Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Malahayati Jaman Now

PENGANUGERAHAN gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Malahayati oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Tayang:
Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati 

Padahal perdebatan soal pemimpin perempuan di Aceh sudah selesai beberapa abad silam. Ketika masa Sultanah Safiatuddin memimpin Aceh, di masa itu juga ada seorang ulama yang tak diragukan lagi keilmuannya di bidang agama baik di tingkat nasional maupun internasional yaitu Abdul Rauf As-Singkily atau dikenal sebagai Syiah Kuala yang kini namanya ditabalkan pada sebuah universitas jantong hate rakyat Aceh.

Dalam satu mukadimahnya menjelaskan, Abdur-Rauf As-Singkily menjunjung tinggi titah sultanah untuk mengarang kitab-kitab fiqh dan sebagainya. Ia juga tak lupa mengutip ayat-ayat Quran yang menjelaskan tentang menaati Allah, Rasul dan ulil amri (pemimpin). Walaupun wanita yang menjadi ulil amri, maka tetap wajib ditaati dan Abdul Rauf As-Singkily sendiri menaatinya.

Memang masalahnya tidak sederhana. Seorang raja dalam pengertian sekarang adalah seorang eksekutif, namun ia bukan penguasa mutlak, karena di di atasnya ada badan legistatif yang sudah dibentuk masa Sultan Iskandar Muda. Badan ini terus berfungsi hingga masa Tajul Alam. (Aceh Sepanjang Abad, Muhammad Said, jilid 1).

Harus didukung
Nah, selayaknya perempuan-perempuan yang mau bangkit untuk lebih maju harus didukung, bukan dipatahkan semangat mereka dengan kepentingan-kepentingan politik. Penulis melihat ada beberapa perempuan yang mencoba berpikir lebih maju dan berbuat mulia.

Seperti Ratna Eliza dengan komunitasnya yang concern membantu bocah-bocah penderita penyakit tumor dan kanker. Pemerintah perlu memberi penghargaan kepada mereka yang telah mengulurkan tangan menolong anak-anak bangsa.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan, bahwa Aceh masih memiliki kesempatan untuk melahirkan Malahayati-Malahayati jaman now yang modern. Malahayati yang berjiwa tegar dalam menuntut ilmu, Malahayati yang berjuang demi agama dan bangsa, Malahayati yang mengajak kepada amar makruf nahi munkar, serta Malahayati yang tahu diri dan tahu siapa moyang mereka yang gagah perkasa seperti Cut Nyak Dhien (1848-1908), Cut Meutia (1870-1910) dan “singa-singa” medan perang lainnya.

Itu semua kembali kepada kita, khususnya orang tua dalam mendidik kids jaman now istilah bahasa anak gaul sekarang. Belajarlah pada ayahnya Salahuddin Al-Ayyubi dalam mendidik Salahuddin hingga menjadi sang penakluk konstantinopel. Semasa kecil Saluhuddin sempat jatuh terjerembab ke tanah, ia pun menangis dengan sekeras-kerasnya. Lalu, ayahnya berkata, “Wahai pejuang, mengapa kamu menangis? Ayo bangun, bangkit, kamu seorang pejuang, bangun nak!”.

Hayatullah Pasee, peminat isu sosial politik, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), mahasiswa magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: hayatullahjurnalis@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved