Opini

Dosen ‘Killer’ dan Demo Mahasiswa

DUNIA kampus adalah demo. Tanda protes atau berdemo karena simpati yang santun

Dosen ‘Killer’ dan Demo Mahasiswa

Oleh Yuswar Yunus

DUNIA kampus adalah demo. Tanda protes atau berdemo karena simpati yang santun. Bagi masyarakat Bugis (Makassar), tiada hari tanpa demo. Seakan demo menjadi ‘santapan pagi”. Namun bagi masyarakat Aceh, letusan senjata saat Aceh tidak kondusif dulu, menjadi santapan rohani. Memang Aceh sering didera konflik sejak dulu hingga masa damai 2005. Barangkali, bagi Aceh urusan demo tidak beda seperti uang recehan, jika dibanding dengan perang yang pernah berkecamuk tempo doeloe.

Aceh menuntut keadilan kepada pemerintah pusat, maka demo bagi Aceh terlihat tidak tanggung-tanggung, angkat senjata. Perang, merupakan demo besar dan taruhan nyawa bagi masyarakat Tanah Rencong ini. Diekpresikan sebagai perang atau pemberontakan bersenjata. Perang karena ketidakpuasan, sebagai akibat kebijakan pusat yang dinilai salah dan sentralistik, sehingga pembangunan daerah terabaikan.

Seni berdemo di kampus, ibarat piring dengan sendoknya. Jika tidak beradu, maka filosofi makanannya ibarat kuah tidak bergaram. Dunia kampus indah, jika diiringi dengan demo mahasiswa. Bila perlu, saat berdemo para mahasiswa diiringi dengan musik India. “Terajana..., terajana... Ini lagunya, lagu India. Dunia kampus tak perlu berdemo. Berdemo, bila ada perlunya...”

Boleh jadi, jikapun terjadi demo di kampus, ada sesuatu yang diperjuangkan. Namun, perlu juga berdemo sebagai tanda ketidakpuasan atau tuntutan agar mereka yang berkuasa di struktural kampus “tahu diri” bahwa kekuasaan hanya sementara dan harus mampu diterjemahkan sebagai “pelayanan” kepada mahasiswa, terutama untuk perubahan institusinya. Pengayoman kepada anak didik diperlukan, agar mereka tau etika, perlu santun agar mereka sopan dengan gurunya. Sebaliknya anak didik juga perlu menghargai gurunya yang produktif dengan ilmunya, ibarat menghargai orang tua yang mendidik dan membesarkannya.

Jika kita ingat film “Kampus Biru” menceritakan bagaimana “killer”-nya sang dosen wanita yang suka sensasi dengan mahasiswanya. Bahkan antarsesama dosen pun sering menunjukkan sikap tidak bersahabat. Ternyata, setelah dilihat background-nya, sang ibu dosen mengalami konflikasi jiwa (sensitive) sebagai akibat dari statusnya yang masih sendiri alias belum punya pasangan hidup, sehingga mempengaruhi nyali sensitivitasnya dan suka bersitegang dengan siapa pun.

Begitu halnya, beberapa waktu yang lalu di kampus, di satu perguruan tinggi di Medan, Sumatera Utara, seorang mahasiswa membunuh ibu dosennya, sebagai akibat sang ibu tidak pernah menghargai mahasiswanya dan sering dipojokkan dihadapan mahasiswa lainnya. Akhirnya, sang mahasiswa bertindak nekat, ia membunuh dosennya. Ini tentu bisa menjadi pelajaran berharga untuk dosen lainnya.

Sangat internal
Hakikatnya tidak perlu bersitegang antara guru dan murid di kampus. Kondisinya sangat internal dan tidak perlu dibesar-besarkan sehingga menjadi opini publik. Sebesar apapun persoalan kampus, ia hanya persoalan murid dan guru (baca; persoalan orang tua dan anaknya) serta tidak perlu diketahui oleh khalayak ramai, karenanya perlu: Pertama, sayang sekali, jika terjadi perang antara guru-muridnya. Siapapun pelakunya (hamba Allah) adalah sebagai manusia biasa (status dosen dan status mahasiswa), tentu tidak perlu bersifat angkuh dan mahasiswa terjerat dalam penggunaan teknologi yang bersikap berlebihan, iseng dan ceroboh kepada siapapun.

Kedua, mari kita menjadi pencipta dan pemilih teknologi yang reflektif, hati-hati dan rendah hati sebagaimana orang tua atau guru yang perlu dihargai serta dihormati oleh anak atau muridnya. Jika ibu guru (maaf) kencing berjongkok, maka anakpun pasti kecing dengan cara berjongkok. Jongkok atau berdiri, tergantung siapa awal yang memulai. Namun seorang guru juga dituntut untuk memiliki jiwa mengayomi murid-muridnya (jangan membuka front, hidup ini saling membutuhkan).

Ketiga, Kong Hu-Cu seorang filosof besar Cina. Dialah orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling mendasar. Filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan (kekuasaan) tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya lewat tingkah laku teladan- telah menyerap menjadi darah daging kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Lebih dari itu, juga berpengaruh terhadap sebahagian penduduk dunia lainnya.

Halaman
12
Penulis: Andrei Bhayu
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved