Selasa, 21 April 2026

Opini

Mewujudkan ‘Aceh Carong’ Melalui Kegiatan Literasi

PROGRAM Indonesia Pintar (PIP), Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dan Gerakan Literasi Nasional (GLN)

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/JAMALUDDIN
PENGELOLA Perpustakaan Gampong Paya Tumpi Baru, Kasirin (tengah), foto bersama Assiten III Setda Aceh, Kamaruddin Andalah, Ketua Komisi V DPRA, Mohd Al-Fatah, serta Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Zulkifli (kanan), Jumat (15/9/2017). 

Oleh Azwardi

PROGRAM Indonesia Pintar (PIP), Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dan Gerakan Literasi Nasional (GLN), antara lain, merupakan agenda unggulan pemerintah terkait dengan pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Terkait dengan GLN, ungkapan berikut patut terus didengungkan: “Membacalah agar kamu mengenal dunia, dan menulislah supaya engkau dikenal dunia”. Ungkapan tersebut cukup beralasan untuk memotivasi kita belajar, menuntut ilmu, atau menggali ilmu pengetahuan dalam rangka memudahkan hidup kita di dunia, dan tentunya sebagai jalan mengumpulkan bekal untuk kebahagiaan hidup yang abadi di akhirat kelak.

Berkaitan dengan hal tersebut, ungkapan al-‘ilmu fil kitab (ilmu ada di dalam kitab/buku) dan “buku merupakan gudang ilmu, membaca adalah kuncinya” merupakan petunjuk khusus bagi kita bahwa ilmu itu ada di dalam kitab atau buku, dan untuk menjadi ilmu dan pengetahuan bagi kita, kita harus membacanya, tentunya di bawah bimbingan guru. Itulah sebabnya, wahyu pertama dan utama Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw berisi perintah membaca, yaitu iqra’ (bacalah). Perintah membaca tentunya harus dipahami juga dengan seruan untuk menulis. Akan tetapi, kenyataan akhir-akhir ini, minat tonton, main (game), chatting, hunting, dan posting buat seru-seruan dan kesenangan yang semu, telah menenggelamkan cukup dalam minat baca dan tulis demi ilmu dan pengetahuan.

Pada 2012, PISA (Programme for International Students Assessment) pernah merilis hasil penelitian yang menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Akhir 2016, dari 72 negara yang dinilai, PISA juga melansir bahwa perkembangan indeks literasi membaca bangsa Indonesia sangat lambat, hanya naik satu poin; 396 pada 2012 dan 397 pada 2015. Hal senada disampaikan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud, Harris Iskandar, bahwa minat membaca anak-anak usia sekolah di Indonesia sangat rendah.

Menurut survei BPS, 90,27 persen anak usia sekolah suka menonton televisi, sedangkan hanya 18,94 persen yang suka membaca. Selain itu, hasil penelitian terkait juga menunjukkan bahwa indeks membaca masyarakat Indonesia 0,001. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia hanya satu yang suka membaca. Kecuali itu, daya baca yang dimiliki anak Indonesia juga terbatas pada kemampuan baca paling dasar, sekadar memahami teks tunggal berbasis kertas, bukan teks-teks kompleks atau teks multimedia berbasis komputer. Hal tersebut sangat tidak sinkron dengan tingkat melek huruf yang sudah tinggi, yaitu mencapai sekitar 96,3 persen.

Untuk itu, Kemdikbud bersama Balai Pustaka bekerja sama dengan BUMN dan pihak swasta membuat beberapa kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat, antara lain dengan cara membangun taman-taman bacaan di seluruh Nusantara, seperti Taman Bacaan Sekolah (TBS), Taman Bacaan Masyarakat (TBM,) Taman Bacaan Keliling (TBK), dan Taman Bacaan Digital (TBD), dan mendistribusikan buku. Bahkan, kondisi miris tersebut telah mendorong Kemdikbud menggagas GLN, dan menerbitkan UU No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. (Liputan6.com).

Program prioritas
Alhamdulillah, Pemerintah Aceh yang baru telah merespons dengan cepat dan tepat program-program strategis pemerintah di bidang pendidikan dan kebudayaan tersebut dengan menempatkan pendidikan sebagai satu program prioritas demi mencerdaskan bangsa. Terkait dengan hal itu, Gubernur Aceh Drh Irwandi Yusuf MSc, di awal kepemimpinannya telah mencanangkan program Aceh Carong dan Pendidikan Berkarakter Islami. Kedua program ini memfokuskan sasaran pada pemerataan pendidikan, penyiapan SDM, peningkatan kualitas, dan pemerataan penempatan guru di Aceh. Dengan demikian, dampak kebijakan publik tersebut generasi Aceh diharapkan mempunyai akhlak mulia dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, berilmu, kreatif, dan mandiri.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, antara lain, Pemerintah Aceh perlu mensinergikan pencanangan program Aceh Carong dan Pendidikan Berkarakter Islami tersebut dengan GLN yang kini sedang digalakkan Pemerintah. Dengan membangun gerakan literasi akan dapat memantik minat atau tradisi baca, tulis, amalkan, dan sebarkan di Aceh. Wujud perhatian Pemerintah Aceh dalam hal ini adalah penyediaan alokasi dana yang memadai untuk kegiatan penyediaan bahan bacaan, khususnya yang berkaitan dengan kearifan lokal sebagai satu komponen literasi demi mencerdaskan masyarakat, khususnya generasi muda di Aceh.

Terkait dengan hal tersebut, beberapa waktu lalu Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Zulkifli M Ali S.Pd M.Pd., mengajak seluruh pustakawan dan arsiparis kabupaten/kota yang ada di Aceh untuk bersama-sama menggalakkan gerakan budaya membaca dalam semua lini kehidupan. “Melalui gerakan membaca, kita wujudkan visi dan misi Gubernur Aceh, menuju Aceh Carong,” katanya saat membuka Rakornis Perpustakaan dan Kearsipan, di Bireuen (Kamis, 7 September 2017).

Keterampilan literasi boleh dikatakan serupa dengan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam performansi kebahasaan. Di sekolah-sekolah, empat keterampilan tersebut akan berkembang dengan baik melalui pembiasaan, khususnya pembiasaan membaca dan menulis. Keterampilan literasi bagi siswa sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi akademiknya. Semakin baik kegiatan literasi siswa akan semakin baik pula pencapaian prestasi akademiknya. Oleh karena itu, membangun pendidikan tidak boleh luput dari menggalakkan literasi. Untuk mewujudkan keterampilan literasi tersebut, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) perlu dicanangkan di mana-mana.

GLS adalah kegiatan membaca 15 menit sebelum proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, manfaatnya antara lain: (1) dapat menstimulasi mental, (2) dapat mengurangi stres, (3) dapat menambah wawasan dan pengetahuan, (4) dapat menambah kosakata, (5) dapat meningkatkan kualitas memori, (6) dapat melatih keterampilan berpikir dan menganalisis, (7) dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi, (8) dapat melatih menulis dengan baik, (9) dapat memperluas pemikiran, (10) dapat meningkatkan hubungan social, (11) dapat membantu mencegah penurunan fungsi kognitif, (12) dapat meningkatkan empati seseorang, (13) dapat mendorong tujuan hidup, (14) dapat membantu terhubung dengan dunia luar, dan (15) dapat lebih berhemat.

GLS harus didukung oleh tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti tersedianya perpustakaan kelas atau pojok-pojok baca. Masing-masing siswa membaca satu judul buku yang berbeda. Jika satu kelas terdiri atas tiga puluh siswa, di pojok kelas tersedia 30 judul buku yang berbeda. Siswa dapat bergantian membaca buku yang berbeda. Namun, jika keberadaan perpustakaan kelas dianggap terlalu membebani, dapat dilakukan dengan membaca di perpustakaan online. Bila siswa sudah memiliki kebiasaan membaca, lambat laun kebiasaan itu menjadi kebutuhan, dan kegiatan menulis juga akan menyusul.

Menuju kejayaan literasi
Pemerintah telah telah membuka jalan baik yang dapat ditempuh dalam rangka menuju kejayaan literasi. Legalitas jalan tersebut dilakukan melalui suatu regulasi yang potensial terjamin akan sampai pada tujuan. Regulasi tersebut adalah Permendikbud No.23 Tahun 2015 tentang Gerakan Literasi Sekolah, yang bertujuan memperkuat Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti (GPBP) yang telah diluncurkan sebelumnya. Tujuan umum GLS adalah menumbuhkan minat baca dan kerampilan membaca. Untuk itu, baik guru maupun murid, sebelum memulai pembelajaran, sama-sama membaca terlebih dulu selama 15 menit.

Materi bacaannya seputar nilai-nilai budi pekerti berupa kearifan lokal, nasional, dan global melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Selanjutnya, tujuan khusus GLS: (1) menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, (3) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Kini, dengan disahkan dan terbitnya UU No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, GLN telah memiliki regulasi yang kuat untuk bergerak, maju, dan terbang setingi-tinginya. Maka, jadilah pembaca dan penulis yang cerdas, pencerah masa depan yang mampu menyelami imaji dengan cara menyiasati konten antara teks dan konteks. Demikian inti wejangan Mendikbud, Prof Dr Muhadjir Efendi MAP pada saat Pembukaan Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi, pada 5 Oktober 2017 di Jakarta. Jaya terus literasi Indonesia demi mencerdaskan anak bangsa! Mari membaca membaca membaca, dan menulis lagi! Aceh carong nanggroe meugiwang.

* Azwardi, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. E-Mail azwardani@yahoo.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved