Senin, 8 Juni 2026

Opini

Persiraja Nasibmu Kini

KOMPETISI kasta kedua PSSI atau divisi utama tahun ini hanya tinggal tunggu waktu awal April 2017

Tayang:
Editor: bakri

Setelah PSSI bersatu pada 2013, Persiraja Banda Aceh gagal ke Liga Super karena dari 12 klub eks hanya empat diterima untuk bergabung ke Liga Super ISL karena awalnya ada empat klub yang hengkang dari ISL ke IPL (Persiraja, Persiba Bantul, Persiku Kudus, dan Semen Padang). Dalam seleksi ini Persiraja gagal masuk ke Liga Super, sehingga tetap berada di level Divisi Utama.

Persoalan yang dialami oleh klub profesional di Indonesia adalah setelah pemerintah mempertegas aturan lewat Permendagri No.1 Tahun 2011, klub profesional dilarang menggunakan dana APBD. Sejak 2012, banyak klub mulai kelimpungan dan putoh rante, termasuk Persiraja yang tiap tahun morat-marit soal duit.

Badan hukum
PSSI menetapkan bahwa klub profesional ini harus punya badan hukum dalam bentuk PT (perseroan terbatas). Sementara Persiraja saat mengikuti kompetisi IPL 2012 oleh almarhum Mawardy Nurdin yang menjabat Ketua Umum saat itu didaftarkan dengan memakai badan hukum Aceh United. Badan Hukum ini hanya untuk kompetisi 2012 dan 2013. Setelah kisruh sepakbola Nasional usai dan tinggal satu kompetisi PSSI pada 2014, hingga kini Persiraja belum memiliki badan hukum. Tetapi sebenarnya Mawardy Nurdin (alm) sudah meminta saya agar merintis dan merealisasikan pembentukan PT untuk Persiraja, bahkan dia sudah memberikan nama PT Persiraja Lantak Laju.

Persoalan lain yang dihadapi Persiraja adalah citra buruk pengurus dihembuskan ke publik, seolah Persiraja adalah tempat orang-orang mencari nafkah. Kalau sebagian kecil pengurus mengatasnamakan Persiraja untuk mendapat proyek di pemerintahan, bisa jadi. Mereka ada yang dapat untung dan hanya memberikan sebagian kecil ke Persiraja. Itu memang ada. Demikian juga ada yang memanfaatkan dana Persiraja yang bersumber APBD Banda Aceh, sebagian di-mark up. Tapi perlu diingat banyak juga pengurus memfokuskan pada perkerjaan tak mendapat honor sama sekali.

Sejak 2012 ketika bergabung dengan IPL dan ISL lagi 2013 sampai sekarang, apabila ada tudingan pengurus Persiraja cari makan, itu adalah fitnah besar. Sebab sejak saat itu Persiraja tak pernah mendapat dana APBD lagi, pengurus sendiri harus banting tulang cari biaya untuk keperluan tim. Biaya yang diperlukan untuk mengurus sebuah klub tidak kecil.

Dalam satu musim kompetisi saja (jika sampai selesai, terdiri babak penyisihan, 16 Besar, 8 Besar, hingga final seperti ISC 2016 lalu, minimal butuh dana antara Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar.

Biaya tersebut untuk keperluan gaji pemain, pelatih, minimal Rp 150 juta per bulan. Jika kompetisi berjalan sampai selesai dan Persiraja masuk 4 besar atau semifinal, butuh waktu 6-7 bulan. Biaya laga tandang keluar daerah bisa sampai 5-6 kali, tergantung jarak kota yang dikunjungi dengan membawa mimimal 18 pemain dan 4 ofisial. Biaya penginapan, makan dan transportasi udara dan lokal selama diluar. Sedangkan di kandang jika tak keluar kota, juga harus disiapkan pemain latihan, makan minum, bisa mencapai 6-7 bulan untuk minimal 30 orang.

Kalaupun ada orang yang mengatakan keuangan Persiraja tak pernah jelas, sehingga jadi alasan tak mau membantu. Ini hanya alasan dicari-cari. Laporan keuangan tetap dibuat, tapi kondisinya terus minus. Persoalan utama dihadapi Persiraja saat ini adalah tidak adanya PT sehingga sulit mengajak kerja sama dengan pihak sponsor. Lalu, siapa yang akan turun tangan untuk mempertahankan Persiraja dalam persepakbolaan Nasional? Untuk eksis tak cukup hanya dengan rasa memiliki belaka. Nah!

* Said Mursal, wartawan di Banda Aceh. Email: saidmursal22@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved