letak dan penyebab sumbatan (obstruksi) dari usus.

Komplikasi paling berbahaya yaitu terjadi dehidrasi (karena cairan tubuh yang keluar terus menerus melalui muntahan) dan kemungkinan pneumonia aspirasi (tersedak oleh karena cairan lambung masuk ke dalam saluran pernapasan), sehingga perlu segera dibawa ke rumah sakit rujukan untuk perawatan intensif. Kondisi lain adalah ketidakseimbangan/abnormalitas kadar elektrolit dan asam-basa, yang dapat memperberat kondisi anak seperti kejang mendadak sampai henti jantung. Selain beberapa hal tersebut, akibat terlambatnya penanganan menyebabkan infeksi menjadi semakin berat (sepsis) bahkan bisa terjadi bocornya jaringan usus (perforasi), serta sindrom usus pendek (short bowel syndrome) karena jaringan usus mengalami kematian (nekrosis).

Pembedahan darurat
Penatalaksanaan kasus ini dengan melakukan pembedahan darurat oleh ahli bedah anak untuk memperbaiki sumbatan usus yang terjadi. Dilakukan eksplorasi, identifikasi seluruh sistema usus. Jika diketahui ada jaringan usus yang buntu total atau terpuntir maka dilakukan pemotongan (reseksi) atau pembuatan jalan pintas (shunting) dan penyambungan kembali dengan bagian yang sehat. Namun bila jaringan di usus tersebut sudah mati (nekrosis), maka dilakukan pemotongan (reseksi) bagian usus pada sisi yang sehat, dan ujung dari usus yang sehat tersebut di sambung dan jahit kembali.

Kondisi yang paling buruk dan sangat dihindari adalah pembuatan saluran pembuangan sementara (stoma) di dinding perut karena kondisi darurat, dan direncanakan penyambungan kembali usus nya beberapa waktu kemudian. Pemilihan tindakan penyambungan usus langsung atau pembuatan stoma sementara dengan mempertimbangkan kondisi sistemik dan lokal jaringan usus saat operasi. Karenanya diperlukan deteksi lebih dini dan reaksi lebih cepat oleh tim medis bila menemukan anak dengan riwayat muntah hijau akibat sumbatan usus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved