Breaking News:

Cerpen

Rendezvous

SENJA basah, petang hari yang diterpa gerimis. Udara dingin. Hawa dingin mulai menyelinap ke dalam tubuh

Editor: bakri

Kuberi tahu dia bahwa dulu ketika SMA aku naksir berat padanya. Kemudian, ia terkikik-kikik.
“Engkau sejak dulu rajin salat, “katanya. “Salatku ketika itu kacau balau.”
Aku diam saja mendengar pujiannya. Cuping hidungku agak naik sedikit karena pujian mantan idola.
“Jadi, aku merasa senang punya fan seorang ustaz.”
Aku jadi tidak tahan menahan tawa. Tawaku pun pecah.
“Mengapa engkau malas membalas surat-suratku,” tegasku kemudian.
Ia hanya tersenyum-senyum sembari memainkan matanya jenaka ke arahku, tetapi kemudian ia berkata, “Gayamu ketika itu kampungan sekali….”
Aku tersenyum-senyum dan garuk-garuk kepala.
“Ya, ‘kan?” desaknya. “Celanamu pun setengah tiang, menggantung di atas sepatu. Banjir juga tidak. Pakai kaca mata tebal pula.”

Aku hanya mampu nyengir kuda mendengar kisah masa laluku diungkit orang yang dulu pernah kudamba, bertepuk sebelah tangan tetapi. Tidak mungkin aku marah di depan pengusaha hebat ini. Lagi pula, ia tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa marah dengannya, sejak dulu.

“Kamu itu kebanyakan baca novel sih dulu, ya. Tenggelamnya Kapal van der Wijck Buya HAMKA atau Atheis Achdiat Kartamihardja atau Pada Sebuah Kapal Nh. Dini engkau lalap bagai makan pisang goreng. Bagaimana mata tidak minus,” katanya lagi. Sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum-senyum mendengar candanya. Ia memang banyak hapal judul novel atau roman karena dulu jika aku membaca suatu novel, hampir bisa dipastikan ia akan meminjamnya setelah kubaca. Rupanya ia masih mengingatnya.

“Masih sering baca novel juga sekarang?” tanyanya.

“Masih,” jawabku, “makin parah bahkan. Aku membaca Ernest Hemingway, William Faulkner, William Saroyan. Sekarang aku sedang kepincut sastrawan Orhan Pamuk.”

“Pemenang nobel sastra dari Turki itu, ya?”

“Ya jawabku. Sekarang aku sedang membaca The Kite Runner karya pengarang kelas dunia dokter dari Afganistan, Khaled Hosseini.”

“Ya aku tahu, The Kite Runner sudah difilmkan. Aku sudah nonton.”

“Engkau apa masih baca novel juga?”

“Sesekali. Tetapi, aku sudah khatam tetralogi novel Laskar Pelangi. Karya Asma Nadia juga pernah kubaca. Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta. Ahmad Fuadi juga. Negeri 5 Menara.”

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved