Citizen Reporter

Shalat Jumat di ‘Taman Surga’

ALHAMDULILLAH, saya berkesempatan mengunjungi Madinah Almunawwarah dan syukuran ulang tahun di kota sang Nabi

Shalat Jumat di ‘Taman Surga’
AZWIR NAZAR1

AZWIR NAZAR, Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, melaporkan dari Madinah

ALHAMDULILLAH, saya berkesempatan mengunjungi Madinah Almunawwarah dan syukuran ulang tahun di kota sang Nabi. Tahun lalu saya berziarah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan mengunjungi makam para nabi, sahabat, serta beberapa situs Islam di Yordania.

Penerbangan langsung dari Ankara ke Madinah hanya 3 jam 10 menit. Bedanya, Turki berada dalam cuaca minus dan bersalju tebal. Sementara Madinah dan Mekkah suhunya berkisar 16-19 Celcius.

Sesampai di Madinah setelah dijemput sahabat Imam Khairunnas, Presiden Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Arab Saudi, kami langsung menuju ‘Haram’ dan alhamdulillah berkesempatan shalat Magrib dan Isya pertama di Masjid Nabawi. Di Masjidil Aqsa 4 Januari tahun lalu saya juga berkesempatan shalat Asar berjamaah untuk pertama kalinya. Saat itu saya menangis haru karena pertama kali memandang kubah Aqsa dari bukit Zaitun di Yerussalem.

Perjalanan ke tiga masjid suci ini sangat dianjurkan Rasulullah dengan ganjaran pahala yang luar biasa. Selain keutamaan lain yang dahsyat. Dalam hadis disebutkan pahala shalat di Baitul Maqdis (Aqsa) 500, di Masjid Nabawi 1.000, dan di Masjidil Haram 100.000. Alhamdulillah, dalam setahun saya mendapatkan berkah, anugerah, dan nikmat dapat bersujud di tiga masjid suci tersebut.

Karena berangkat sendiri (backpaker), maka terasa akan lebih leluasa. Mungkin sedikit berbeda bila melawat dengan rombongan, sebab alokasi waktu sudah lebih teratur. Meski suhunya 16 derajat, tapi kelihatan angin di Madinah sangat khas dan menusuk. Apalagi bila malam tiba. Bila waktu duha atau bakda zuhur dapat tidur sebentar di tiang masjid Nabawi nikmatnya luar biasa (beuretoh). Kalau bakda subuh atau magrib ada halaqah Alquran atau hadis. Jangan segan- segan duduk dengan syekh sambil tadarus dan memperbaiki bacaan Alquran kita. Suasana demikian juga saya saksikan saat Agustus lalu berada di Mesir, terutama di Masjid Husen dekat Kampus Al-Azhar.

Pesona Madinah sebagai Kota Nabi sangat nyaman dan tenang. Tatanan kota, hotel maupun bangunan yang berjejer di sekeliling Nabawi sangat apik dipandang mata. Masjid Nabawi mampu menampung 800.000 jamaah setiap hari. Saat shalat Jumat, jamaah justru akan tumpah ruah di jalan raya.

Bisa dibayangkan, untuk bisa shalat di dalam, maka sebelum azan harus sudah berada di masjid. Bila tidak kemungkinannya harus shalat di pelataran luar. Suasana para hamba Allah yang beribadah dengan masjid yang hidup 24 jam memberi kesyahduan dan kebahagiaan tersendiri bagi peziarah untuk berlama-lama di dalam masjid. Apalagi dapat shalat fardu berjamaah di Raudhah.

Raudhah menjadi ‘incaran’ jamaah di Masjid Nabawi. Dapat shalat di sana adalah anugerah dan nikmat yang besar. Di sana ada makam Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khatab. Dengan kebijakan baru Saudi yang menetapkan one time entry visa fee (SR 2.000) mulai 1438 H, maka penting memanfaatkan momentum di Madinah bila umrah secara maksimal.

Raudhah dalam bahasa Arab berarti taman yang merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi. Letaknya di antara rumah dan mimbar nabi yang dipakai untuk berdakwah. Rasulullah menyebut di antara mimbar dan rumahnya tersebut sebagai taman di antara taman surga. Di sinilah Nabi Muhammad memimpin shalat, berdakwah, berdoa hingga menerima wahyu.

Tanda Raudhah yang paling mudah diingat adalah karpetnya yang bewarna hijau muda. Wangi karpetnya sama dengan di depan Kakbah pada saat shalat Asar atau Subuh.

Bila punya kesempatan ke Masjid Nabawi, maka memperhatikan waktu ziarah hingga ke Raudhah amat penting supaya tak terlewat momentumnya. Untuk perempuan biasa dibuka bakda subuh, isya, atau zuhur. Untuk shalat malam (qiyamul lail) kesempatannya lebih luas. Maka bila ‘mengincar’ Raudhah di atas pukul 00.00 malam pada hari normal insya Allah lebih besar peluang untuk bisa shalat di dalamnya. Pada waktu biasa kita datang 1-3 jam sebelum azan akan lebih baik.

Saya bersyukur hari pertama langsung dapat shalat Jumat di Raudhah. Awalnya niat berziarah dan shalat Duha sebab masih pagi sekali. Biasa kalau kita berkesempatan masuk di dalam Raudhah hanya diberi waktu 5 menit. Saya melihat hampir semua jamaah menangis, karena perjuangan dan kesabaran untuk masuk Raudhah berbuah hasil. Apalagi dapat shalat Jumat dan berlama-lama di dalamnya. Lebih beruntung tentu bagi para pelajar di Saudi yang dapat ke Raudhah pada musim sepi jamaah, satu bulan pra/pasca haji tatkala umrah ditutup bagi peziarah luar.

Dengan adanya penerbangan langsung dari Aceh-Jeddah tentu akan memudahkan bagi jamaah untuk umrah dan ziarah ke Madinah. Semoga Allah memberikan kita keberkahan dan kemudahan untuk dapat shalat serta beribadah di Raudhah, di antara taman-taman surga seperti sabda Rasulullah, karena mimpi dan doa-doa kita adalah menjadi penghuni surga kelak. Amin.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved