Breaking News:

Cerpen

Rendezvous

SENJA basah, petang hari yang diterpa gerimis. Udara dingin. Hawa dingin mulai menyelinap ke dalam tubuh

Editor: bakri

“Coba kalau anakmu ada yang perempuan, kita bisa berbesan,” candanya. “Ini kok sama semua. Tak bisa memperpanjang tali silaturahmi, kata orang tua.”
Aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal sembari tersenyum.
“Putraku yang tertua di Jepang,” ujarnya. “Yang nomor dua di SMA dan yang bontot SMP. Aku pun baru minggu lalu dari Jepang.”
“Orang kaya sih sekolahnya di luar negeri,” candaku.
“Bukan,” ucapnya, “ia memperoleh beasiswa dari Japan Foundation. Ia belajar di Hokkaido University, Jepang. Pintar dia. Beda sama Maknya.”

Aku pun tersenyum. Aku tahu, ia merendah. Dulu di SMA ia juara umum; ia di Jurusan Fisika, sedangkan aku harus puas hanya masuk sepuluh besar di kelasku di Ilmu Budaya. Hingga sekarang pun pekerjaanku tidak pernah jauh dari urusan bahasa dan sastra. “Anakku yang tertua sudah lulus kuliah. Dari Unpad, Bandung. Delapan semester pas. Cum laude dia,” ujarku.

“Dari dulu engkau selalu mengidolakan Unpad,” katanya, “aku pun tak heran kalau putramu engkau kuliahkan di sana.”
Aku tersenyum.
“Pintar benar anakmu, ya.”
“Anak siapa dulu….”
“Sombong!”

Kami pun tertawa lepas.
Aku terus menatapnya yang lurus memandang ke depan jalan. Kecantikannya yang bagai pinang dibelah dua dengan Katrina Kaif-aktris beken Bollywood, India-masih kentara membekas. Dulu wajah ini sering tanpa sadar muncul dalam benakku. Sejujurnya, aku malu mengakuinya. Masa lalu yang penuh kenangan. Engkau tak jua pernah berubah terhadapku: masih juga ramah, penuh canda, gembira, dan selalu menerimaku penuh akrab, seperti tatkala kita masih bersama. Aku sama sekali tak menangkap kesan engkau sengaja menghindar dariku, apalagi sombong. Tidak, engkau masih benar-benar seperti dulu. Diam-diam dari lubuk hatiku, aku merasa iri terhadap suamimu, yang berhasil menjadikanmu menjadi permaisurinya. Kuakui, engkau sejak dulu tidak mudah ditaklukkan. Aku gagal menaklukkanmu. Aku membatin.

Hujan kian lebat. Macet di jalan kian parah. Bunyi-bunyi klakson semakin berisik. Masing-masing ingin lebih cepat di jalan yang macet itu.

Besar benar jasa Mark Elliot Zuckerberg—anak muda brilian dari Universitas Harvard, kelahiran Amerika 14 Mei 1984, dan salah satu penggagas serta pemilik Facebook (FB) itu. Melalui FB itu juga aku memperoleh informasi tentang teman-teman lamaku masa bersekolah di kampungku, termasuk dirinya. Bertahun-tahun sudah kehilangan kontak dengan teman-teman. Di sanalah aku melihat betapa banyak temanku yang telah sukses dalam berkarier, baik di kampungku maupun di rantau orang.

“Aku agak terkejut ketika engkau menghubungiku,” ujarnya tiba-tiba. Suaranya terdengar agak keras beradu dengan berisiknya suara hujan dan bunyi-bunyi klakson mobil dan motor. “Semula aku tak mau mengangkat telepon karena mengira orang iseng. Tetapi, karena masuk beberapa kali telepon, akhirnya aku angkat juga,” lanjutnya. Aku hanya diam.

“Aku beberapa kali diteror orang via telepon,” katanya, tanpa kuminta, “engkau pernah?”

Aku menggeleng. “Orang hebat sih,” candaku.

Ia tersenyum-senyum saja. Untuk suatu keperluan dinas aku harus ke Jakarta. Melalui telepon di seberang ia mengatakan bahwa jika aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, ia akan menemuiku dan mengantarku ke Lapangan Monumen Nasional (Monas), salah satu tempat DAMRI menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soeta) berada di Ibu Kota Jakarta.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved