Debit Krueng Aceh Menyusut
Kemarau panjang yang melanda wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dalam beberapa bulan terakhir
* Kolam Mata Ie Kering
BANDA ACEH - Kemarau panjang yang melanda wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dalam beberapa bulan terakhir, menyebabkan debit air di Krueng Aceh menyusut. Akibatnya stok air di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy dan Tirta Mountala berkurang.
Hal itu diungkapkan Direktur PDAM Tirta Daroy, T Novizal Aiyub, dan Direktur PDAM Tirta Mountala, Ahmad Riyaz SEAk, kepada Serambi, Minggu (23/7). “Kondisi sekarang sangat riskan. Kekeringan akibat kemarau dan kerusakan alam,” ujar Novizal Aiyub.
Menurut pria yang biasa disapa Ampon Yub itu, kerusakan alam terjadi akibat maraknya penebangan pohon, galian C, dan aktifitas tambang lainnya. Dia berharap persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab PDAM, tetapi juga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Sungai, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta instansi terkait lainnya. “Kita harus cari solusinya bersama. Kekeringan ini sudah di depan mata,” tandasnya.
Dia mencontohkan, kekeringan yang terjadi di Mata Ie sangat mengejutkan banyak pihak termasuk dirinya. “Selama 20 tahun di Aceh Besar, saya tidak pernah melihat kondisi separah ini,” akunya.
Untuk mengatasi persoalan seperti ini, Ampon Yub menyarankan agar pemerintah membangun bendungan di hulu Krueng Aceh, agar persediaan air dapat terjaga.
Tak hanya Krueng Aceh, kekeringan juga melanda Water Treatment Plant (WTP) Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah, milik PDAM Tirta Mountala. WTP yang merupakan sumber air bersih untuk melayani sebelas ribu pelanggan yang ada di Kecamatan Darul Imarah mengalami penyusutan hingga 50 persen.
Di waktu normal, debit air di WTP ini mencapai 150 liter per detik. Namun kali ini WTP Mata Ie hanya mampu menyuplai 75-80 liter perdetiknya. Keringnya sumber air di Mata Ie juga menyebabkan kolam pemandian yang selama ini banyak digunakan warga, menjadi kering kerontang.
Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali, bersama Sekda Drs Iskandar MSi dan Dirut PDAM Tirta Montala Ahmad Riyaz, kemarin, meninjau langsung WTP dan kolam pemandian Mata Ie. Hasil penelusuran Pemkab Aceh Besar, terjadi pengurangan debit air hingga 50 persen.
Direktur PDAM Tirta Mountala, Ahmad Riyaz, mengatakan, terjadinya kekeringan ini membuat mereka hanya memungsikan dua WTP untuk menyalurkan air bersih ke rumah-rumah penduduk di kawasan Gue Gajah dan Ajun.
Amatan Serambi di dua kolam pemandian di Mata Ie, seluruhnya kering kerontang. Yanga tersisa hanya genangan kecil saja.
Puluhan pengunjung yang datang untuk berenang di kolam tersebut terpaksa pulang karena kolam kering. Murni, seorang pedagang minuman di objek pemandian itu mengaku, kekeringan telah berlangsung sejak dua bulan terakhir.
Kekeringan juga berdampak buruk bagi puluhan hektare sawah di kawasan Gampong Cot Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bahkan sebagian padi terpaksa dipanen lebih awal untuk menghindari kerugian lebih besar.
“Sebagian tanaman padi sudah ada yang mati, sebagian lagi langsung dipotong untuk dijual jadi makanan sapi,” kata Tajuddin, tokoh masyarakat setempat.
Sementara menuru Ridwan Ibrahim, petani Cot Cut, sisa waktu yang dimiliki para petani untuk bisa memanen padi tinggal dua minggu lagi. “Apabila dalam dua minggu ini tidak turun hujan, habis lah sudah. Semuanya terpaksa dipotong untuk makanan sapi,” keluhnya.
Wakil Ketua DPRK Aceh Besar, Zulfikar SH, turun ke Gampong Cot Cut untuk melihat langsung tanaman padi masyarakat yang dilanda kekeringan. Saluran irigasi yang airnya bersumber dari Waduk Keuliling juga kering kerontang.
Melihat kondisi itu, Zulfikar mengaku prihatin dan akan mengusulkan program pengairan yang bersumber dari Krueng Aceh. “Kita bisa tarik air dari Krueng Aceh untuk mengairi sawah-sawah di sini. Air yang ditarik adalah air yang di atas bendungan, yang belum tercampur dengan air laut. Saya akan perjuangkan ini,” ucapnya.
Namun, dia tambahkan, upaya menarik air dari Krueng Aceh itu merupakan solusi jangka panjang. Untuk solusi jangka pendek, ia meminta dinas teknis terkait dalam hal ini Dinas Pertanian Aceh Besar agar ikut memikirkannya.
Sementara itu, Kepala BPP Cot Cut, Fahrizal, menyebut, total luas areal sawah di daerahnya sekitar 85 hektare, terdiri dari 65 hektare sawah irigasi dan 20 hektare sawah tadah hujan. “Saluran irigasi sudah lama kering. Harus ada solusi dalam dua minggu ini,” harapnya.
Kasi Data dan Informasi (Datin) BMKG Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Zakaria SE, yang dihubungi Serambi, Minggu (23/7), menjelaskan, musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Agustus 2017. Meski demikian selama musim panas ini, hujan tetap akan turun, hanya saja ungkap Zakaria, intensitasnya kecil dan tidak terjadi terus menerus. “Kalau dari tinjauan cuaca, musim kemarau akan berakhir hingga penghujung Agustus,” ungkapnya.
Ketika disinggung kondisi air di Mata Ie yang mengering, Zakaria menyatakan, itu fenomena lumrah di musim kemarau. “Mungkin dulu di sekitar sumber mata air banyak perpohonan. Sekarang kondisinya tandus akibat tingginya aktivitas penebangan liar. Itu menjadi salah satu penyebab.” (fit/yos/mir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kolam-mata-ie-yang-merupakan-objek-wisata_20170724_085123.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/antara-tanaman-padi-yang-terpaksa-dipotong_20170724_085202.jpg)