Jumat, 24 April 2026

Muntah Ikan Paus Harganya Selangit, Ini Yang Dikhawatirkan Peneliti

Ambergris memang tidak membahayakan bagi paus, tetapi perdagangannya telah dilarang di beberapa negara, seperti Amerika Serikat.

SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Tim dokter dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala melakukan autopsi bangkai paus yang mati di bibir pantai Ujong Kareueng, Durung, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Selasa (14/11/2017). 

Hubungan temuan ambergris dan paus sperma di Aceh

Meski disebut dengan muntahan paus, ambergris tidak dikeluarkan melalui mulut, melainkan dari anus paus. Dengan kata lain, ambergris sendiri adalah hasil sekresi dari saluran pencernaan dari paus.

(Baca: Heboh Ikan Paus Terdampar, Apakah Bangkai Hewan Laut Halal Dimakan? Ini Dalilnya)

Sekar juga menjelaskan bahwa yang terkenal menghasilkan ambergris adalah paus sperma.

Untuk dugaan apakah ambergris yang ditemukan di Bengkulu terkait dengan terdamparnya paus sperma di Aceh, Sekar tidak bisa memastikannya.

"Ambergris kan kayak byproduct di pencernaan, jadi sewaktu-waktu akan dikeluarkan. Untuk durasi atau rentang waktu paus sperma mengeluarkan ambergris ini belum ada catatannya hingga saat ini," kata Sekar.

(Baca: BREAKING NEWS - 10 Ekor Paus Terdampar di Pantai Ujong Kareung Aceh Besar, Ini Foto-fotonya!)

Pada awalnya, ambergris akan mengeluarkan bau busuk. Namun, setelah beberapa waktu, benda ini akan berubah menjadi wangi.

Perubahan bau tersebut dikarenakan (senyawa) nutrisi yang tersimpan dalam muntahan paus itu. Untuk berubah menjadi wangi, biasanya dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga ambergris mengapung di laut.

Kaya mendadak

Sebelumnya, di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, seorang nelayan bernama Sukadi, pada 2 November 2017 menemukan 200 kg benda mengapung di tengah Samudra Hindia yang diduga muntahan (ambergris) ikan paus.

“Awalnya, saya sedang melaut bersama empat rekan. Tepatnya antara Pulau Dua dan Pulau Enggano saya melihat benda asing berserak di tengah laut,” kata Sukadi, sebagaimana dilansir Kompas.com edisi Senin (13/11/2017).

Sukadi menjelaskan, awalnya ia tidak tahu kalau benda yang mengapung itu adalah muntahan paus. Sukadi mengira benda yang bertebaran itu adalah limbah.

“Saya cek GPS, saya kira itu limbah, lalu saya pungut dengan harapan membersihkan laut dari limbah,” katanya.

Saat benda tersebut ia kumpulkan di perahu lalu dibawa ke darat, barulah diketahui jika itu adalah muntahan paus.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved