Kamis, 16 April 2026

Opini

Jurus ‘Dewa Mabok’ Trump

BANYAK masyarakat Amerika Serikat (AS) atau dunia terkejut ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS ke-45 pada pilpres 8 November 2016 lalu

Editor: hasyim
Trump imigrasi 

Oleh Said Mursal

BANYAK masyarakat Amerika Serikat (AS) atau dunia terkejut ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS ke-45 pada pilpres 8 November 2016 lalu. Meski banyak lembaga survei sebelumnya memprediksi Hillary Clinton dari Partai Demokrat bakal menang. Ini, tentu, menjadi kepiluan sebagian rakyat AS yang ingin melihat wanita pertama memegang tampuk kekuasaan dan berpidato dari Ruang Oval Gedung Putih ke seluruh dunia. Impian tak sampai, kekecewaan menggumpal, muncul protes sebagai punca ketidakpuasan.

Adalah ketika membaca berita, “presiden terpilih Donald Trump berkunjung ke Gedung Putih menjumpai Presiden Obama”, ini membuat kita terhenyak. Peristiwa ini hanya dua hari setelah pemilihan presiden. Ini masuk langka, biasanya minimal seminggu setelah pemilihan, di mana presiden terpilih diundang ke Gedung Putih. Apa Trump sudah tak sabar lagi dan datang sebelum diundang?

Memang, sejak awal sepak terjang Trump dalam pemilu AS ini, unik, aneh, nyeleneh, persis seperti gaya pendekar atau “dewa mabok” dalam cerita silat Cina. Sang pendekar minum arak 4-5 guci di sebuah warung yang ramai dengan pesilat tangguh, lalu berpura-pura mabok, ngomong ngelantur seenaknya, dan dia mengeluarkan seluruh “jurus mabok”-nya jika ditantang berduel. Pendekar ini karena kesaktian ilmunya diberikan julukan dewa.

Sepanjang sejarah penulis mengikuti pilpres AS, sejak Jimmy Carter masuk Gedung Putih 20 Januari 1976 setelah mengalahkan presiden petahana Gerald Ford. Lalu 1980, Ronald Reagan terpilih, George Bush (1988), Clinton (1992), Georgw W Bush (2000), Barack Obama (2009). Para presiden terpilih ini tetap menunggu undangan, baru datang ke Gedung Putih.

Presiden Obama sendiri terpaksa menerima Trump yang datang berkunjung sebelum diundang, apalagi dia presiden terpilih, meski dalam hati mungkin dia mengumpat, “ini namanya orang senget atau mabok, belum kuundang sudah nongol kemari”. Trumph sendiri dalam hati mungkin ngomong, “hei, hitam tak lama kau harus pergi, aku yang duduk di situ sambil ongkang-ongkang kaki”.

Terlepas apa maksud hati keduanya tapi pertemuan itu memberikan nilai tinggi, betapa Trump tampil beda, lebih santun, kalem dan dia memiliki rasa hormat kepada presidennya sebagai simbol negara. Obama sendiri dalam konferensi pers, menyebut Trump sosok yang sangat baik.

Keduanya bicara akrab dan diwarnai tawa, seperti mengajarkan beginilah cara berdemokrasi: setelah pertempuran selesai, semua harus kembali pada kehidupan normal, saling menghormati, bersatu kembali, dan bukan melempar bara api. Harapan yang sama tentunya kita dambakan bisa terujud dalam Pilkada Aceh 2017 yang kini sedang bergulir. Para calon bisa bersikap elegan seperti Obama dan Trumph.

Tanpa rasa jengah
Jurus-jurus “dewa mabok” memang jadi andalan perjalanan Trumph menuju Gedung Putih, ia memang ulet luar biasa. Kita lihat Trump melakukan start tanpa rasa jengah mempolarisasi atau menelurkan komentar yang oleh sebagian dianggap gila atau mabok. Trump berulangkali terjungkal, tapi toh popularitasnya tidak berkurang. Malah sebaliknya.

Jurus mabok ala Trump melontarkan komentar miring bukan hanya menyangkut kemasyarakatan, bahkan menyerang pribadi. Moderator perempuan Fox News bersikap kritis kepadanya karena sedang mendapat menstruasi. Lalu apa kata Trump: Orang bisa melihat darah keluar dari matanya, keluar dari manapun juga.

Kehadiran Trump memberikan tawaran baru untuk perubahan bagi sebagian warga AS. Sensasi dan semangat revolusi senantiasa dihembuskan olehnya. Kampanye Trump walau ugal-ugalan dianggap magnet yang membangkitkan nostalgia kejayaan AS. Mereka suka gayanya yang polos, mereka sudah jemu dan muak dengan kemunafikan politisi Washington termasuk Hillary.

Slogan Make America Great Again mampu disuarakan Trump dengan baik dan lantang. Slogan itu menciptakan dikotomi yang tegas dan jelas, jika disandingkan dengan slogan Hillary Clinton, yakni Stronger Together. Wajar jika awalnya orang meragukan kemampuan Trump, dari seorang bisnisman putar haluan untuk berkubang dalam kancah politik yang liat dan penuh intrik.

Sebagai bisnisman dan dikitari wanita cantik, maka ia banyak skandal yang biasanya bisa menghancurkan popularitas seorang kandidat, justru tidak berlaku buat Trump. Strategi Trump sangat provokatif, terbukti berhasil menjaring suara sebagian pemilih Republik. Dia ngomong seenak perutnya. Ia juga tidak ragu memanipulasi data jumlah imigran ilegal di AS dengan menyebut angka “30 juta,” padahal hasil penelitian hanya sepertiga dari jumlah tersebut.

Lihat saja gaya membabi buta ala Trump sepadan dengan penampilannya yang gaduh: Tingkat inteligensia saya termasuk tinggi dan kalian semua tahu itu! Tolong jangan merasa bodoh, itu bukan salah kalian.

Gaya ugal-ugalan Trump tidak selalu mendapat reaksi positif, bahkan dari dalam tubuh Partai Republik sekalipun. Trump menghadapi serangan bertubi-tubi di partainya sendiri. Bagi saya, puncak menantang Trump adalah pada konvensi Partai Repulik di Cleveland, Ohio 18-21 Juli 206, di mana dua mantan presiden dari Partai Republik yang masih hidup, bapak dan anak Bush tak mau hadir. Biasanya para mantan presiden datang dan menyatakan dukungan penuh pada calon pilihan partai. Tapi Trump sudah lekat dengan jurus: persetan dengan mereka, aku jalan terus!

Sesungguhnya politik bukan barang baru bagi Trump. Sudah pernah mencalonkan diri pada 2000 melalui Partai Reformasi (sebuah partai kecil di AS), lalu mundur. Dia juga pernah berencana maju untuk pemilihan Gubernur New York pada 2006 dan 2014. Trump juga hampir mencalonkan diri dalam pilpres AS pada 2012, tetapi akhirnya menarik diri.

Bila ditelusuri sebenarnya ideologi politiknya tidak pernah jelas. Trump tercatat telah berkali-kali gonta-ganti partai, mulai dari Demokrat (1987, 2001-2009), Republik (1987-1999, 2009-2011, 2012-sekarang), dan Reformasi (1999-2001).

Sulit diprediksi
Maklum saja seorang pebisnis kaya, tampaknya ideologi partai tidaklah penting baginya. Sikap pragmatisme, terlihat dari caranya menjalankan kampanye presiden dengan jurus-jurus aneh yang sulit diprediksi lawannya. Ada beberapa sikap “mabok” yang dicatat banyak orang seperti melarang umat Muslim datang ke AS dengan memberi tanda khusus. Mau mendeportasi 11 juta orang Hispanik yang tak punya dokumen lengkap.

Dia menghina imigran asal Meksiko. Mengusir wartawan keturunan Meksiko saat sesi wawancara sedang berlangsung. Jorge Ramos adalah pembawa acara terkenal untuk Univision, jaringan televisi hispanik terbesar di AS. Mencela wajah kandidat bakal capres Partai Republik Carly Fiorina saat debat kedua. Mengejek gaya rambut terbaru Hillary Clinton. Masih banyak lagi ocehannya yang dinilai kayak orang mabok.

Pada hakikatnya kemenangan Trump banyak memberikan pelajaran dan renungan bagi dunia. Kemenangannya sekaligus menjungkirbalikkan hasil sebagian lembaga survei top di AS yang telah puluhan tahun begitu dipercaya. Siapa yang tak tau kehebatan Gallu-up, ABC, CNN dan lainnya. Tapi akhirnya para jagoan survei itu harus menggaruk kepala yang tidak gatal. Sepanjang sejarah pilpres AS setelah Perang Dunia II, hasil lembaga survei selalu tak melenceng. Baru tahun ini, lembaga itu harus gigit jari.

Taka ada yang salah dari lembaga survei itu. Yang salah adalah para pemilih yang tersembunyi yang datang ke kotak pemungutan suara di luar jumlah yang diperkirakan para jagoan survei. Trump sebagai orang kaya yang playboy memang banyak bergelimang skandal. Semua memberikan kesan bahwa Trump tak layak menjadi presiden AS. Dia bahkan dianggap sebagai public enemy. Bukan hanya oleh sebagian warga AS, tapi juga masyarakat dunia.

Hanya satu hal yang mungkin kita lupa, Trump adalah pebisnis, dan pemain watak televisi, bukan politikus. Dia tak mau tampil dengan citra orang suci. Karena di masa muda Trump terkenal sebagai “lelaki gatal”, uangnya segerobak, mata wanita mana tak sirna dengan pesonanya, ganteng, muda dan kaya. Ini juga membuatnya bisa menggaet Melania (46) isterinya yang sekarang, mantan model seksi majalah dewasa kelahiran Slovenia.

Melania beberapa kali muncul di sampul majalah Harper Bazaar, Vanity Fair, dan pernah tampil polos di majalah Inggris GQ. Dia bisa berbicara dalam lima bahasa, Slovenia, Serbia, Inggris, Prancis dan Jerman. Kini sebagai first lady AS, baju bikininya yang dulu, sudah disembunyikan di kolong tempat tidur.

Meski ditentang tapi tak ada yang salah pada Trumph, dia sudah memenangi perlombaan menuju Gedung Putih secara fair dan pengakuan Hillary hanya beberapa jam setelah kotak suara ditutup, adalah bukti pertarungan sudah selesai. Ada protes pada Trump, ternyata ketidakdewasaan berdemokrasi juga masih terselip pada rakyat negara adidaya, yang mengaku negara paling demokratis di dunia itu. Kini, setelah sukses dengan jurus “dewa mabok”-nya, Donald Trump adalah fenomena baru dalam drama politik Washington.

Said Mursal, wartawan senior di Banda Aceh. Email: saidmursal22@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved