KUPI BEUNGOH

Seni Didong Dalam Bingkai Dakwah

Melestarikan nilai-nilai budaya daerah juga bagain dari memperjuangkan nilai-nilai syariat lewat kearifan lokal dan budaya yang tidak menyimpang

Editor: Amirullah
Helmi Abu Bakar El-Langkawi 

Bewene si morip nge murasa takut

(Suatu ketika pada suatu saat

Semua makhluk hancur binasa

Langit kian gelap dan bumi pun selput

Sudah kalang kabut umat manusia

Semua yang hidup merasa ketakutan

Pesan yang terekam dalam butiran bait syair di atas merupakan sebuah pesan yang menggambarkan keadaan manusia ketika hari kiamat tiba.

Dengan gaya bahasa yang singkat dan padat tapi mampu menggambarkan berbagai keadaan, mulai dari proses terjadinya kiamat sampai pada keadaan umat manusia yang kalang kabut dalam ketakutan yang tiada perumpamaannya.

Esensi dari pesan dalam syair tersebut tidak lain adalah untuk mengingatkan umat manusia agar mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi hari esok yang kekal yakni hari kiamat. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Zalzalal. (bumi yang digoncangkan/QS:99:1-8).

Kita dituntut untuk dengan memperbanyak amal ibadah dan memperkuat keimanannya dan ketaqwaannya kepada Allah SWT untuk meraih.kebahagian yang abadi kelak.

Melestarikan nilai-nilai budaya daerah juga bagain dari memperjuangkan nilai-nilai syariat lewat kearifan lokal dan budaya yang tidak menyimpang dari norma syariat itu sendiri. Seperti yang telah dirintis dan dikembangkan oleh masyarakat Gayo khususnya dan Aceh pada umumnya.

Namun generasi muda penerus saaat ini, kian hari melupakan produk dan warisan endatu sendiri dan lebih senang dan pede meniru budaya barat yang lebih mengarah kepada degradasi moral dan nilai-nilai positif. [Helmi Abu Bakar El-Langkawi Staf pengajar Bahasa dan Sastra di Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dan IAIA Al-Aziziyah Samalanga. lamkawe82@gmail.com]

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved