Citizen Reporter

Belajar dari Pasar Tarim

Kata yang tepat untuk mendeskripsikan Tarim, sebuah kota di Provinsi Hadhramaut, Yaman

Editor: bakri

OLEH M AIDIL ADHAA, warga Pante Garot, Pidie, alumnus Ummul Ayman Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

SEDERHANA. Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Tarim, sebuah kota di Provinsi Hadhramaut, Yaman. Bicara tentang Tarim, banyak hal yang membuat saya takjub pada wilayah ini yang teritorialnya hanya sebesar kecamatan di Aceh, tanoh lon cinta.

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang hiruk-pikuknya pasar di Tarim. Seperti halnya pasar-pasar di Aceh, pasar di Tarim juga merupakan pusat utama aktivitas perbelanjaan warga setempat. Dari tempat tinggal saya, pasar Kota Tarim bisa ditempuh 20 menit dengan berjalan kaki.

Dalam hal beragama, masyarakat Tarim masih sangat kuat memegang teguh perintah Allah Swt dan menjalankan sunah-sunah Rasulullah saw. Hal itu juga tercermin dari aktivitas mereka di pasar yang baru ramai pada pukul 09.00 waktu setempat hingga pukul 13.00 siang. Setelah shalat Zuhur, toko-toko kembali tutup, pemilik-pemiliknya beristirahat atau sekadar itikaf di masjid-masjid.

Memang sudah menjadi tradisi masyarakat Tarim untuk beristirahat di siang hari, sehingga jalanan dan pasar jadi sepi dari lalu-lalang warga. Aktivitas pasar kembali berdenyut justru setelah shalat asar hingga menjelang magrib.

Saat waktu shalat tiba, toko-toko akan tutup. Pemilik-pemiliknya pun bergegas untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid terdekat. Tak hanya shalat fardu, ketika ada pelaksanaan shalat jenazah pun toko-toko ditutup, sehingga pelayat yang ikut menyalati jenazah tersebut tetap ramai. Hal ini menunjukkan tingginya sikap sosial mereka dalam bermasyarakat. Bahkan, transaksi jual beli pun harus ditunda hingga selesai shalat. Mereka rela menunda transaksi demi mendapatkan kesempatan shalat berjamaah atau kesempatan menyalati saudaranya sesama muslim yang meninggal dunia.

Penjaga-penjaga toko, selain anak muda juga saya dapati orang-orang tua. Pakaian mereka sopan dan bersahaja. Saya tak pernah melihat mereka kenakan pakaian yang memperlihatkan aurat. Ajaibnya lagi, mereka juga menyertakan tasbih dan siwak dalam kantong bajunya.

Tak hanya itu, sembari menunggu pembeli, mereka pun mengisi waktu senggangnya dengan bertasbih dan membaca Alquran. Ini sungguh pemandangan yang jarang saya dapati pada pasar-pasar di Aceh.

Ketika si pembeli memasuki sebuah toko--dengan tidak lupa mengucap salam--maka si pemilik toko pun menjawabnya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman bersama pembeli tersebut. Obrolan mereka diawali dengan menanyakan keadaan yang sedang dialami si pembeli. Ketika mendengar jawaban yang menggembirakan itu, maka si penjual akan memuji Allah dengan ucapan alhamdulillah. Ketika mendengar jawaban tak menggembirakan, maka ia pun akan berdoa agar Allah Swt memudahkan segala urusannya.

Meski tak saling kenal, namun sikap seperti itu merupakan tuntunan dari Rasulullah saw, di mana setiap muslim disunahkan memberi salam serta mendoakannya. Di sisi lain, keakraban seperti itu juga dapat menjauhkan keduanya dari saling berburuk sangka (suuzan) ketika transaksi jual beli berlangsung.

Yang lebih uniknya lagi, pasar di Tarim tidak bercampur antara kaum lelaki dengan perempuan. Bahkan, warga setempat mengkhususkan pasar bagi kaum Hawa berada di arah barat pasar kaum laki.

Anda boleh saja kaget dengan sikap warga Tarim di atas, namun hal itu memberi nilai positif tersendiri bagi kaum perempuan.

Meski demikian, menurut warga Tarim, sebagian wanita Tarim punya waktu khusus untuk berbelanja ke pasar, yaitu setelah shalat magrib. Hal itu dikarenakan pada waktu setelah shalat magrib, mayoritas kaum lelaki sedang itikaf di masjid-masjid sembari menunggu waktu shalat isya tiba. Oleh karena itu, kaum perempuan dengan leluasa bisa belanja berbagai kebutuhannya serta dijamin sangat aman dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ya, begitulah sekelumit pengalaman tentang geliat kehidupan pasar di Tarim. Jual beli bukanlah tujuan utama mereka dalam hidup. Tetapi, berubudiyah kepada Allah-lah hal yang lebih mereka utamakan.

Hal itu tentu senada dengan firman Allah yang artinya: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu (kiamat -red) hati dan penglihatan mereka menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. An-Nur, ayat 37-38).

Demikianlah, semoga bermanfaat bagi syedara lon di Tanoh Rincong! Amin.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved