KUPI BEUNGOH
Seni Didong Dalam Bingkai Dakwah
Melestarikan nilai-nilai budaya daerah juga bagain dari memperjuangkan nilai-nilai syariat lewat kearifan lokal dan budaya yang tidak menyimpang
Pertunjukan didong sebagai salah satu bagian dari tradisi masyarakat Gayo yang masih berkembang hingga saat ini menjadi sebuah kajian yang menarik ketika didalamnya dapat menjelaskan berbagai makna yang mampu merepresentasikan gambaran masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat Gayo.
Makna-makna yang terkandung dalam pertunjukan didong dapat ditemukan dalam berbagai bentuk syair yang didendangkan oleh ceh yang berada pada garda terdepan setiap kelop Didong dan juga dari berbagai simbol-simbol yang ada dalam pertunjukan Didong. (Agung Suryo Setyantoro, 2014)
Sebuah kesenian dan kebudayaan memepunyai sejarah tersendiri. Begitu juga dengan kesenian Didong. Syukri menjelaskan bahwa Didong pada mulanya berasal dari sejarah Gajah Putih yang digembalakan oleh Sangeda (1610 M) dari Negri Linge menuju ke ujung Aceh, hal ini dilakukan untuk dipersembahkan kepada Raja Aceh.
Konon ceritanya dalam perjalanan, tiba-tiba sang Gajah berhenti dan merebahkan badannya ke tanah karena keletihan.
Usaha untuk membangunkannya telah berulang kali dilakukan dan dengan berbagai cara, tapi Gajah Putih tersebut tetap saja tidak bergerak. Namun hasil inisiatif Sangeda, para pengikutnya mencoba mendendangkan lagu dengan kata-kata “enti dong, enti dong, enti dong”, artinya “jangan berhenti”.
Selanjutnya dalam perkembangan dialeknya, kata-kata “enti dong, enti dong, enti dong” tersebut berubah menjadi “Didong” yang bermakna “berdendang” atau “alunan nyanyian”.
Sosok yang bernama Sangeda dalam perjalanan diatas menurut pandangan AR. latief merupakan seorang raja pertama berasal dari Kerjaan Bukit yang berdiri pada abad ke XV (± 1580 M).
Kerajaan tersebut letaknya di atas sebuah bukit yang datar, dengan jarak tempuh ± 2 Km dari Kota Takengon (Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah). Raja Sangeda sendiri merupakan putra dari Raja Linge ke XIII, yang bernama Bukit. (AR. Latief, Pelangi Kehidupan Gayo dan Alas,1995)
Syair-syair yang dipersembahkan dalam seni Didong banyak terdapat nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya.
Dalam ber-didong para Syeh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta dituntut berakhlakul karimah dan berbudi pekerti yang mulia.
Di antara penggalan syair seni Didong Gayo, yang isi dan makna terkandung di dalamnya, sarat dengan muatan nilai-nilai dan pesan moralyang regelius. Berikut penulis utarakan beberapa butiran bait-bait syair dimaksud, diantaranya adalah:
Sara ketike pada sara saat
Bewene lat batat hancur binasa
Langit nge gelep bumipe nge seput
Nge kalang kabut umet atan donya